Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Oktober 2021

Entahlah..

 

    Beberapa hari lalu saya mengirimkan satu artikel ttg seorang teman untuk teman Jepang saya. Artikel itu adalah:

https://www.insideindonesia.org/a-heroine-for-humanity

    Beberapa hari kemudian, teman Jepang itu membalas imel saya dan mengatakan ingin berbicang-bincang dengan teman yang ada di artikel tadi. Dia juga mengirimkan saya satu link yang menuliskan tentang kegiatan lembaganya. Link itu adalah:

https://www.seedsasia.org/eng/past-activities/11

    Saat saya buka link tadi, saya terkejut karena saya kira lembaganya bekerja di Aceh karena wajah dan penampilan perempuan yang ada didalam foto itu benar2 seperti perempuan-perempuan muslim di Aceh. Saat membaca isi link itu, barulah saya tau jika foto itu diambil di Maldevis. Di Indonesia lembaga teman saya tadi bekerja di Jogjakarta, bukan di Aceh.

    Tulisan ini bukan ingin mengkritisi tentang kegiatan2 program yang mereka berikan, tapi saya ingin merenungi tentang jilbab yang dipakai di foto2 itu.

    Gaya jilbab yang dipakai oleh remaja perempuan difoto itu pertama sekali saya lihat pada tahun 1996, saat saya mengikuti salah satu program pertukaran pemuda Asia tenggara –Jepang. Beberapa teman2 perempuan Malaysia menggunakan model Jilbab yang persis sama. Tahun 2003, saat berkunjung ke Pattani (sebagai turis) saya melihat perempuan2 muslim disana juga menggunakan jilbab dengan model yang sama. Saat kembali ke Aceh (hingga hari ini) banyak anak2 Aceh (dan tentunya juga saya) menggunakan model jilbab yang sama seperti ini. Dan sekarang, saya melihat bahwa perempuan muslim Maldevis juga menggunakan model jilbab yang sama.

    Lalu, saya melihat satu bentuk keseragaman disini. Aceh, mungkin dipengaruhi dengan gaya jilbab dari Malaysia, begitu juga Thailand bagian selatan, tempat yang pernah saya kunjungi tahun 2003 lalu. Malah saat ini di Aceh banyak terdapat jilbab yang didatangkan dari Malaysia, sehingga terkenal dengan sebutan ‘jilbab Malaysia”. Namun gaya jilbab di Maldavis membuat saya bertanya-tanya dari mana mereka mendapatkan gaya jilbab yang seperti itu? Bagi Aceh dan Selatan Thailand, pengaruh model berjilbab yang sama seperti di Malaysia tentu bukan perkara sulit, karena Aceh dan Thailand selatan merupakan daerah tetangga Malaysia,sehingga, pengaruh dari negara ini akan sangat mudah masuk ke kedua daerah tadi. Tapi setelah saya mencoba mencari letak Maldavis di Google, saya kira pengaruh gaya jilbab di Aceh, Malaysia dan Thailand selatan sepertinya sangat susah untuk bisa masuk kesitu, karena wilayahnya yang terbilang jauh dari 3 daerah tadi.

    Maka saya mencoba berasumsi bahwa gaya jilbab yang seperti itu mereka dapatkan dari televisi. Dan karena mereka juga berada di kawasan Asia, maka model jilbab yang mereka kenakan, mereka ikuti seperti perempuan Asia lainnya yang mayoritas muslim, yaitu Malaysia dan Indonesia (dalam hal ini Aceh).

    Namun kemudian saya melihat betapa seragam itu tidak menarik. Betapa gaya jilbab yang menjadi seragam itu membuat kita kehilangan jati diri. Saya misalnya, saat saya melihat foto perempuan2 itu, saya langsung berfikir bahwa itu adalah perempuan2 Aceh. Setelah melihat penjelasan di link tersebut saya baru tahu bahwa itu adalah perempuan Maldavis.

    Kita lalu menjadi kehilangan jati diri. Dan disinilah apa yang Socrates sebutkan tentang mengikuti suara mayoritas menemukan contohnya. Kata Socrates, kita menjadi pengikut mayoritas karena adanya tekanan yang menyeluruh yang membuat kita harus menjadi seperti yang lain. Misalnya, kita takut kehilangan tempat dalam grup kita. Jadi, setuju tidak setuju kita lalu setuju pada suara mayoritas.

    Asumsi saya perempuan muslim Maldavis merasa nyaman jika bisa mengikuti kelompok mayoritas yang lain yaitu Indonesia dan Malaysia, karena dua negara ini merupakan mayoritas muslim terbesar di Asia Tenggara. Dan supaya tidak ditinggalkan kelompoknya, maka mereka mengikuti bagaimana kelompok muslim mayoritas berpakaian.

    pengalaman lain adalah ketika di kelas belajar bersama dengan mahasiswa dari berbagai nengara. Ketika itu dosen bertanya apa yang kami ucapkan ketika berdo'a sebelum makan. teman dari Jepang mengucapkan do'a untuk makan. teman dari Portugal juga mengucapkan do;a dalam bahasa mereka. lalu teman dari Arab Saudi mengucapkan doa 'bismilahirrahmannirrahim'. ketika tiba di saya, yang duduk di sebelah teman Arab Saudi ini, saya katakan "sama". Lalu dosen bertanya lagi apa yang kami ucapkan ketika selesai makan. teman Jepang mengucapkan do'anya. Teman portugal juga menyampaikan do'anya. Lalu teman Saudi mengucapkan "alhamdulillah". ketika sampai di giliran saya, saya katakan "sama", sama seperti yang diucapkan teman dari Saudi. teman-teman saya keheranan. Teman Jepang bertanya "mengapa kamu harus mengatakan kata yang sama seperti yang dari Saudi? apakah kamu tidak punya kata sendiri?".

Waduh, saya tercenung. dan saya tidak merasa istimewa. saya merasa tidak punya identitas karena hanya untuk mengucapkan syukur saja saya harus menggunakan bahasa Arab.

Buat saya ini menjadi menyedihkan. Seperti yang saya sebutkan diatas, kita menjadi kehilangan jati diri. Tidakkah kita bisa menjadi muslim tanpa harus kehilangan jati diri?


Tahun 2000 saya sempat berkunjung ke Bali. Disana saya melihat bagaimana perempuan
- perempuan Bali masih tetap menggunakan kain kebayanya tanpa harus menggunakan kain sari seperti di India. Padahal kita tahu Hindu awalnya berasal dari India. Saya tidak tahu apakah ada orang2 Hindu lain diluar sana yang menggunakan gaya berpakaian seperti orang-orang India atau Bali.

    Maka, sepertinya Aceh (juga muslim Maldavis) sedang kehilangan identitas diri, seperti apa yang dituliskan oleh Paul Zecola dalam artikel pertama diatas.

Entahlah…(mengutip status seorang teman).

Selasa, 21 September 2021

Kebahagiaan menurut EPICIRUS

 

Bahagia adalah kata yang mudah untuk diucapkan, tapi ternyata-bagi kebanyakan orang-susah untuk mendapatkannya. EPICIRUS, seorang filosof yang hidup tahun 341 SM, berasal dari daerah yang sekarang berada di wilayah Turki modern, mengatakan bahwa bagi kebanyakan orang menemukan kebahagiaan itu mudah tapi terkadang kita menempuh jalan yang salah.

Kebanyakan kita berfikir bahwa kebahagiaan bisa dibeli. Seperti banyak yang dilakukan orang, menyenangkan diri adalah dengan membeli barang-barang di toko dan makan yang enak-enak. Karena EPICIRUS mengatakan bahwa kita harus menikmati hidup, maka sekarang para penganut paham luxurius eating lifestyle ini (gaya hidup makan makanan mahal ditempat yang mahal) disebut sebagai EPICURIAN. Padahal EPICURUS sendiri adalah sosok yang sangat jauh dari apa yang dilakukan oleh para penganut EPICURIAN.

EPICURUS mengatakan bahwa ada 3 hal yang membuat manusia bahagia. Ketiga hal itu adalah teman, kebebasan dan menganalisa hidup.

Bagi Epicirus,untuk mengaktualisasikan bahagia maka harus dilakukan terobosan untuk meraih kebahagiaan itu.

Bersama dengan teman-temannya, dia membeli satu rumah di daerah yang jauh dari kota, membentuk satu komunitas dan tinggal di rumah tersebut bersama dengan teman-temannya. Cara ini jika dilihat pada masa sekarang, mungkin sama seperti apa yang dilakukan oleh kelompok Amish di Amerika Serikat sana. Menurutnya dengan membentuk komunitas seperti ini dia juga akan mendapat kebahagiaan yang kedua, yaitu kebebasan. Bebas dari hiruk pikuk perpolitikan kota, bebas dari tekanan penguasa, bebas dari keuangan yang terkadang melillit orang untuk menjadi berhutang. Mereka hidup seadanya dan tidak perduli pada penampilan. Tapi mereka bahagia.

Hal ketiga yang menurut Epicirus perlu dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan menganalisa hidup. Menurutnya kita perlu menyisihkan waktu sejenak untuk merefleksikan apa yang kita cari dalam hidup. Cara ini bisa ditempuh sendiri atau bersama-sama dengan kelompok, seperti apa yang sudah Epicurus lakukan bersama komunitasnya.

Maka, mungkin ada hal yang bisa kita ikuti dari pendapat EPICURUS, bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli. Kebahagiaan tidak didapat dari materi. Maka, berbahagialah anda yang punya banyak teman, karena teman-menurut Epicurus-adalah salah satu syarat untuk mendapatkan kebahagiaan.

Sabtu, 27 Maret 2021

Seoul Searching: Pencarian Identitas Diri Anak Imigran

 







    Film yang ingin saya ulas kali ini adalah film Seoul Searching. Film ini kebetulan saya dapat di internet ketika mencari film-film yang direkomendasikan bagus. Saya suka sekali film yang dilatarbelakangi kisah nyata. Dan film ini adalah salah satunya.

    Dari film ini saya menjadi semakin yakin mengapa orang-orang Korea Selatan itu begitu Westernised terutama sangat Amerika. Film itu dibuka dengan narasi tentang perang yang terjadi di Korea, Perang dengan Jepang hingga perang yang memecah Korea menjadi dua: Korea Utara dan Korea Selatan. Orang-orang tua yang tidak ingin mengalami perang yang berkepanjangan memilih untuk meninggalkan negara mereka, Korea Utara. Diantara mereka ada yang pindah ke Amerika, Meksiko dan Jerman. Namun, orang tua ini kemudian menghasilkan anak-anak yang telah kehilangan identitas mereka sebagai orang Korea. Oleh karena itu pemerintah Korea membuat program yang menghadirkan anak-anak diaspora ini dalam satu kegiatan bernama Summer Camp sehingga mereka bisa belajar tentang apa arti menjadi Korea bagi mereka.

    Saya sangat menikmati film ini. Film ini mengingatkan lagi pengalaman ketika berkunjung ke Amerika Serikat, bertemu dengan dosen yang berasal dari Pakistan yang mengatakan bahwa anak-anak Pakistan yang besar di Amerika sudah kehilangan identitas dan susah untuk berkomunikasi dengan orang tua mereka. Ini aku lihat sendiri di film Seoul Searching ini. Anak-anak muda yang datang ke Summer Camp ini datang dengan gaya mereka yang sudah ‘westernised’, misalnya ada perempuan yang bergaya seperti Madonna (Grace dari US), ada laki-laki yang bergaya punk (Sid dari US), ada yang sangat mudah sekali merayu perempuan-perempuan (Sergio dari Meksiko) dan ada yang sangat kalem (Klaus dari Jerman). Anak-anak muda ini digabung dalam satu camp. Peraturannya adalah laki-laki ada di lantai 1 sedangkan para perempuan tinggal di lantai 3. Tapi dasar anak-anak ‘berandal’ (kecuali Klaus), mereka punya cara untuk bagaimana bisa menemui para perempuan yang ada di lantai 3. Daaaaaan...pesta miraspun terjadi. Saking mabuknya dua dari anak muda itu, mereka hampir saja melakukan hubungan badan di kamar si perempuan.

    Cerita lain lagi adalah ketika Sid membantu Grace yang hampir diperkosa oleh Mike Song (kelahiran US yang sangat bergaya militer).  Sid lalu membuang semua miras yang ada di kamar Grace, sayangnya, ketahuan oleh guru Korea yang mengajar mereka. Akibatnya ia akan dikeluarkan dari summer camp tersebut. Sebenarnya ini bukan kali pertama Sid dianggap sebagai biang kerok perkelahian. Sebelumnya di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan, di daerah Demilitarized Zone (DMZ), seseorang membuang sisa permen karet yang mengenai sepatu tentara korea Utara. Hampir saja terjadi tembak-tembakan antara tentara Korea Utara dan Korea Selatan di perbatasan itu, hanya karena sisa permen karet tadi. Ditambah dengan ketahuan membawa minuman keras, semakin memperkuat keputusan bahwa Sid harus dikeluarkan dari camp. Namun sebelum dikeluarkan dari summer camp, si bapak guru menanyakan tentang keluarga Sid. Ia mengatakan bahwa ia membenci ayahnya. Ayahnya tidak pernah memperlakukannya dengan baik, bahkan suka memukul ibunya. Si pak guru lalu menceritakan kisahnya bagaimana ia dulunya adalah seorang pengajar di sekolah prestisius. Ia sangat menekan anaknya untuk bisa menjadi juara dan masuk ke universitas di Korea. Namun karena anaknya tidak bisa mengikuti kemauan ayahnya dan ayah yang sangat gila hormat ini lalu menendang anaknya hingga pingsan. Terakhir, menurut si pak guru, ia mendengar di radio kalau anaknya tewas bunuh diri di jalur kereta. Pak guru bilang bahwa ayah Sid bukan tidak sayang padanya, tapi laki-laki Korea memang susah untuk mengungkapkan perasaannya, terutama untuk perasaan sayang. Ini mengingatkanku pada drama Korea Full House yang saya tonton. Saya gemes pada aktor laki-laki di drakor itu yang sangat tidak bisa menyatakan perasaannya. Ternyata ini persis sama dengan apa yang terjadi di Korea Selatan. Bahkan di salah satu buku yang pernah saya baca, banyak orang Jepang yang  harus mengambil kursus tersenyum akibat masa lalu Perang Dunia II dimana mereka kalah dan menyebabkan hidup yang pahit sehingga mereka hampir tidak pernah tersenyum.

    Cerita menarik lainnya adalah ketika settingnya di kelas kaligrafi yaitu menulis huruf-huruf Korea. Salah seorang perempuan (Sara) bertanya pada Klaus tentang keluarga dan pacarnya. Klaus mengatakan bahwa ayah ibunya membawanya ke Jerman ketika ia masih kecil dan ia telah mempunyai pacar orang Jerman. Ketika Sarabertanya apakah ia ingin melanjutkan usaha ayahnya yaitu membuat sosis, karena orang tua Klaus adalah pengusaha Sosis, Klaus mengatakan tidak mau. Sara bertanya lagi mengapa tidak, toh usaha itu memberi uang yang banyak. Klaus mengatakan dengan tegas, meski orang tuanya adalah imigran dia tidak ingin menjadi seperti ayahnya yang hanya buruh. Ia ingin mencapai yang lebih tinggi lagi yaitu bekerja di bank sehingga orang tidak akan melihat bahwa orang Korea di Hamburg bukan hanya sebagai buruh. Wuaaaaaah….. bagus banget jawabannya.

    Klaus juga berkomunikasi sangat fasih dalam bahasa Korea karena di rumahnya di Jerman sana ia selalu menggunakan bahasa Korea. Seorang perempuan lain yang berasal dari Amerika (Kris) ada dikelas kaligrafi itu mendengarkan dengan seksama perbincangan dari kedua anak muda ini. Di lain waktu ia yang kemudian berbincang-bincang dengan Klaus. Dari hasil obrolan itu diketahui Kris adalah anak pungut dari laki-laki dan perempuan berkulit putih sehingga ia sama sekali tidak tau tentang Korea, bahkan ia tidak mempunyai nama Korea. Klaus menawarkan diri untuk mencari info tentang keluarga si perempuan ini. Sepertinya Korea memang sangat aktif dan responsive untuk pencarian keluarga hilang ini sehingga mereka mempunyai suatu pusat informasi mencari keluarga yang hilang. Nah, mereka ini lalu mendapatkan nomor kontak dari ibu biologis Kris. Klaus yang fasih berbahasa Korea ini menelpon dan berkata bahwa anaknya ingin bertemu. Ketika bertemu si ibu yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris Klaus membantu menerjemahkan apa yang ingin disampaikan si ibu kepada Kris. Akhirnya karena tidak ingin membebani Klaus terus-terusan, Kris kemudian menemui sendiri ibu kandungnya itu dan berbicara dalam bahasa Inggris meski ia tau bahwa ibunya tidak akan mengerti. Tapi apa yang disampaikan dalam pembicaraan itu sangat menyentuh. Kris tidak menyalahkan ibunya yang telah membiarkan dia tinggal di panti asuhan sehingga kemudian diadopsi oleh keluarga Amerika yang kemudian ia kehilangan identitasnya; tidak bisa berbicara bahasa Korea dan tidak bisa menulis dalam huruf Korea. Ia mengerti mengapa ibunya meninggalkannya di panti asuhan, karena ayahnya yang suka melakukan KDRT, dan itu berbekas di kaki Kris dan kepala si ibu. Kris mengetahui cerita KDRT itu dari Klaus yang menggali lebih dalam dari si ibu. katanya, ketika kecil, karena mabuk ayah Kris menyiramkan air panas ke Kris karena menangis terus. Si ayah lalu memarahi si ibu dengan memukul kepala si ibu menggunakan botol. Sampai dewasa bekas luka bakar di kaki Kris masih ada begitu juga dengan bekas luka yang ada di kepala si ibu. 

    Film ini mengajarkan banyak hal yang susah banget buat saya untuk menuliskannya, saking banyaknya. Diantara yang saya ingat diantaranya, bagaimana si Sergio, ketika diakhir summer camp mereka diminta untuk berpakaian yang berbeda. Nah, Sergio menggunakan pakaian perempuan yang sangat seksi. Ketika sedang berdansa ia mengatakan pada partnernya bahwa sekarang ia mengerti mengapa banyak perempuan yang merasa tidak nyaman karena di suitin (cat whistling) karena berpakaian seperti yang ia kenakan. Ada juga hal yang perlu diingat ketika Sid bertanya pada temannya yang sangat bergaya militer (Mike Song) mengapa ia harus bersikap sangat militeristik. menurut temannya ini, dengan cara itulah ia bisa bertahan hidup di komunitas militer, dimana ia bekerja. Karena tampilannya yang sangat Asia, ia gampang sekali didiskriminasi oleh mereka yang berkulit putih. 

    Saya suka sekali dengan Klaus, yang dari Jerman itu. Dia sangat ringan tangan, membantu teman-temannya dan sangat kalem. Berbeda dengan anak-anak yang lain yang sudah sangat tercerabut dari kultur ketimurannya itu. Klaus membuat film ini begitu menyentuh dengan usahanya membantu si perempuan untuk mencari identitasnya. 

    Belum lagi saya belajar bahwa ternyata laki-laki Korea tidak beda jauh dengan laki-laki di Asia pada umumnya, yang sangat memandang rendah perempuan. Seorang pemeran perempuan di film ini juga berkisah bagaimana ibunya selalu dipukuli oleh ayahnya sehingga ia sangat membenci laki-laki. Namun kemudian ia malah menyukai laki-laki ketika kenal dengan si Sergio ini. Kedua mereka sama-sama suka bela diri. Sergio menguasai Karate sedangkan si perempuan ini menguasai TaeKwonDo, olah raga yang berasal dari Korea.

    Film ini membuat saya berfikir tentang anak-anak Indonesia yang dilahirkan atau dibesarkan di luar Indonesia. Saya teringat pada apa yang dikatakan oleh salah seorang DJ MTV yang blasteran Indonesia Australia. ia mengatakan ia bingung identitas dia itu sebenarnya apa. Karena ketika ia di Australia, ia di bully dikatakan ia bukan orang Australia. Ketika ia di Indonesia (Jawa Barat tepatnya, karena kakeknya penulis pesohor di Jawa Barat) ia tidak disebut sebagai orang Indonesia, melainkan disebut sebagai bule. Krisis identitas ini juga membuat beberapa teman-teman yang saya temui juga terkadang bersikap menyebalkan. Misalnya saja, ketika saya kuliah di Thammasat University, saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang berkulit sawo matang tetapi berasal dari Amerika. Belakangan saya tahu ternyata ia diadopsi dan dibawa ke Amerika. Tingkahnya sangat menyebalkan. Saya sempat berfikir, mungkin karena krisis identitas itu yang menyebabkan mengapa ia bertingkah sangat menyebalkan. Mungkin ia mengalami kejadian seperti VJ MTV yang saya tuliskan diatas; ketika di Thailand tidak dianggap sebagai orang Thai tetapi ketika di Amerika ia juga tidak dianggap sebagai orang Amerika karena kulitnya yang sangat gelap. Begitu juga ketika bertemu dengan pemuda Pakistan yang sudah lama tinggal di US (ikut orang tuanya), tingkahnya menyebalkan sekali. berbeda dengan teman-temannya yang memang benar-benar bule. Sepertinya krisis identitas juga terjadi pada dirinya. 

    Secara keseluruhan, film Seoul Searching ini sangat bagus. Saya malah merasa para aktor dan aktirs yang ada di film ini seperti sedang mencari jiwa mereka (soul searching) karena krisis identitas tadi. 

 


Selasa, 09 Maret 2021

Karena Indonesia Bukan Hanya Jawa

 



Beberapa hari lalu saya mengikuti acara meeting virtual alumni program Muslem Exchange Program dimana saya pernah ikut kegiatan tersebut. Salah seorang yang memberikan acara pembuka adalah duta besar Indonesia untuk Australia. Saya sayangkan sekali pak Dubes menggunakan backsound gending Jawa ketika beliau berbicara. Sebagai orang yang bukan orang Jawa, saya merasa "terpanggil" untuk 'mengingatkan pak Dubes lewat tulisan ini. Saya minta teman yang ada di Melbourne untuk mengirimkan tulisan ini ke duta besar Indonesia di Canberra.


***********************************************

Tulisan ini merupakan refleksi saya untuk 65 tahun usia tanah airku, Indonesia.

Tahun 2010 lalu saya mengunjungi KJRI Indonesia di Melbourne. Saat masuki ruangan, yang pertama menyambut saya adalah patung Bali.

Saat berada di Bangkok tahun 2003, teman saya yang berasal dari UGM bercerita. Hampir setiap bertemu seseorang ia akan ditanyai berasal dari mana, ia menjawab dari Indonesia. Dan orang yang bertanya berkata “oh..I’ve been to Bali’. Sejak saat itu temanku selalu membawa peta Indonesia dan jika ada orang yang bertanya dia dari mana, dan jawabannya sama dengan yang diatas (I am from Indonesia) dan disambut dengan kata-kata “I’ve been to Bali”, teman ini langsung menggelar petanya, menunjukkan “ini Indonesia dan ini Bali dan saya berasal dari sini (sambil menunjukkan pulau Jawa)”.

Saat berada di kedutaan Indonesia di Washington DC tahun 2008, saya bertanya pada atase politik yang menerima kami. Saat itu meeting kami sudah selesai dan pak Atase membawa kami jalan-jalan menuju ruang tamu di kedutaan. Lalu saya lihat ada lukisan Pangeran Diponegoro dan Jendral Sudirman yang sangat besar. Saya katakan”… maaf ya pak, mungkin ini agak sensitive. Koq yang saya lihat disini hanya lukisan Diponegoro dan Sudirman? Ini kan hanya representative Jawa. Si Bapak terdiam sejenak dan lalu menjawab bahwa ada foto Cut Nyak Dhien di rumah Pak Duta Besar dan foto Pangeran Hasanuddin di ruangan yang lain lagi.

Saya sendiri tidak tau mengapa saya berani bertanya seperti itu. Mungkin karena belakangan, setelah meeting selesai, saya tahu bahwa beliau juga tamatan Hubungan Internasional Fisipol UGM (sama seperti saya, meski angkatan berbeda), ada kedekatan psikologis yg menyebabkan saya berani bertanya seperti itu.

Saat saya ceritakan hal ini pada salah seorang teman yang berasal dari Papua, ternyata ia mempunyai cerita yang sama. Katanya, pengalaman saya persis sama seperti yang dialami oleh seorang perempuan Papua saat diundang ke istana merdeka. Menurut Lusi (teman saya tadi), kasus Freeport (demo yang dilakukan oleh orang Papua di Freeport) mengundang keinginatahuan presiden SBY untuk mendengar lebih jauh dari masyarakat Papua sendiri. Lalu diundanglah beberapa orang dari kawasan Freeport untuk datang ke Istana merdeka. Saat diistana, setelah Presiden menyampaikan kata sambutannya,seorang ibu berdiri dan bertanya “ Pak, mengapa saya tidak melihat orang-orang kami di foto-foto yang ada diruangan ini? Apa yang salah dengan kami?”.
 Pak SBY langsung tercenung, tidak bisa berkata apa-apa dan matanya berkaca-kaca.
Ternyata sebelum memasuki ruangan pertemuan, banyak foto pahlawan Indonesia yang dipasang dilorong menuju tempat pertemuan. Dan itulah yang dilihat oleh si ibu tadi sehingga dia berani menanyakan, mengapa tidak ada orang yang mempunyai performa seperti dirinya
(berambut keriting dan berkulit hitam) dipajang di lorong tersebut.

