Sabtu, 30 Juli 2016

Kerjasama pemerintah dan LSM



Tulisan berikut ini mencoba melihat tentang kerjasama antara pemerintah dan LSM di Montreal, Kanada. Ini terinspirasi dari kunjungan-kunjungan dibeberapa lembaga kemanusiaan di Montreal. Dibeberapa tempat kami menemukan bagaimana lembaga –lembaga itu ternyata disupport oleh pemerintah.

            Aku menanyakan hal tersebut pada dosen yang mengajar kami tentang social work. Ternyata, di Kanada hampir 80% dana dari setiap lembaga swadaya masyarakat itu didanai oleh pemerintah. Jadi, hanya 20% saja dana tersebut dicari oleh LSM tadi. Bagaimana hal ini bisa terjadi? 

            Aku mencoba menggali informasi yang lain lagi tentang kerjasama pemerintah dan LSM. Dosenku bilang bahwa selain dari pemerintah ada lagi lembaga lain yang bekerja untuk kemanusiaan yaitu gereja dan LSM. Tapi, gereja seringnya hanya membantu mereka yang berasal dari agama yang sama atau yang seperspektif dengan mereka. Inilah yang menyebabkan mengapa banyak orang meninggalkan gereja pada tahun 1960an hingga saat ini. Masyarakat berfikir bahwa semua masyarakat di Montreal membayar pajak, jadi seharusnya pajak itu bisa dinikmati oleh semua orang bukan hanya oleh 1 golongan saja, seperti apa yang sudah dilakukan oleh gereja. Jadi, harusnya ada lembaga yang juga bergerak untuk membatu masyarakat, bukan hanya gereka dan pemerintah. Maka pemerintahpun mencoba mencari alternative. Dan alternative itu didapat pada Lembaga Swadaya Masyarakat.

            Pemerintah kemudian melihat bahwa LSM juga punya keinginan yang sama dengan mereka yaitu mengentaskan kemiskinan. Lalu, pemerintah membuka kesempatan bagi semua LSM untuk bekerjasama dengan pemerintah. Terlebih dahulu pemerintah membuat ketentuan-ketentuan agar dapat bekerjasama. Dari semua berkas-berkas lembaga yang masuk maka pemerintah menyeleksi lembaga mana yang pantas untuk bekerja sama. Dengan cara seperti ini, maka LSM dan pemerintah dapat bekerjasama untuk mengentaskan kemiskinan. Contoh congkrit untuk hal ini adalah CLSC, (lembaga yang focus pada kesehatan), dans la rue (lembaga yang mengurusi anak-anak jalanan), day care (tempat penitipan anak bagi kedua orang tua yang bekerja), logifem (lembaga yang fokus pada KDRT) dan welcome hall mission (lembaga yang focus membantu tunawisma). Ini adalah beberapa contoh LSM yang mendapat bantuan dari pemerintah di MOntreal. Awal kerjasama ini mulai tergalang sejak tahun 1980an. Inilah awal dimana LSM dan pemerintah di Kanada mulai bekerjasama.

            Salah satu yang saya angkat disini adalah Welcome Hall Mission. Lembaga ini sudah berusia sekitar 185 tahun. Karena sudah sangat tua dan dikenal masyarakat maka kredibilitas lembaga ini dipercaya oleh masyarakat untuk bekerja dimasalah-masalah sosial, terutama masalah tuna wisma, karena memang fokus lembaga ini adalah memberdayakan para tuna wisma.

            Saya sempat bertanya bagaimana pemerintah bisa memastikan bahwa untuk tahun depan, lembaga-lembaga tersebut akan lagi mendapatkan bantuan pemerintah. Salah seorang pimpinan lembaga tersebut (Logifem) mengatakan bahwa setiap tahun semua lembaga yang bekerjasama dengan pemerintah harus memberikan laporannya pada instansi yang memberikan dana. Dengan cara ini maka instansi tersebut akan melihat apakah kegiatan yang dilakukan itu sudah sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan yang mereka buat diawal-awal kegiatan. Jika laporan yang diberikan itu baik, maka kemungkinan untuk melanjutkan pekerjaan tersebut ketahun depannya akan bisa dilakukan lagi. Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa laporan yang dibuat itu tidak sesuai dengan apa yang sudah disepakati diawal MoU, sehingga lembaga tadi tidak akan mendapat bantuan lagi dari pemerintah. Akhirnya, akan ada 2 kemungkinan yang terjadi pada lembaga tadi, kalau tidak tutup maka mereka harus mencari funding yang lain.  

            Setelah mendalami kerjasama pemerintah dan LSM, pertanyaan saya beberapa tahun yang lalu saat masih berdomisili di Jogjakarta baru saya dapatkan jawabannya. Dulu, waktu semasih di Jogjakarta, salah seorang teman baru saya bekerja di lembaga yang mendapatkan bantuan dana dari Dinas koperasi. Saat itu saya sempat heran, bagaimana mungkin LSM mendapat dana dari pemerintah? Bukankah LSM, seringnya, selalu tidak pernah setuju dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah? Lha… koq bisa ini LSM mendapat “pekerjaan”dari pemerintah? 

Pengalaman yang sama juga saya dapatkan saat mengikut kegiatan pelatihan HAM dan demokrasi di Korea Selatan. Saat itu, saya juga sempat bertanya-tanya bagaimana mungkin pemerintah memberikan dana pada LSM, dengan kata lain membantu kegiatan LSM, padahal bukankah selama ini LSM selalu menjadikan pemerintah sebagai rival mereka?

            Setelah 1 bulan di Montreal, saya baru medapatkan jawaban atas pertanyaan saya 8 tahun lalu (saat di Jogja) dan pertanyaan saya 3 tahun lalu saat di Korea Selatan. Bahwa LSM juga bisa bermitra dengan pemerintah. Bahkan inilah cara yang terbaik, karena kedua kubu ingin mensejahterakan rakyat, fokus mereka adalah rakyat. Maka alangkah baiknya jika keduanya bisa berkolaborasi.

            Jika melihat apa yang dilakukan oleh Gender Working Group (GWG), maka saya melihat ada kemiripan dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Kanada dan Korea Selatan. Maksud saya, meski pemerintah Aceh dalam hal ini belum memberikan bantuan dana bagi lembaga-lembaga yang tergabung dalam Gender Working Group, tapi kerjasama yang dilakukan sudah merupakan langkah awal untuk bekerjasama kehal-hal yang lebih substansial lagi. Dana bukanlah satu-satunya sumber untuk dapat bekerja sama, tapi pengertian dan pemahaman yang sama juga merupakan salah satu indikator untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik. 

Dan kerja sama disini adalah hal yang paling penting. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Ibarat sapu lidi, sapu itu akan bisa bekerja dengan maksimal jika kita menggunakan banyak lidi. Begitu juga saat bertepuk tangan. Dengan hanya menggunakan 2 jari (satu jari tangan kanan dan satu jari tangan kiri), maka tidak akan terdengar suara dari dua jari itu, tapi dengan lima jari, maka akan nyaringlah suara yang terdengar dari 10 jari tadi. Maka, mari kita bekerja sama dan berkoordinasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar