Kamis, 25 Februari 2021

Michelle Du Montaigne

 




Quebec, Kanada 2008; seorang perempuan berjilbab sedang berjalan dengan memegang kotak Mc. Donald yang baru dibelinya di sudut Parliament Hill (gedung parlemen Kanada). Tiba-tiba seorang laki-laki berkulit putih yang memakai jas hitam dan memegang payung menghampiri dan berkata ‘ you cannot eat that, it is haram!!”. Usai berkata iapun berlalu. Tinggal si perempuan sendirian, melongo. 

Adelaide, Australia 2009; di toilet perempuan di kampus, seorang perempuan berjilbab mendengar teman Indonesianya sedang diajar berwudhu yang benar oleh seorang perempuan Arab Saudi.


Apa hubungan dua kisah itu  dengan judul diatas? Saya akan mencoba membahasnya.


Montaigne adalah seorang Filusuf Perancis yang dianggap nyeleneh. Ia lahir tahun 1533. Diusia 38 tahun ia memtuskan untuk pension dari jabatannya sebagai walikotas Bordeaux. Ia dua kali menjabat sebagai Walikota di wilayah tersebut. Selain itu ia juga seorang pengacara dan sahabat dekat raja Perancis.

Montaigne memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktunya untuk berfikir, merenung dan menulis buku. Awalnya ia kesulitan untuk menulis tentang apa, tapi kemudian memutuskan untuk menulis tentang dirinya. Dibukunya dia menulis ingin menjadi seperti apa. Dia ingin menjadi dirinya sendiri sebagai Michelle du Montaigne. Hal yang tidak disebut oleh banyak filusif lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Montaigne. Dia mencoba merefleksikan bagaimana menkadi seorang manusia. Dalam bukunya, dia banyak menulis tentang –maaf- penisnya. Bagian tubuhn yang tidak pernah dibicarakan oleh filusuf lain, bahkan sering diedit oleh editor jika ada tulisan seperti itu karena dianggap tidak pantas untuk ditulis apalagi dibaca.

 

Montaigne berpendapat bahwa kita terperangkap dalam role model yang salah. Role itu tidak memberi tempat bagaimana sebanarnya kita ingin berperilaku, dan ini menyebabkan kita tidak bisa menerima tubuh kita sendiri. Oleh karenanya Montaigne memilih menulis hal-hal yang dianggap ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu kita menerima keadaan tubuh kita sendiri. Karenanya dia sangat menganjurkan agar kita membandingkan kita dengan hewan yang ada dipekarangan rumah kita. Betapa, menurut Montaigne, hewan bisa menerima dirinya sendiri, mengapa kita tidak.

 

Jika Filusuf yang lain menganggap bahwa otak membuat kita bahagia, tidak demikian dengan Montaigne. Menurutnya, otak malah membuat kita menjadi tidak bahagia. Dan salah satu hal tersebut adalah karena kita membandingkan tubuh kita dengan tubuh orang lain. Tidak seperti binatang, kita sering sekali merasa jijik dengan tubuh kita sendiri. Kita merasa terlalu gemuk sehingga menyebabkan eating disorder. Montaigne melihat sendiri bagaimana seorang bangsawan bunuh diri hanya karena –maaf- kentut saat acara makan malam. Montaigne tau masalahnya. Ini karena bagian tubuh tersebut jarang sekali muncul ditempat umum, dan tidak pernah disebut-sebut dalam buku filosophi manapun. Oleh karenanya kita merasa bahwa bagian tersebut adalah bagian tubuh yang memalukan. Karenanya dia berpendapat bahwa karena didalam tubuh kita juga terdapat sebagian tubuh binatang, maka terimalah dia apa adanya.

 

Hal lain adalah Montaigne berbicara tentang perasaan tidak nyaman karena sekeliling kita menghakimi kita, apakah itu budaya ataupun kebiasaan orang-orang disekeliling kita. Saat mengikuti program Kapal pemuda ASEAN-Jepang tahun 1996, saya terkaget-kaget mengetahui bahwa perempuan-perempuan (dan laki-laki) Jepang mandi di bath tub tanpa menggunakan benang sehelaipun alias telanjang. Begitu juga saat saya berkuliah di Thailand tahun 2003 saya terkejut melihat perempuan memasuki wat (candi) hanya dengan baju ‘u can see’. Dalam kehidupan saya yang dibesarkan dengan tradisi muslim, mengunjungi tempat ibadah haruslah dengan pakaian yang sopan yaitu meski tidak menggunakan jilbab tapi pakailah pakaian yang menutup lengan dan kaki. Tapi yang saya lihat di Thailand itu sangat berbeda dengan apa yang saya alami sepanjang hidup saya. Ini yang kemudian membuat saya berfikir saat itu bahwa perempuan Thailand sangat tidak sopan memasuki rumah ibadah mereka sendiri. Padahal dalam hal ini, saya dibesarkan dengan konteks yang berbeda dan perempuan Thailand juga dibesarkan dengan konteks yang berbeda, sehingga saya tidak punya hak untuk menghakimi perempuan Thailand dengan konteks yang saya alami.

Menurut Montaigne, memiliki ‘big brain’ ternyata juga membuat kita arogan dan merasa bahwa kita tahu apa yang benar dan memaksakan kebenaran yang kita yakini pada orang lain. Setiap masyarakat mempunyai kebenarannya sendiri tentang apa yang baik untuk mereka makan, mereka pakai dan mereka katakan. Misalnya saja, pernah pemerintah Indonesia memaksakan penduduk di daerah pedalaman untuk memakai baju. Menurut pemerintah kala itu, tidak memakai baju itu tidak pantas. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Columbus pada penduduk Indian, saat Columbus, si penjelajah Spanyol itu menduduki benua Amerika. 40 tahun sebelum Montaigne dilahirkan, Columbus menemukan benua Amerika dan membunuh orang-orang Indian yang awalnya berjumlah 80 juta jiwa menjadi hanya 10 juta jiwa saja. Banyak orang berpendapat bahwa pembunuhan itu dilakukan karena keinginan untuk menguasai tanah-tanah suku Indian. Tapi dalam pandangan Montaigne apa yang dilakukan itu adalah karena tidak adanya pemahaman toleransi dan memaksakan apa yang sesuai menurut Columbus pada orang-orang Indian. Jangan lupa, Columbus saat itu datang sebagai seorang explorer (penjelajah) untuk menemukan daerah baru. Saat itu, bagi setiap penjelajah (dan Penjajah) dikenal slogan tiga G yaitu Gold, Glory and Gospel; emas, kemenangan dan penyebaran aqidah. Dimanapun para penjajah tersebut selain membawa tentara mereka juga membawa pastor. Fungsi pastor yang dibawa, selain sebagai penyegar rohani para tentara dan pejabat negara yang ikut dalam ekspedisi tersebut, juga menyebarkan agama yang dianut para penjajah pada penduduk lokal. Kebanyakan para penjajah tersebut adalah beragama katolik dan banyak dari mereka yang menjadi penganut katolik yang taat. Katolik yang taat disini maksudnya adalah mereka yang meyakini bahwa budaya merekalah yang benar, sehingga orang-orang diluar budaya mereka dianggap salah. Oleh karenanya menurut mereka, tidak salah untuk membunuh orang-orang yang tidak sama dengan ‘kita’ seperti orang-orang Indian tadi. Inilah mengapa Montaigne menduga bahwa pembunuhan yang dilakukan itu bukan hanya karena ingin menguasai tanah-tanah orang Indian, tapi karena keinginan memaksakan apa yang sesuai menurut Columbus kepada orang Indian.

Kembali kepada statement saya saat berkunjung ke Thailand dan melihat perempuan yang tidak memakai baju yang ‘pantas’ untuk memasuki wat. Saat itu saya telah berprasangka dan menghakimi si perempuan dengan mengatakan (dalam hati) perempuan itu salah memasuki wat dengan menggunakan pakaian ‘you can see’. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan prasangka? Jawabannya adalah pergilah berjalan-jalan. Lihat dan kenali budaya dan kebiasaan orang lain. Harus diakui bahwa setiap kultur mempunyai prasangka buruk terhadap budaya yang lain. Tapi dengan berjalan-jalan, melihat budaya orang lain, maka akan menghilangkan prasangka buruk tersebut. Montaigne tidak menganjurkan untuk mencampuri budaya-budaya yang ada, tapi dia menekankan bahwa setiap budaya sama baiknya.

Dengan semangat inilah, saya mencoba untuk menjelajah, melihat dan membandingkan budaya orang lain. Membandingkan disini tidak berarti mencari perbedaan untuk menghakimi, tapi untuk mencoba mencari kesamaannya sehingga saya bisa memahami budaya mereka.

Untuk itu, saya perlu melakukan apa yang disebut dengan ‘get your hand dirty’, terlibat dalam kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Dengan cara demikian saya juga menjelaskan tentang budaya dan agama saya pada mereka.

Untuk menutup kuliah umum ini, saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Julia Suryakusuma, seorang columnist di the Jakarta Post. Katanya “the shock that result from pain is meant to trigger a new awareness. Unfortunately, many people choose to become angry and offended, and then close up in a defensive posture. This is much easier than reflecting, because a new awareness often entails us to change our attitude in life. And change is painful, even when it leads to something better” (kejutan yang disebabkan oleh rasa sakit dimaksudkan untuk memicu kesadaran baru. Sayangnya, banyak orang memilih menjadi marah dan tersinggung, dan kemudian menutup diri dengan postur bertahan. Ini jauh lebih mudah daripada merefleksikan diri/merenung, karena kesadaran baru sering kali menuntut kita untuk mengubah sikap kita dalam hidup. Dan perubahan itu menyakitkan, bahkan saat itu mengarah pada sesuatu yang lebih baik ").

Dari uraian yang sedemikian panjang ini, apakah anda menemukan kesamaan dengan dua kejadian di Quebec dan di Adelaide?



Sabtu, 06 Februari 2021

DESA PANCASILA

 


Keren kan nama desanya? Nama desa ini adalah pemberian dari Bupati Jember tahun 2018 lalu. Ini dikarenakan di desa tersebut terdapat 4 jenis agama yang hidup rukun. Saya mengetahui desa ini dari proposal penelitian mahasiswa untuk skripsinya. Saya tertarik untuk tau lebih banyak lagi dan meminta mahasiswa tersebut untuk menemani saya ke desa tadi.

Kami merencanakan untuk datang di hari libur supaya tidak mengganggu aktivitas kami. Saya memutuskan untuk datang di hari Sabtu saja agar lebih santai. Karena lokasinya yang jauh (sekitar 1,5 jam naik mobil) saya memutuskan untuk menyewa mobil dan driver sekalian, karena saya tidak berani naik motor. Nomor kontak untuk menyewa mobil saya dapat dari Amri, dosen UNMUH yang orang Gayo itu. Awal tahun lalu kami pergi arisan ke daerah Wuluhan dan menyewa mobil dari orang yang sama.

Saya dan mahasiswa tadi sepakat untuk berangkat jam 10 pagi dari kampus, jadi saya arahkan mobil untuk menuju ke kampus juga.

Perjalanan kami menuju desa itu ternyata melewati jalan besar menuju Surabaya. Jalan ini adalah satu-satunya jalan besar menuju ke Surabaya sehingga lalu lintasnya padat sekali. Belum lagi jalannya yang sempit. Saya tidak membayangkan kalau saya harus naik motor dijalan ini. Ga kebayang saya harus rebutan sepetak jalan dengan bus, truk, mobil dan motor lainnya. Hiiiii.....

Desa itu bernama desa Suko Reno. Dalam bahasa Jawa berarti Suka Keragaman. Pas sekali dengan situasi desa yang memang beragam dalam hal agama. Di desa tersebut terdapat 4 jenis agama yaitu Islam,Katolik, Hindu dan Sapto Dharmo yaitu agama kepercayaan lokal. Di salah satu gang di desa tersebut, yaitu di gang 2, terdapat 2 rumah ibadah yang berdiri tidak begitu berjauhan.

Pertama sampai di gang itu, kami berhenti di depan sebuah kuil Hindu Bali. Kuil ini beda sekali dengan kuil yang ada di Banda Aceh. Kuil Hindu Bali ini disebut dengan pure, sedangkan di Banda Aceh kuil itu tetap disebut dengan kuil. Di Banda Aceh sebenarnya terdapat dua kuil Hindu, namun sekarang hanya tersisa satu. Menurut pengurus kuil tadi, pak Rada, karena jumlah pemeluk agama Hindu di Banda Aceh yang berkurang menyebabkan mereka tidak bisa mengurusi kedua kuil tad. Akhirnya kuil itu dijual dan sekarang telah berubah wujud menjadi rumah hunian. Pemeluk agama Hindu di Banda Aceh berkurang, akibat konflik yang terjadi di tahun 1976 sampai berhenti ditahun 2005 karena adanya MoU antara pemerintah Indonesia dan pihak GAM. Hindu Bali dan Hindu Tamil (yang ada di Aceh) juga berbeda dalam pelaksanaan hari raya keagamaannya. Jika di Bali dikenal dengan hari raya Nyepi, hari Saraswati, Galungan dan Kuningan maka Hindu Tamil mengenal hari raya Taipusam dan Devapali.

