Minggu, 27 November 2016

Sehari Jumat dengan Kisah Beragam



Hari ini aku mengalami banyak kisah karena mengunjungi tempat yang berbeda. Yang pertama, menemani Pak James (bukan nama sebenarnya) bertemu dengan ketua prodi disalah satu fakultas di kampusku.  Kenapa saya bisa bertemu pak James? Ini karena Henni meWA saya dan berkata bahwa ada dosen dari Amrik yang ingin bertemu dan mewawancara. Jadi, jadilah saya bertemu pak James dan ngobrol banyak. Akhirnya di ujung pembicaraan dia bilang bahwa dia ingin membawa mahasiswanya untuk berkunjung ke Aceh. Aku menyarankan ia bertemu dengan ketua jurusan salah satu prodidikampusku karena aku juga mengajar di fakultas tersebut. 

Maka aku sms sibapak ketua jurusan, minta waktu untuk bertemu beliau. Ia setuju untuk ketemu aku di sore hari, pas di jam aku akan mengaja. Ketika ketemu beliau, aku sampaikan “Pak, tadi saya ketemu dosen dari Santa Clara University,California. Ia ingin membawa mahasiswa untuk belajar agama di Aceh. Jadi, saya usulkan untuk bertemu dengan bapak, mungkin bisa menjembatani kegiatan ini bisa berlangsung di Aceh. Dari pembicaraan kami kemarin, sepertinya ia ingin melakukan persis sama dengan apa yang saya lakukan sehingga saya berkasus dulu itu. Tapi kan tidak bisa lagi saya bawa dari Fakultas Dakwah. Mumpung saya juga mengajar di jurusan bapak, saya bilang mending ketemu dengan bapak saja untuk membicarakan lebih lanjut”. Beliau tertegun, langsung katanya “oh bisa”. 

Saya usulkan untuk ketemu di Jum’at sore. Tapi Pak Kajur meminta untuk ketemu di hari Minggu. Aku bilang, Senin dia sudah kembali ke Amerika. Akhirnya pak kajur minta untuk ketemu Jum’at pagi saja, karena Jum’at sore ia harus bertemu dengan Asesor. 

Jum’at pagi jam 10.30, Pak James dan Pak Edi (driver) ke kampus. Aku sudah menunggu disitu dan menelpon pak Kajur mengabarkan kami telah di fakultas. Pak Kajur membawa kami ke ruangan pertemuan Dekan yang sangat besar, yang isinya hanya pak Kajur, Pak James, Pak Edi dan saya (ruangan pak Kajur tidak bisa di pakai karena penuh dengan buku-buku untuk bahan pemeriksaan Asesor). 

Pak James memperkenalkan diri ke Pak Kajur, siapa dia dan tinggal dimana. Tapi sama sekali tidak menyebutkan untuk apa dia datang ke Aceh. Aku udah khawatir, jangan-jangan pak Kajur berfikir “oh..ini orang hanya untuk mengadakan penelitian saja”. 

Namun, secara personal, saya banyak mendapat informasi dari  Pak Kajur dan Pak James tentang bagaimana situasi keislaman orang-orang saat ini. Misalnya; pak James berkata bahwa tadi malam adalah malam thanks Giving, acara yang diperingati masyarakat Amerika. Di Banda Aceh ini, pak James merayakan acara tersebut dengan makan malam bersama beberapa orang Amerika yang tinggal di Banda Aceh; entah karena bekerja, entah karena menikah dengan orang Aceh. Dipertemuan itu Pak James mendengarkan cerita dari salah seorang Amerika yang mengajar bahasa Inggris di salah satu kursus di Banda Aceh. Ketika ia menawarkan  minuman botol kepada muridnya, murid-murid itu tidak mau minum karena mereka takut kalau air itu sudah dirapali sehingga ayat-ayat yang sudah mereka hafal akan hilang. 

Saya betul-betul terperangah mendengar cerita pak James.

Menurut pak Kajur, cerita itu bisa difahami, karena anak-anak di Aceh, khususnya di Banda Aceh, banyak yang masuk kesekolah-sekolah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), sekolah yang menyatukan system secular dan agama. Murid-murid ini diharuskan menghafal Alqur’an, sehingga karena anak-anak itu sudah menghafal Alqur’an mereka takut air yang sudah ‘disihir’ itu akan menghilangkan hafalan mereka. 

Saya menambahkan bahwa saya mendapat cerita yang hampir sama. Seorang laki2 Amerika yang menikah dengan seorang perempuan Aceh mempunyai anak laki-laki yang sekolah di sekolah SDIT itu. Ketika seorang Amerika yang lain datang bertamu kerumahnya, ia bertanya “what is your name?”, si tamu berkatanya “……”, si anak bertanya lagi “what is your religion?”, si tamu bilang “I am Christian”, si anak menjawab spontan “ you’re going to hell”. 

Mendengar cerita yang disampaikan oleh teman saya ketika itu, saya betul-betul kaget sampai tidak tau harus bicara apa.

(lagi-lagi) Pak Kajur bilang, ini bukan sesuatu yang patut diherankan. Murid-murid itu yang bersekolah di SDIT adalah anak-anak yang dididik oleh guru-guru yang berafiliasi pada partai politik PKS dan organisasi massa HTI, sehingga cara berfikir guru yang begitu ultra konservatif tersebut diteruskan kepada murid-murid itu. Dua contoh tadi merupakan hasil dari pendidikan yang didapat oleh murid-murid di sekolah yang label agama. Saya kira, SDIT itu adalah sekolah versi modern madrasah. Di Aceh sekarang, bagi orang tua yang kurang mampu, mereka akan memasukkan anak mereka ke madrasah (MIN, MTsN atau MAN, meski di Banda Aceh sudah ada MTs model dan MAN model). Tapi bagi orang tua kaya mereka akan memasukkan anak-anak mereka ke SDIT karena menganggap anak-anak mereka akan dibekali dengan ilmu agama yang memadai disana ketimbang di sekolah SDN.

Usai bertemu dengan pak Kajur, kami lanjutkan mengunjungi anak-anak Kristen yang sekolah alkitab. Kegiatan ini dibuat setiap jumat dari jam 12-2 siang. Anak-anak ini adalah mereka yang sekolah di sekolah umum dan tidak mendapatkan pelajaran agama. Karenanya, ada inisiative untuk memberikan anak-anak ini pelajaran dari al kitab sehingga nanti ketika semester selesai mereka bisa memberikan nilai tersebut kepada gurunya. Ketika kami sampai keruangan dimana proses belajar mengajar tadi diadakan, ada sekitar 12 siswa setingkat smp dan 6 anak setingkat SD yangs sedang belajar diruangan tadi. Ruangan kecil itu tidak mempunyai bangku untuk belajar, jadi anak-anak itu duduk dilantai yang beralas karpet tipis dan membaca alkitab, ditemani oleh seorang guru. Anak-anak itu duduk terpisah. Disebelah kanan saya anak laki-laki dan disebelah kiri saya anak perempuan.   Ketika pulang anak-anak itu menyalami saya dan beberapa tamu yang ada. Menyalami lalu meletakkan tangan kami kekening mereka, persis seperti anak-anak muslim melakkukan salam pada orang yang lebih tua. Saya Tanya pada teman Kristen yang ikut diacara itu, apakah memang anak-anak ini melakukan salam seperti anak-anak muslim? Katanya salam yang seperti itu hanya untuk orang tua saja. Tapi kini mereka lakukan juga pada orang lain yang dianggap dihormati dan dituakan.  


Ketika memasuki ruangan itu, seorang siswi berseru, terkejut. Dia melihat saya lama.
Saya diminta memperkenalkan diri, begitu juga pak James. Ketika tiba waktu untuk bertanya, si anak perempuan yang tadi berseru kaget, bertanya. Sebelum bertanya dia bilang “bu..maaf ya kalau pertanyaannya ga sopan”. Waaah..anak SMP, tapi ngomongnya sopan sekali. Saya langsung bilang “oh gapapa…saya ga akan tersinggung”. Katanya” apakah ibu muslim?”. Saya bilang “iya..saya muslim”. Katanya “tadi saya kaget lihat ibu pake jilbab, koq mau masuk ke sini”. Saya bilang “apa salahnya masuk kesini? Kan saya tidak mau menceramahi kalian’ sambil cengengesan. “Bagaimana kita bisa saling kenal dan menjadi teman kalau tidak saling mengunjungi? Saya ingin orang-orang Tionghoa dan komunitas Kristen bisa menerima saya, karena dengan cara saling kenal dan berteman maka kita akan bisa memunculkan persahabatan dan rasa percaya. Ketika kita sudah percaya satu sama lain, maka kita bisa membangun Aceh ini bersama-sama”. 

Ape yang saya katakan di amini oleh Pak James. Beliau juga mengenalkan dirinya pada siswa yang ada disitu.