Saya kira kita semua mengetahui bahwa memang daerah Indonesia yang sudah sangat terkenal secara internasional adalah Jawa dan Bali. Dan karena itu, Indonesia akan sangat mudah  diperkenalkan dengan menggunakan kedua daerah tadi. Namun sayang sekali, banyak sekali daerah-daerah lain yang ada di Indonesia menjadi tidak terwakilkan dalam kegiatan-kegiatan atas nama Indonesia. Salah seorang teman yang kuliah di Flinders juga sempat menemui salah seorang dosen dan menyampaikan keheranannya mengapa hanya ada batik yang merepresentasikan Indonesia di setiap kegiatan atas nama Indonesia. Karenanya, teman ini tadi meninggalkan kain tapis Lampung miliknya sebagai cendera mata saat dia akan pulang ke Lampung, setelah kuliahnya selesai.

Mungkin, butuh kerja  ekstra keras untuk memperkenalkan pada masyarakat dunia bahwa Indonesia bukan hanya Jawa dan Bali.

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku…semoga kedepan akan lebih banyak lagi perwakilan-perwakilan dari tanahmu yang muncul di luar Indonesia, sehingga dunia tau bahwa Indonesia itu bukan hanya beretnis Jawa dan Bali.

(tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan teman-teman yang beretnis Jawa atau Bali)

Rosnida Sari

Wakil Aceh untuk MEP 2006, Presiden PPIA Flinders University (2009-2010)

 

Kamis, 25 Februari 2021

Michelle Du Montaigne

 




Quebec, Kanada 2008; seorang perempuan berjilbab sedang berjalan dengan memegang kotak Mc. Donald yang baru dibelinya di sudut Parliament Hill (gedung parlemen Kanada). Tiba-tiba seorang laki-laki berkulit putih yang memakai jas hitam dan memegang payung menghampiri dan berkata ‘ you cannot eat that, it is haram!!”. Usai berkata iapun berlalu. Tinggal si perempuan sendirian, melongo. 

Adelaide, Australia 2009; di toilet perempuan di kampus, seorang perempuan berjilbab mendengar teman Indonesianya sedang diajar berwudhu yang benar oleh seorang perempuan Arab Saudi.


Apa hubungan dua kisah itu  dengan judul diatas? Saya akan mencoba membahasnya.


Montaigne adalah seorang Filusuf Perancis yang dianggap nyeleneh. Ia lahir tahun 1533. Diusia 38 tahun ia memtuskan untuk pension dari jabatannya sebagai walikotas Bordeaux. Ia dua kali menjabat sebagai Walikota di wilayah tersebut. Selain itu ia juga seorang pengacara dan sahabat dekat raja Perancis.

Montaigne memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktunya untuk berfikir, merenung dan menulis buku. Awalnya ia kesulitan untuk menulis tentang apa, tapi kemudian memutuskan untuk menulis tentang dirinya. Dibukunya dia menulis ingin menjadi seperti apa. Dia ingin menjadi dirinya sendiri sebagai Michelle du Montaigne. Hal yang tidak disebut oleh banyak filusif lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Montaigne. Dia mencoba merefleksikan bagaimana menkadi seorang manusia. Dalam bukunya, dia banyak menulis tentang –maaf- penisnya. Bagian tubuhn yang tidak pernah dibicarakan oleh filusuf lain, bahkan sering diedit oleh editor jika ada tulisan seperti itu karena dianggap tidak pantas untuk ditulis apalagi dibaca.

 

Montaigne berpendapat bahwa kita terperangkap dalam role model yang salah. Role itu tidak memberi tempat bagaimana sebanarnya kita ingin berperilaku, dan ini menyebabkan kita tidak bisa menerima tubuh kita sendiri. Oleh karenanya Montaigne memilih menulis hal-hal yang dianggap ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu kita menerima keadaan tubuh kita sendiri. Karenanya dia sangat menganjurkan agar kita membandingkan kita dengan hewan yang ada dipekarangan rumah kita. Betapa, menurut Montaigne, hewan bisa menerima dirinya sendiri, mengapa kita tidak.

 

Jika Filusuf yang lain menganggap bahwa otak membuat kita bahagia, tidak demikian dengan Montaigne. Menurutnya, otak malah membuat kita menjadi tidak bahagia. Dan salah satu hal tersebut adalah karena kita membandingkan tubuh kita dengan tubuh orang lain. Tidak seperti binatang, kita sering sekali merasa jijik dengan tubuh kita sendiri. Kita merasa terlalu gemuk sehingga menyebabkan eating disorder. Montaigne melihat sendiri bagaimana seorang bangsawan bunuh diri hanya karena –maaf- kentut saat acara makan malam. Montaigne tau masalahnya. Ini karena bagian tubuh tersebut jarang sekali muncul ditempat umum, dan tidak pernah disebut-sebut dalam buku filosophi manapun. Oleh karenanya kita merasa bahwa bagian tersebut adalah bagian tubuh yang memalukan. Karenanya dia berpendapat bahwa karena didalam tubuh kita juga terdapat sebagian tubuh binatang, maka terimalah dia apa adanya.

 

Hal lain adalah Montaigne berbicara tentang perasaan tidak nyaman karena sekeliling kita menghakimi kita, apakah itu budaya ataupun kebiasaan orang-orang disekeliling kita. Saat mengikuti program Kapal pemuda ASEAN-Jepang tahun 1996, saya terkaget-kaget mengetahui bahwa perempuan-perempuan (dan laki-laki) Jepang mandi di bath tub tanpa menggunakan benang sehelaipun alias telanjang. Begitu juga saat saya berkuliah di Thailand tahun 2003 saya terkejut melihat perempuan memasuki wat (candi) hanya dengan baju ‘u can see’. Dalam kehidupan saya yang dibesarkan dengan tradisi muslim, mengunjungi tempat ibadah haruslah dengan pakaian yang sopan yaitu meski tidak menggunakan jilbab tapi pakailah pakaian yang menutup lengan dan kaki. Tapi yang saya lihat di Thailand itu sangat berbeda dengan apa yang saya alami sepanjang hidup saya. Ini yang kemudian membuat saya berfikir saat itu bahwa perempuan Thailand sangat tidak sopan memasuki rumah ibadah mereka sendiri. Padahal dalam hal ini, saya dibesarkan dengan konteks yang berbeda dan perempuan Thailand juga dibesarkan dengan konteks yang berbeda, sehingga saya tidak punya hak untuk menghakimi perempuan Thailand dengan konteks yang saya alami.