Dalam bincang-bincang itu saya bertanya pada mereka, apakah mereka punya teman Muslim? Kata mereka iya, disekolah, tapi bukan sahabat. Hanya sebagai teman saja. “teman muslim itu ga bisa dipercaya”, kata salah seorang dari mereka. Teman yang lain juga bilang mereka sering sekali di bully. Dulu waktu SD dia sekolah di sekolah Methodist (sekolah swasta milik yayasan Kristen yang mayoritas muridnya adalah Tionghoa dan kelas elitis). Ketika SMP ayahnya memasukkan ke sekolah negeri karena menurut si ayah lebih bermutu. Ketika masuk ke sekolah itu, dia langsung dibully oleh teman muslim karena tidak pake jilbab. Dibilang ‘kerak neraka’. Bahkan guru IPS mengatakan bahwa  injil mereka itu penipu. 

Waaah…..mulut saya tidak tertutup ketika mendegar penuturan mereka. Terperangah terus.


Anak-anak tersebut belajar di ruko lantai tiga. Lantai satu  sebagai garasi, lantai dua untuk tempat tinggal dan lantai tiga sebagai menara do’a, atau rumah do’a. Rumah do’a adalah tempat dimana umat Kristen yang berbeda denominasi (kalau di Islam disebut mazhab) bisa berdo’a. Gereja berfungsi untuk melaksanakan kegiatan ritual (berdo’a dipimpin pendeta dan nyanyi-nyayian), sedangkan rumah do’a khusus untuk berdo’a saja.


Anak-anak ini belajar tanpa memiliki meja atau kursi. Jadi mereka hanya berselonjor duduk di lantai yang diberi karpet tipis. Ketika sedang belajar, tiba-tiba lampu mati. Anak-anak itu terpaksa harus menggunakan lampu hape mereka untuk membaca alkitab.

Kata seorang teman yang mengajar di kelas Jum’at itu, sebenarnya dulu mereka telah berkegiatan di salah satu gereja diBanda Aceh, tapi karena dana untuk pendidikan anak-anak itu tidak disokong oleh pemerintah, gereja lalu tidak mengizinkan anak-anak ini untuk belajar di gereja (sepertinya pihak gereja keberatan ruang mereka di pakai tanpa support dana dari pihak pemerintah. Padahal nilai yang diberikan untuk anak-anak itu dibawah komando pihak kemenag. Saya bisa memaklumi kejengkelan pihak gereja. Listrik disitu perlu dibayar dong..belum lagi kertas dan bahan-bahan yang difotokopi tentunya butuh dana. Begitu juga dana untuk guru yang mengajar. Tapi semua itu dilakukan dengan ikhlas oleh guru-guru (yang semuanya perempuan itu). Bahan yang perlu difotokopi, dikerjakan oleh satu yayasan yang direkturnya juga jadi relawan yang mengajar anak-anak itu.


Sedih melihat anak-anak itu harus belajar ditengah keterbatasan. Namun senang melihat minat belajar mereka yang begitu besar. Meski banyak kekurangan, tapi mereka tetap semangat untuk belajar. Menurut salah seorang pengajar, tahun depan mereka akan meminta sedikit dana dari pihak orang tua murid, sehingga biaya listrik tidak terlalu terbeban pada rumah do’a.

Ketika masih berada di UIN, pak Edi (driver) berkata padaku bahwa anak yang berkata “well, you’re going to hell” adalah anak seorang tetangganya dan anak itu berteman baik dengan anaknya. Wah, dunia ini sempit sekali ternyata. Menurut Pak Edi, sianak memang suka sekali berkata kasar, terutama pada orang Kristen. Tapi setelah bergaul dengan anak Pak Edi (yang nota bene Kristen) si anak menjadi lebih toleran. Mungkin menyadari kalau temannya juga Kristen.

Cerita yang lain saya dapat dari teman dosen yang melanjutkan sekolahnya di Jogja. Ternyata, anaknya berteman baik dengan salah seorang anak sahabat dekatku (yang Katolik) ketika S2 di Jogja dulu. Menurut temanku yang dosen ini, ia bersyukur bahwa anaknya bisa berteman dengan anak temanku tadi, karena karena anak teman inilah yang membuat anaknya aware terhadap komunitas Kristen. Si anak dosen ini pernah bertnya padanya, “yah…bagaimana si …..?”. Pertanyaan ini dia sampaikan ke si ayah karena melihat banyak sekali kebencian terhadap komunitas Kristen.  Saya kira, ia khawatir pada keselamatan temannya, oleh karena itu ia tanyakan bagaimana kondisi temannya itu kepada si ayah.

Jadi, untuk melumerkan kebencian yang begitu banyak terhadap komunitas Kristen, maka sudah selayaknya jika ada kegiatan bersama yang dilakukan secure lintas iman. Ini akan membantu anak-anak muda kedepan untuk menghilangkan prasangka karena perbedaan agama.  

Kamis, 20 Oktober 2016

Christianity Subject in my class






This semester one of department in my university invites me to teach in their department. This department is Sociology of Religion. I teach about Religious community in Indonesia. The students are from first semester. These students are quite young because they just finish their high school and now in their first year in the university.

Last week (Wednesday, 12 Oct 2016), I invited some friends from Christian believers to come to the class. I collected three classes in the same time so that there were many students came. The aim of this class with Christianity friends is to make those students feel familiar with Christian people and they also can ask questions related about Christianity. I have told my friend to forgive those students if there were some ignorant questions. It is not because they want to insult, it is just because they do not know. Luckily, my friends can understand it.

The class is full of students. Many students come. Instead of bringing them to church, I ask my friends to come to the class. Before doing it, I had asked permission to the head of the department. He was really happy that I did it. However, he said that I should tell the students not to up load the pictures on the social media. 

Well... I forgot to tell it to the students :-(

I also asked my students from different faculty to come to that class as well. They are 4th years students. In their faculty, they do not have any opportunity to learn about other religion, so that when there is a chance, I think it is better if they also can hear from the Christian people about Christianity.

During the class, at the first there were not many students asking questions. I think may be they got confused about the explanation. However, there were some students also asking questions. For example they asked about the difference of Judaism and Chirstianity, why there is trinity? Why there is Catholicism and Protestant? Do you believe of life after death? 

I am happy that my students asked many questions even though after the explanation, some of them feel confused. My friend said that “we agree to disagree because it is hard to explain faith”. 


In the next day, I ask some students about their opinion. Some students from year 4 said that class was amazing. She never met and talked with Christian people so that class gives her opportunity to ask, even though she get confused:-D. Some female students also said that class is interesting. However, there is one male students said that for him seems that the speakers try to convince the students about Christianity. 

One female student from my faculty, when she heared that story told by her friend saying to me, "miss..please bring that event to here" [meaning that to her faculty]. I said "sorry, it's impossible to bring it here because there is no class related to that topic. It can make danger to you and me if we bring them here". 

Seems I still traumatic with last time experience, huh?

However, when the class from sosiology of religion finished. I invited the presenter to come to my faculty and to my department. I want them to see where I originally work with. When I took them there and introduce them the departement where I teach, I also introduce them to the vise dean, unfortunately or fortunately, were in the stair. I introduce them to him by saying that these people are my friends from the Church community who just teach in another faculty and I took them to our faculty to intriduce them our faculty. 
He just keep silent, I do not know whether he agree or dis agree :-)   

I also asked the same question to the first year student. They said the class is interesting. They get many knowledge and experiences. They also appreciate my friends willing to come and teaching them about Christianity because it might be hard to come to the university where all the students are Muslim while my friends do not wear hijab.

I am glad that students can accept my friends come to their class. I hope this can be a good start to create trust between these two religions. One of presenter gave his phone number to my students so that they can contact him again if they still have some questions or even have a tea sometime J.




Rabu, 07 September 2016

Muslim Through Discourse : Religion and Ritual in Gayo Society



 Tulisan di bawah ini saya dapat dari buku Muslim Through Discourse: Religion and Ritual in Gayo Society.  Buku ini ditulis oleh Jhon R Bowen, antropolog Amerika yang meneliti tentang Gayo.
Lucunya, buku ini saya dapat ketika saya kuliah di Australia dan saya belajar tentang kakek saya (Aman Murni) dari buku ini. Kakek saya ternyata, menurut Bowen, adalah seorang "radikal reformist" sayap modernist.

Saya beruntung belajar tentang kakek dari buku ini, karena saya tidak hidup dengan kakek sehingga banyak sisi kegiatannya yang tidak saya ketahui. Kakek tinggal di Takengen, sedangkan saya di Banda Aceh. Saya pindah ke Banda Aceh ketika saya berusia 7 tahun, sehingga tidak banyak tau kehidupan kakek semasa beliau hidup.

Belajar dari tulisan Bowen ini, saya percaya bahwa kevakuman berfikir di Aceh saat ini, bisa diselesaikan dengan cara yang dilakukan oleh Reje Bukit Zainuddin kala itu.

========================


Dalam bab ini saya akan mengikuti jejak beberapa orang ulama yang membuat perubahan dalam ilmu agama. Saya akan memfokuskan pada 3 orang, dipilih karena kegiatan public mereka dalam mempromosikan ide-ide tentang agama. Tengku Asaluddin yang menggabungkan penghormatan yang kental pada para leluhur di desa Isak dalam kegiatan pergerakan modern Muhammadiyah. Tengku Ali Salwany yang memimpin organisasi tradisional di Takengen dan terus menjaga keberlangsungan jaringan organisasi tradisional tersebut didalam masyarakat pedesaan. Dan Aman Murni yang merupakan putra mahkota “radikal reformist” sayap modernist. Beliau membawa pemikiran rasional, kritis dan berperspektive modern dalam hal beragama dan berhubungan social.

Para ulama ini, dan banyak para lelaki dan perempuan lainnya yang telah memperoleh pendidikan agama formal, menempatkan cerita mereka tersendiri tentang keadaan pencerahan di Gayo. Menurut Aman Murni, Gayo sekarang sudah keluar dari ‘zaman jahiliyah’ dan memasuki proses belajar tentang agama. (hal 39-40)

Abdul Jalil Rahmany yang lahir di Tekengen, dan dikenal dengan panggilan Tengku Jali pada tahun 1939 kembali ke Takengen setelah menuntut ilmu di Al- Irshad Surabaya. Pada tahun 1989 saya sempat berdiskusi dengan pengganti Tengku Jali, Tengku Abdul Jalil Bahagia, yang dikenal dengan panggilan Aman Murni tentang pengaruh Tengku Jali bagi pendidikan di Takengen. Aman Murni tinggal di tanah yang sangat luas yang mempunyai dua rumah di desa Bale, yang menghadap ke laut tawar. Dia persembahkan lantai pertama rumahnya untuk ruang belajar dimana telah tersedia bangku yang menghadap papan tulis. 
Aman Murni (Kemeja putih), bersama ayah dan ibunya. Sang ayah dikenal dengan panggilan Tengku Tue (Ulama Tua)


Aman Murni telah mengembangkan pemahaman modernist tentang beragama. Saat pertama sekali saya minta untuk bercakap-cakap dengan saya, ia lebih memilih untuk menuliskan sejarah sebagai bahan kami berdiskusi. Dalam waktu satu minggu beliau telah menulis 7 halaman, berspasi satu dalam bahasa Indonesia yang berjudul “perkembangan agama di Takengen Aceh Tengah”. Tulisan tersebut terdiri dari tiga tahap sejarah beragama di Takengen, masa kegelapan, masa reformasi sedang dan masa final pembaharuan dibawah tengku Jali.

Sejarah yang ditulis Aman Murni dimulai dengan kharakteristik negative “orang di Aceh Tengah” (beliau menghindari penggunaan label etnis “Gayo” untuk menekankan agama tinimbang perbedaan kultur) sebelum pembaharuan. Orang- orang menyembah pohon, batu, dan kuburan; mereka mengadakan kenduri yang hanya menghabiskan sumber-sumber yang ada, mereka bergantung pada dukun kampung yang malah menyebabkan penyakit ketimbang penyembuhan mereka; dan adanya persaingan antar desa dan perebutan kekuasaan (domain) antara Bukit dan Ciq. 

Penyebab kekacauan adalah :
“pengaruh adat, peraturan, ulama gadungan, ulama yang terkena narkoba, tidak adanya pendidikan tingkat local, kepatuhan buta pada tradisi, orang pintar yang mengambil keuntungan dari orang sakit”.

Ulama murni datang ke Takengen melalui usaha beberapa pihak: Muhammadiyah, penguasa Bale yang sudah dicerahkan dengan support dari pedagang local, mendirikan sekolah pendidikan (PI) pada tahun 1938 dan akhirnya kedatangan Tengku Jali pada tahun 1939. Di point ini Aman Murni memperkenalkan dirinya. Lahir pada tahun 1925, dia selesai pada tahun 1939 dari dua sekolah berbeda, sekolah pemerintah dan sekolah Muhammadiyah ( keduanya 6 tahun) di Takengen, dan pada waktu yang sama bertemu dengan Tengku Jali, yang baru saja kembali dari Al-Irsyad Surabaya. “saya, Tgk. H. Abd. Jalil Bahagia”, dia melanjutkan, “setelah 6 tahun bersama Muhammadiyah kemudian belajar (bahasa Arab) dengan ustaz Abd Jalil (Tengku Jali) dan 6 tahun belajar tidak sama dengan satu tahun dengannya. Saat berusia 20 tahun pada tahun 1939, Tengku Jali menjadi pengajar bahasa Arab di sekolah PI. Aman Murni belajar bersama Tengku Jali hingga tahun 1942, pada saat dia menjadi asisten Tengku Jali. Dalam diskusi kami, Aman Murni menceritakan metode belajarnya:
“” murid-murid belajar sambil duduk ditikar dan menulis diatas bangku, menghadap ke papan tulis, murid-murid itu tidak menggunakan meja tulis. Semua buku dipesan dari toko buku Salim Nabhan di Surabaya. Salim mempunyai percetakan sendiri di Mesir dan toko buku di Surabaya yang menjual buku-buku Islam….setiap tahun setiap murid harus lulus tes oral di depan umum. Yang terpenting, setiap murid harus mampu mengingat (menghafal) jawaban yang dihafal dari pertanyaan dibuku Mufradha al-Qira’at ar-Rasida. Setiap pagi para murid itu harus bangun pagi-pagi sekali dan mulai menghafal Mufradat. Siapa yang terlambat akan ditampar atau dipukul dengan rotan, bahkan orang tua mereka sendiri tidak boleh mengintervensi”.