Menurut Montaigne, memiliki ‘big brain’ ternyata juga membuat kita arogan dan merasa bahwa kita tahu apa yang benar dan memaksakan kebenaran yang kita yakini pada orang lain. Setiap masyarakat mempunyai kebenarannya sendiri tentang apa yang baik untuk mereka makan, mereka pakai dan mereka katakan. Misalnya saja, pernah pemerintah Indonesia memaksakan penduduk di daerah pedalaman untuk memakai baju. Menurut pemerintah kala itu, tidak memakai baju itu tidak pantas. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Columbus pada penduduk Indian, saat Columbus, si penjelajah Spanyol itu menduduki benua Amerika. 40 tahun sebelum Montaigne dilahirkan, Columbus menemukan benua Amerika dan membunuh orang-orang Indian yang awalnya berjumlah 80 juta jiwa menjadi hanya 10 juta jiwa saja. Banyak orang berpendapat bahwa pembunuhan itu dilakukan karena keinginan untuk menguasai tanah-tanah suku Indian. Tapi dalam pandangan Montaigne apa yang dilakukan itu adalah karena tidak adanya pemahaman toleransi dan memaksakan apa yang sesuai menurut Columbus pada orang-orang Indian. Jangan lupa, Columbus saat itu datang sebagai seorang explorer (penjelajah) untuk menemukan daerah baru. Saat itu, bagi setiap penjelajah (dan Penjajah) dikenal slogan tiga G yaitu Gold, Glory and Gospel; emas, kemenangan dan penyebaran aqidah. Dimanapun para penjajah tersebut selain membawa tentara mereka juga membawa pastor. Fungsi pastor yang dibawa, selain sebagai penyegar rohani para tentara dan pejabat negara yang ikut dalam ekspedisi tersebut, juga menyebarkan agama yang dianut para penjajah pada penduduk lokal. Kebanyakan para penjajah tersebut adalah beragama katolik dan banyak dari mereka yang menjadi penganut katolik yang taat. Katolik yang taat disini maksudnya adalah mereka yang meyakini bahwa budaya merekalah yang benar, sehingga orang-orang diluar budaya mereka dianggap salah. Oleh karenanya menurut mereka, tidak salah untuk membunuh orang-orang yang tidak sama dengan ‘kita’ seperti orang-orang Indian tadi. Inilah mengapa Montaigne menduga bahwa pembunuhan yang dilakukan itu bukan hanya karena ingin menguasai tanah-tanah orang Indian, tapi karena keinginan memaksakan apa yang sesuai menurut Columbus kepada orang Indian.

Kembali kepada statement saya saat berkunjung ke Thailand dan melihat perempuan yang tidak memakai baju yang ‘pantas’ untuk memasuki wat. Saat itu saya telah berprasangka dan menghakimi si perempuan dengan mengatakan (dalam hati) perempuan itu salah memasuki wat dengan menggunakan pakaian ‘you can see’. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan prasangka? Jawabannya adalah pergilah berjalan-jalan. Lihat dan kenali budaya dan kebiasaan orang lain. Harus diakui bahwa setiap kultur mempunyai prasangka buruk terhadap budaya yang lain. Tapi dengan berjalan-jalan, melihat budaya orang lain, maka akan menghilangkan prasangka buruk tersebut. Montaigne tidak menganjurkan untuk mencampuri budaya-budaya yang ada, tapi dia menekankan bahwa setiap budaya sama baiknya.

Dengan semangat inilah, saya mencoba untuk menjelajah, melihat dan membandingkan budaya orang lain. Membandingkan disini tidak berarti mencari perbedaan untuk menghakimi, tapi untuk mencoba mencari kesamaannya sehingga saya bisa memahami budaya mereka.

Untuk itu, saya perlu melakukan apa yang disebut dengan ‘get your hand dirty’, terlibat dalam kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Dengan cara demikian saya juga menjelaskan tentang budaya dan agama saya pada mereka.

Untuk menutup kuliah umum ini, saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Julia Suryakusuma, seorang columnist di the Jakarta Post. Katanya “the shock that result from pain is meant to trigger a new awareness. Unfortunately, many people choose to become angry and offended, and then close up in a defensive posture. This is much easier than reflecting, because a new awareness often entails us to change our attitude in life. And change is painful, even when it leads to something better” (kejutan yang disebabkan oleh rasa sakit dimaksudkan untuk memicu kesadaran baru. Sayangnya, banyak orang memilih menjadi marah dan tersinggung, dan kemudian menutup diri dengan postur bertahan. Ini jauh lebih mudah daripada merefleksikan diri/merenung, karena kesadaran baru sering kali menuntut kita untuk mengubah sikap kita dalam hidup. Dan perubahan itu menyakitkan, bahkan saat itu mengarah pada sesuatu yang lebih baik ").

Dari uraian yang sedemikian panjang ini, apakah anda menemukan kesamaan dengan dua kejadian di Quebec dan di Adelaide?



Sabtu, 06 Februari 2021

DESA PANCASILA

 


Keren kan nama desanya? Nama desa ini adalah pemberian dari Bupati Jember tahun 2018 lalu. Ini dikarenakan di desa tersebut terdapat 4 jenis agama yang hidup rukun. Saya mengetahui desa ini dari proposal penelitian mahasiswa untuk skripsinya. Saya tertarik untuk tau lebih banyak lagi dan meminta mahasiswa tersebut untuk menemani saya ke desa tadi.

Kami merencanakan untuk datang di hari libur supaya tidak mengganggu aktivitas kami. Saya memutuskan untuk datang di hari Sabtu saja agar lebih santai. Karena lokasinya yang jauh (sekitar 1,5 jam naik mobil) saya memutuskan untuk menyewa mobil dan driver sekalian, karena saya tidak berani naik motor. Nomor kontak untuk menyewa mobil saya dapat dari Amri, dosen UNMUH yang orang Gayo itu. Awal tahun lalu kami pergi arisan ke daerah Wuluhan dan menyewa mobil dari orang yang sama.

Saya dan mahasiswa tadi sepakat untuk berangkat jam 10 pagi dari kampus, jadi saya arahkan mobil untuk menuju ke kampus juga.

Perjalanan kami menuju desa itu ternyata melewati jalan besar menuju Surabaya. Jalan ini adalah satu-satunya jalan besar menuju ke Surabaya sehingga lalu lintasnya padat sekali. Belum lagi jalannya yang sempit. Saya tidak membayangkan kalau saya harus naik motor dijalan ini. Ga kebayang saya harus rebutan sepetak jalan dengan bus, truk, mobil dan motor lainnya. Hiiiii.....

Desa itu bernama desa Suko Reno. Dalam bahasa Jawa berarti Suka Keragaman. Pas sekali dengan situasi desa yang memang beragam dalam hal agama. Di desa tersebut terdapat 4 jenis agama yaitu Islam,Katolik, Hindu dan Sapto Dharmo yaitu agama kepercayaan lokal. Di salah satu gang di desa tersebut, yaitu di gang 2, terdapat 2 rumah ibadah yang berdiri tidak begitu berjauhan.

Pertama sampai di gang itu, kami berhenti di depan sebuah kuil Hindu Bali. Kuil ini beda sekali dengan kuil yang ada di Banda Aceh. Kuil Hindu Bali ini disebut dengan pure, sedangkan di Banda Aceh kuil itu tetap disebut dengan kuil. Di Banda Aceh sebenarnya terdapat dua kuil Hindu, namun sekarang hanya tersisa satu. Menurut pengurus kuil tadi, pak Rada, karena jumlah pemeluk agama Hindu di Banda Aceh yang berkurang menyebabkan mereka tidak bisa mengurusi kedua kuil tad. Akhirnya kuil itu dijual dan sekarang telah berubah wujud menjadi rumah hunian. Pemeluk agama Hindu di Banda Aceh berkurang, akibat konflik yang terjadi di tahun 1976 sampai berhenti ditahun 2005 karena adanya MoU antara pemerintah Indonesia dan pihak GAM. Hindu Bali dan Hindu Tamil (yang ada di Aceh) juga berbeda dalam pelaksanaan hari raya keagamaannya. Jika di Bali dikenal dengan hari raya Nyepi, hari Saraswati, Galungan dan Kuningan maka Hindu Tamil mengenal hari raya Taipusam dan Devapali.

Kembali ke desa Suko Reno, setelah melihat-lihat di kuil, kami mengunjungi gereja Katolik yang bersebelahan dengan SD Katolik yang masih satu jalan dengan kuil tadi. Gereja ini bernama Gereja Santa Maria Tak Bernoda. Sebelum memasuki wilayah gereja, kami meminta izin dulu pada pengurus gereja yang rumahnya tidak jauh dari gereja tadi. Setelah beliau mengizinkan, kami lalu masuk ke pekarangan gereja. Bangunan gereja tertutup rapat. Ada flyer, yang di pasang di pintu depan yang menginfokan akan pemilihan ketua gereja. Menariknya, salah seorang yang menjadi kandidat bernama I Wayan. Ini mengingatkan saya pada penbimas Hindu yang ada di Banda Aceh. Namanya sangat Batak tapi dia beragama Hindu. Menarik sekali.

Dibagian belakang terdapat satu gedung yang baru dibuat, tapi saya tidak tau fungsinya apa. Sepertinya ingin dijadikan semacam gua Maria.

Dari gedung gereja tadi kami berpindah ke rumah pak Ris, si pengurus gereja. Ia ternyata guru di SD Katolik, bersama istrinya, ibu Rina. Ibu Rina adalah penduduk asli desa Suke reno, sedangkan pak Ris adalah orang Jawa yang sudah besar di Palembang. Mereka bertemu ketika sama-sama menempuh pendidikan seminari di Malang. Ketika menikah ditahun 1990an mereka memutuskan untuk tinggal di desa kelahiran ibu Rina. Pak Ris juga dipercayai sebagai anggota FKUB  di desanya.

Kami banyak mengobrol tentang kehidupan antar umat beragama di desa tersebut. Menurut bu Rina, belum pernah mereka mengalami diskriminasi karena mereka minoritas. Menariknya adalah apa yang beliau katakan tentang kehidupan beragama di desa ini. Kata Bu Rina, sangat biasa bagi muslim untuk datang pas misa Natal malam 24 Desember ke gereja. Orang-orang muslim ini tidak ikut beribadah, tetapi mereka menyaksikan acara persembahyangan itu. Selain itu ada banser NU yang menjaga gereja mereka dengan cara berjaga di luar gereja pada saat Misa Natal.

Bu Rina juga bercerita bagaimana sekolah mereka menyediakan guru-guru yang mengajar agama bagi murid-murid yang bersekolah disitu. Mereka mempunyai guru agama Islam dan agama Hindu; agama minoritas yang dipeluk oleh murid-murid di SD Katolik itu. Murid-murid mereka yang muslim ada yang sampai hafal Hadist sampai 100 dan melanjutkan sekolah mereka di Alqodiri, pesantren besar yang ada di Jember ini. Pihak pesantren salut pada murid SDK yang masuk ke pesantren mereka karena bisa menghafal hadist yang dipesantren sendiri belum tentu ada yang sampai hafal sampai 100. Karena kepintaran ini, keluarga-keluarga muslim yang lain juga menyekolahkan anak-anak mereka di SDK ini. Tapi mayoritas muslim yang bersekolah disitu adalah mereka yang masih bertalian darah seperti adik atau sepupu.




Di Gang 2 tersebut kami melihat dua kuil Hindu Bali dan satu gereja Katolik. Sayangnya kami tidak sempat melihat ke mesjid (saya sendiri tidak tau mesjidnya ada di gang berapa). Bagi para pemeluk agama Hindu di desa tersebut, mereka memiliki semacam tempat untuk sembahyang yang dibuat dari batu yang diletakkan di depan rumah mereka. Ini mengingatkan saya pada rumah-rumahan kecil di depan rumah para pemeluk agama Buddha di Thailand. Hampir di setiap rumah di Thailand, bagi mereka yang memeluk agama Buddha, kita bisa temukan semacam rumah kecil di depan setiap rumah yang fungsinya untuk bersembahyang. Tempat sembahyang di depan rumah para pemeluk agama Hindu di desa ini juga mengingatkan saya pada Palang Salib raksasa (biasanya 3 palang salib) yang dipasang di depan rumah penduduk di daerah NTT, ketika saya berkunjung di tahun 2018 lalu. Bagi saya, ini mengkhawatirkan sekali. Jika saja terjadi konflik antar agama, maka rumah-rumah mereka yang mempunyai simbol ini adalah sasaran empuk yang akan diserang, karena simbol agama yang mereka miliki itu. Tentang penyerangan rumah yang mempunyai simbol-simbol agama, dituliskan dalam artikel Jacky Manuputy 'Dari Tarian Perang ke Tarian Damai' dimana dalam tulisan tersebut Jacky menceritakan kasus perang antara Islam dan Kristen di Maluku Utara. Dalam tulisan itu Jacky mengisahkan bahwa rumah-rumah tentara, meski dalam kompleks, dilempari orag-orang, karena terlihat adanya gambar Yesus di dalam rumah, karena terlihat dari jendela yang terbuka (Jacky Manuputty, hal. 20). 

Kami juga sempat mengunjungi satu tempat peribadatan komunitas agama lokal yaitu pemeluk agama Sapta Dharma. Ketika mengunjungi tempat tersebut, saya kesulitan berkomunikasi dengan bapak yang menjaga disitu, karena ia berbicara dalam bahasa Jawa. Untung mahasiswa saya bisa menerjemahkan kata yang saya tidak mengerti. Sibapak bilang bahwa agama ini berkembang pertama sekali di Pare, Jawa Timur pada tahun 1952. Berkembang sampai ke desa Suko Reno sejak tahun 1970an. Awalnya pengikut agama lokal ini sebanyak 70an orang , namun sekarang menyusut hanya sebanyak 25 orang, bahkan pernah hanya sebanyak 10 orang saja. Mereke berkumpul dan berdo’a pada malam Jumat di ruangan kecil di belakang rumah milik si bapak. Sebenarnya mereka ingin sekali mendirikan tempat ibadah mereka, namun karena pengikutnya yang sangat sedikit, mereka tidak mendapatkan izin dari pemerintah karena ada aturan pendirian rumah ibadah dimana UU itu mengatakan harus ada pengumpulan KTP pengguna rumah ibadah tersebut sebanyak 90 orang dan KTP dari masyarakat sekitar yang bukan pengguna rumah ibadah tadi sebanyak 60 orang dan disahkan oleh pemerintah setempat.

Banyak yang mengatakan bahwa toleransi bukan dipelajari, melainkan dialami, maka desa ini adalah salah satu contoh betapa sebenarnya merawat keberagaman dan menjaga toleransi itu mudah saja. Sepanjang kita mau terbuka dan menerima apa yang berbeda dari kita. Perbedaan tersebut akan menghadirkan pengalaman bagi masyarakat disekitar tersebut yang beragam, lalu akan menjadi norma kehidupan mereka dan akan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang dianggap kecil seperti ini sebanarnya mutlak diperlukan di tengah Indonesia yang sangat beragam ini. Jika tidak bisa menerima perbedaan seperti desa Suko Reno ini, maka kita akan sangat mudah untuk dipecah belah.

Selasa, 30 Januari 2018

Ziarah Kubur



Hari ini Henny menelpon, mengajak ziarah kesalah seorang anggota MAF yang tewas tenggelam tahun 2010 lalu. Ceritanya, pada saat itu si bule sedang berenang di Lhoknga, tiba-tiba ada anak umur 12 tahun yang akan tenggelam. Dia langsung menolong anak tadi. Sayangnya dia dan anak tadi malah ikut tenggelam. Temannya yang lain, yang ikut menolong, selamat. Tapi dia tidak terselamatkan. Sianak menghilang, satu hari kemudian ditemukan, masih di pantai Lhoknga, sudah menjadi mayat.
Aku sering mendengar cerita ini dari Henny. Dia sering bercerita bagaimana tegarnya istri si penolong ini tadi. Ternyata hari ini beliau datang ke Aceh dan ingin mengunjungi makam suaminya, bersama sang anak yang kini sudah berumur 10 tahun. Henny bercerita bagaimana si anak, ketika ayahnya meninggal malah sangat senang karena banyak sekali orang dirumah. Si anak ketika itu berumur 2 tahun, sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dirumah mereka.


Kini, si istri dan si anak datang lagi ke Aceh. Mereka mengunjungi makam suami dan ayah mereka. Biaya kedatangan di tanggung oleh perusahaan dimana si suami dulu bekerja. Karena perusahaan ini akan tutup di Aceh, perusahaan memberi kesempatan untuk si istri dan anaknya melihat makam suaminya untuk terakhir kalinya.

Dari apa yang aku dengar dari teman yang mengajakku mengunjungi makam ini, Ben (demikian nama si korban) sudah mengetahui bahwa dia akan mati muda. Ben lahir tahun 1980 dan meninggal tahun 2010. Ketika ia masih pacaran dengan si istri, ia telah memberitahu bahwa ia akan mati muda dan menanyakan pada si istri apakah dia masih akan mau menikah dengannya. Mungkin karena sudah diberitahu terlebih dahulu, menurut cerita temanku,si istri terlihat begitu tegar ketika mengetahui kematian suaminya. 

Kini, setelah 8 tahun, si istri dan anaknya datang ke Aceh untuk menjenguk makam si suami. Tadi, kami bertujuh datang mengunjungi makam itu. Makam itu mempunyai pusara yang berbeda dengan makam lainnya. Makam Ben dibuat dari batu kecil-kecil (batu yang lebih besar sedikit dari pasir) dan ada nisan disertai dengan foto Ben di nisan itu. Juga ada testimony yang tertulis di nisan itu.

Yang menarik adalah ternyata tiga tahun lalu si istri menikah lagi. Kini dia punya dua anak dari suaminya yang sekarang, Jordan (2th) dan Juli (6 bln). Suami yang sekarang adalah teman baik suaminya yang dulu. Aku sempat terpana ketika melihat bagaimana si istri menggunakan handphonenya menelpon si suami di Amerika sana dan menshoot makam tadi. Bagi pemikiran mereka yang konservatif (aku termasuk kali ya, hehehe) sangat heran melihat si suami yang tenang-tenang saja menerima shootingan istrinya, dan si suami tidak cemburu dengan apa yang dilakukan oleh si istri. Bagi sebagian orang, mungkin kehidupan yang lalu sudah selesai dan tidak perlu diungkit-ungkit kepada suami yang baru. Tapi untuk kasus ini lain. Saya sangat kagum melihat bagaimana si istri begitu tenangnya menunjukkan gambar makam almarhum suaminya pada suaminya sekarang. Sianak yang sudah berumur 10 tahun juga terlihat biasa saja ketika mengatakan pada ayah tirinya, bahwa ia sedang berada di makam ayahnya. 

Aku termangu melihat moment itu.

Temanku bercerita bahwa anaknya itu sangat mirip bapaknya yang telah meninggal. Selain mirip wajah, si anak juga punya kemiripan yang lain dengan si ayah almarhum, yaitu hobi pada hal mekanik. Ayah tiri yang sekarang adalah seorang seniman, sehingga si ayah sekarang suka kelabakan untuk menjawab pertanyaan si anak yang melulu berkaitan dengan mekanik. Menurut Henny, mungkin inilah yang menjadi permasalahan bagi mereka yang mempunyai anak tiri. Terkadang karena perbedaan selera dan minat membuat orang tua tiri tidak bisa dekat dengan anaknya.

Pengalaman hari ini begitu berharga. Saya jadi mengetahui bahwa terkadang kita tidak bisa hanya bersandar pada cinta. Toh cinta itu bisa hilang seketika. Dalam cinta, ada hal realistis yang juga perlu difikirkan. Life must go on….





Berita tentang Ben:
 
(http://beritasore.com/2010/11/11/pantai-lhoknga-berbahaya-warga-as-tewas-tenggelam/)