Tulisan Tangan Aman Murni, ditulis ketika beliau menjadi kepala KUA kec. Kota Takengon, 17 Maret 1970

Seperti halnya Muhammadiyah, PI mencoba menciptakan siswa yang baik modern secara social maupun terpelajar secara agama. Pada hari raya Iedul Fitri, murid-murid menyanyikan lagu kebangsaan sekolah mereka di depan rumah pejabat Gayo didekat Takengen. Mereka juga belajar memainkan alat-alat music yang disediakan sekolah seperti terompet, harmonica, suling dan drum, meskipun ada protes yang disampaikan oleh pihak tradisionalist bahwa mereka, seperti yang disampaikan oleh Aman Murni “mencoba menjadi orang kafir”. Mereka murid perempuan yang belajar di PI memulai sekolahnya di Taman untuk para murid perempuan (Garden for Girls) dimana mereka diajarkan memasak, termasuk masakan-masakan Eropa dalam mata pelajaran mereka. Setelah kemerdekaan, sekolah mensponsori kursus politik yang diajarkan oleh kepala sekolah menengah di Takengen, “karena orang-orang tidak mengerti apa arti kemerdekaan” kata Aman Murni. “mereka kira kemerdekaan itu berarti mereka akan diberi makan dan tidak perlu kerja”. 

Sekolah PI juga membangun masjid di beberapa kampung diluar kota Takengen.

Kegiatan ini disponsori oleh pedagang sukses di desa Bale Bujang yang berharap dapat membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang salah, kata Aman Murni dalam dokumennya. “dan setiap hari semakin banyak pengikut yang menempatkan posisinya. 25 per sen mereka mengikuti tradisi kuno, 75 per sen mereka mengikuti kami dan Muhammadiyah”. 

Setelah kedatangannya ke Takengen, Tengku Jali menginisiasi debat berseri yang mengangkat isu tentang ritual, yang paling diingat adalah debat pada tahun 1941 dirumah Bukit yang dialami oleh Reje Zainuddin. Saat itu Tengku Jali mendebat Tengku Silang. Perdebatan dimulai dari “saat menjelang malam hingga hampir subuh”, tulis Aman Murni, “menggunakan semua buku yang membahas tentang talqin, kenduri mati dan hal-hal lainnya”. Setiap peserta diminta untuk memberikan argumentasi baik yang mendukung maupun yang menolak. “pada akhirnya Reje Bukit Zainuddin menutup debat tanpa menjelaskan siapa yang menang, dia hanya berkata “ sekarang kita tahu dimana kebohongan dibuktikan dengan baik dan juga kita tau yang mana yang lemah, meskipun mereka tidak mengakuinya”. Perdebatan masih berlanjut didalam masjid. Khutbah jum’at berkali-kali masih membahas issue ini. Debat itu akhirnya menyebabkan pihak provinsi turun tangan, dimana kemudian Aman Murni menggambarkan dengan sangat gembira dalam tulisannya:

“karena Aceh Tengah telah mengambil langkah modernist dengan sangat serius, beberapa pihak mengira bahwa perbedaan itu akan menyebabkan konflik, makanya isu ini dibawa ke Banda Aceh, yang kemudian menghasilkan Maklumat Bersama pada tanggal 2-24 Maret 1948, yang ditandatangani oleh kandepag, atas nama semua ulama dan sekolah agama, oleh pengadilan agama, kandepag Aceh, bahwa 9 ritual yang diperdebatkan itu tidak berlaku dalam Islam. Hal itu kemudian memperjelas argument bagi kelompok tua bahwa kegiatan tersebut berdasarkan nafsu dan itu tidak berlaku lagi. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah; siapapun yang tersesat karena kami, pada hari kiamat dosa mereka akan ditanggung oleh para ulama yang sudah mengajarkan secara salah ajaran-ajaran mereka”. 

Maklumat yang disalin kembali oleh Aman Murni

Aman Murni menuliskan bahwa pada tahun 1946, pedagang yang mendukung sekolah PI membentuk sebuah perusahaan PAT (Perusahaan Aceh Tengah). Mereka berbagi keuntungan dan PI yang memegang saham mayoritas. Keuntungan dari perusahaan itu digunakan untuk kepentingan sekolah, masjid dan rumah yatim piatu. Tetapi perusahaan dan sekolah yang jatuh sebagai korban materialisme. “Pada masa kejayaannya, pemimpin PI ingin sekali mengambil keuntungan dari PAT dan kurang memperhatikan masalah2 agama” kata Aman Murni. Tapi devaluasi keuangan Indonesia dan pembagian yang terlalu berlebihan telah mempercepat kejatuhan profit ke level yang rendah. Jauh sebelum meninggalnya Tengku Jali ada tahun 1974 ‘orang yang sangat bangga pada sekolah sekuler dan meninggalkan sekolah agama, belajar tentang alquran dan sekolah2 agama dikampung, meskipun pada kenyataannya dari belajar al Quran dan sekolah2 agamalah modal pendidikan yang sebenarnya”.

Aman Murni menggantikan Tengku Jali sebagai kepala PI ditahun 1968. Tiga tahun kemudian beliau berkampanye untuk partai Golkar. Beliau satu-satunya Ulama terkemuka di Takengen yang mensuport Golkar (ulama lainnya mensupport partai Islam), dan perselisihan terjadi hingga para pengurus PI memecatnya pada tahun 1976. Beliau kemudian menerima tawaran pemerintah untuk mendirikan sekolah alternative yang didirikan dilahan rumahnya di kampong Bale. Beliau melihat bahwa aktivitas kepartaian tidak berdampak pada kegiatan disekolah dan ini dibenarkan dengan adanya dukungan bagi sekolahnya.

Diakhir tahun 1970an PI telah mengikuti saingannya al-Wasliyah, mulai melemah. Kebanyakan orang tua memilih lebih kesekolah pemerintah karena lebih menjanjikan pekerjaan saat lulus. Aman Murni masih melanjutkan untuk mengajar, memberikan kelas bahasa Arab disore dan malam hari mengajar mengaji di sekolah barunya. Murid belajar 3-5 tahun untuk menamatkannya. 25 muridnya sekarang melanjutkan studi ke Jawa dan ditahun 1989 jumlah muridnya bertambah. Penambahan ini, menurutnya, karena mereka ingin kembali belajar agama. Aman Murni membuat sendiri materi pelajaran yang diajarkan untuk murid-muridnya seperti tahun 1989 itu beliau menulis grammar bahasa Arab, buku tentang shalat seperti yang dilakukan Rasulullah dan dua buku yang berhubungan dengan ritual-ritual agama. Publikasinya disimpan ditempat foto kopi yang bisa dibeli oleh murid-muridnya. Semuanya ditekankan pada hafalan bahasa Arab, ayat-ayat Alqur’am dan do’a-do’a shalat. (Beliau memberikan Rp.5 untuk putranya yang bisa menghafal kata-kata bahasa Arab).

Ditahun 1930, ulama tradisional mengatakan pada murid-murid mereka untuk tidak mengekspose tafsir, karena hanya mereka yang punya keahlian dan telah mendapatkan pelatihan yang bisa melakukannya. Abu Bakar Bangkit, mantan ketua partai Masyumi menjelaskan “bahkan sampai saat ini saya tidak ingin menginterpretasi alqur’an sendiri. Saya membaca yang sudah dijelaskan orang lain….seperti dikatakan orang lain; ‘saya tidak menterjemahkan Al-qur’an, saya menginterpretasikannya”. Kita tidak tahu lafaznya, kita hanya bisa mengatakan apa yang menurut kita itu artinya”.

Sebaliknya, bagi Aman Murni, tafsir merupakan symbol dari perjuangan para reformist. Seperti yang beliau jelaskan kepada saya:
“Belanda tidak akan membiarkan orang-orang untuk menginterpretasikan Al qur’an. Khutbah semuanya dalam bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia. Belanda diam-diam mendengarkan setiap khutbah dan melaporkan siapa saja yang menterjemahkan ayat-ayat dalam khutbah. Perlahan-lahan, dalam Muhammadiyah, kami mulai menterjemahkan beberapa ayat kedalam bahasa Indonesia, pertama dalam kegiatan keagamaan, lalu diakhir tahun 1930, disetiap khutbah Jumat. Tapi tetap saja harus memilih ayat-ayat dengan sangat hati-hati. Qur’an mengingatkan orang tentang orang kafir. Oleh karenanya Belanda sangat takut akan itu”.

Aman Murni mempertimbangkan sumbangan pengetahuan tentang isi kitab suci merupakan suatu aksi politik. Saya menemukan sedikit sokongan untuk interpretasi itu dari tingkah laku Belanda terhadap modernist-modernist yang lain. Tapi bagi Aman Murni adalah penting untuk menterjemahkan isi kitab suci agar bisa dibaca dengan bahasa sehari-hari sebagai cara pencerahan agama. Tidaklah mengherankan bahwa Aman Murni, dimasa dahulu, saat masih di PI telah menghabiskan waktu untuk mengawal interpretasi (tafsir) Al Qur’an disekitar kota dan desa-desa. Ditahun 1980an Aman Murni memimpin sesi diskusi di Mesjid Takengen setiap magrib menjelang Isya. Biasanya isyu yang diangkat berkenaan dengan praktek-praktek keagamaan dan sejarah agama. Saya ikut satu sesi di bulan Juni 1989:
“Sekitar 20 orang laki-laki dan anak muda duduk di dekat Aman Murni setelah shalat isya. Jumlah yang sama juga untuk ibu-ibu dan remaja putri yang duduk dibagian belakang, terpisah dari laki-laki. Dipisahkan oleh kain yang dipasang dikawat. Aman Murni duduk di kursi dengan Al-Qur’an diletakkan didepannya; jamaah yang lain mengambil qur’an dari koleksi masjid. Lelaki yang lebih tua tahu dibagian mana mereka menyelesaikan bacaan disesi terdahulu.

Malam itu Aman Murni membaca surat An-Nisa ayat 97-104. Metode Aman Murni, membaca beberapa kata, lalu memberikan terjemahan cepat dan menambahkan atau membubuhi keterangan. Dibeberapa kasus beliau memberikan contoh. Ayat pertama dimulai dengan complain satu grup kepada malaikat bahwa mereka tidak bisa menjalankan agama dimana mereka berada, dan malaikat meresponnya dan berkata mereka harus hijrah (pindah) ketempat lain. Aman Murni berkata bahwa situasi itulah yang menyebabkan Tengku Hasbi Ash-Shiddiqy di Lhokseumawe (saat beliau mendirikan sekolah Al-Irsyad); orang-orang tidak mau menerima ilmunya dan beliau tidak bisa mengajar mereka, beliau lalu pindah ke Jakarta.
Sesi berikutnya berbicara tentang memendekkan rakaat shalat. Aman Murni berbicara cukup panjang tentang ini. Departemen agama telah menetapkan bahwa boleh memendekkan rakaat shalat jika berada 60 kilometer jauhnya dari rumah. “Tapi kamu boleh memendekkan rakaat shalat kamu jika kamu memerlukannya”, jelas Aman Murni, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sat beliau mengendarai unta.

Aman Murni menutup sesi malam itu dengan mengingatkan semua orang bahwa tujuan diskusi itu adalah untuk memperluas ilmu yang sudah diperoleh. Setelah selesai berdiskusi teh lalu disediakan sambil menunggu shalat isya berjamaah.

Dengan berubahnya peradaban dari masa rasul hingga saat ini, tafsir dibutuhkan untuk menjembatani pemahaman yang relevan dimasa rasul dulu untuk memecahkan persoalan keagamaan sekarang. Tidak dibutuhkan interpretasi yang terlalu tinggi dari para ulama untuk memperoleh ilmu ini.

Tengku Asaluddin, Tengku Ali Salwany dan Aman Murni menggambarkan beberapa perbedaan yang jelas dilakukan oleh para ulama Gayo di abad pertengahan. Topic yang mereka ajarkan pada tahun 1930an berlanjut menjadi debat yang hidup pada tahun 1980an dan perbedaan itu menyemarakkan kegiatan-kegiatan ilmiah. Ditahun 1989 dan 990 contyohnya, Ali Salwani mengadakan dua kali rapat bersama para ulama membicarakan tentang talqin dan isu-isu tentang kenduri kematian. Kongres ini dilakukan untuk mereformasi ritual local dan mengumpulkan kritik-kritik yang diberikan oleh kelompok reformist. Perbedaan ini tidak menyebabkan terjadinya konflik berdarah yang banyak ditakutkan orang.