Kembali ke desa Suko Reno, setelah melihat-lihat di kuil, kami mengunjungi gereja Katolik yang bersebelahan dengan SD Katolik yang masih satu jalan dengan kuil tadi. Gereja ini bernama Gereja Santa Maria Tak Bernoda. Sebelum memasuki wilayah gereja, kami meminta izin dulu pada pengurus gereja yang rumahnya tidak jauh dari gereja tadi. Setelah beliau mengizinkan, kami lalu masuk ke pekarangan gereja. Bangunan gereja tertutup rapat. Ada flyer, yang di pasang di pintu depan yang menginfokan akan pemilihan ketua gereja. Menariknya, salah seorang yang menjadi kandidat bernama I Wayan. Ini mengingatkan saya pada penbimas Hindu yang ada di Banda Aceh. Namanya sangat Batak tapi dia beragama Hindu. Menarik sekali.

Dibagian belakang terdapat satu gedung yang baru dibuat, tapi saya tidak tau fungsinya apa. Sepertinya ingin dijadikan semacam gua Maria.

Dari gedung gereja tadi kami berpindah ke rumah pak Ris, si pengurus gereja. Ia ternyata guru di SD Katolik, bersama istrinya, ibu Rina. Ibu Rina adalah penduduk asli desa Suke reno, sedangkan pak Ris adalah orang Jawa yang sudah besar di Palembang. Mereka bertemu ketika sama-sama menempuh pendidikan seminari di Malang. Ketika menikah ditahun 1990an mereka memutuskan untuk tinggal di desa kelahiran ibu Rina. Pak Ris juga dipercayai sebagai anggota FKUB  di desanya.

Kami banyak mengobrol tentang kehidupan antar umat beragama di desa tersebut. Menurut bu Rina, belum pernah mereka mengalami diskriminasi karena mereka minoritas. Menariknya adalah apa yang beliau katakan tentang kehidupan beragama di desa ini. Kata Bu Rina, sangat biasa bagi muslim untuk datang pas misa Natal malam 24 Desember ke gereja. Orang-orang muslim ini tidak ikut beribadah, tetapi mereka menyaksikan acara persembahyangan itu. Selain itu ada banser NU yang menjaga gereja mereka dengan cara berjaga di luar gereja pada saat Misa Natal.

Bu Rina juga bercerita bagaimana sekolah mereka menyediakan guru-guru yang mengajar agama bagi murid-murid yang bersekolah disitu. Mereka mempunyai guru agama Islam dan agama Hindu; agama minoritas yang dipeluk oleh murid-murid di SD Katolik itu. Murid-murid mereka yang muslim ada yang sampai hafal Hadist sampai 100 dan melanjutkan sekolah mereka di Alqodiri, pesantren besar yang ada di Jember ini. Pihak pesantren salut pada murid SDK yang masuk ke pesantren mereka karena bisa menghafal hadist yang dipesantren sendiri belum tentu ada yang sampai hafal sampai 100. Karena kepintaran ini, keluarga-keluarga muslim yang lain juga menyekolahkan anak-anak mereka di SDK ini. Tapi mayoritas muslim yang bersekolah disitu adalah mereka yang masih bertalian darah seperti adik atau sepupu.




Di Gang 2 tersebut kami melihat dua kuil Hindu Bali dan satu gereja Katolik. Sayangnya kami tidak sempat melihat ke mesjid (saya sendiri tidak tau mesjidnya ada di gang berapa). Bagi para pemeluk agama Hindu di desa tersebut, mereka memiliki semacam tempat untuk sembahyang yang dibuat dari batu yang diletakkan di depan rumah mereka. Ini mengingatkan saya pada rumah-rumahan kecil di depan rumah para pemeluk agama Buddha di Thailand. Hampir di setiap rumah di Thailand, bagi mereka yang memeluk agama Buddha, kita bisa temukan semacam rumah kecil di depan setiap rumah yang fungsinya untuk bersembahyang. Tempat sembahyang di depan rumah para pemeluk agama Hindu di desa ini juga mengingatkan saya pada Palang Salib raksasa (biasanya 3 palang salib) yang dipasang di depan rumah penduduk di daerah NTT, ketika saya berkunjung di tahun 2018 lalu. Bagi saya, ini mengkhawatirkan sekali. Jika saja terjadi konflik antar agama, maka rumah-rumah mereka yang mempunyai simbol ini adalah sasaran empuk yang akan diserang, karena simbol agama yang mereka miliki itu. Tentang penyerangan rumah yang mempunyai simbol-simbol agama, dituliskan dalam artikel Jacky Manuputy 'Dari Tarian Perang ke Tarian Damai' dimana dalam tulisan tersebut Jacky menceritakan kasus perang antara Islam dan Kristen di Maluku Utara. Dalam tulisan itu Jacky mengisahkan bahwa rumah-rumah tentara, meski dalam kompleks, dilempari orag-orang, karena terlihat adanya gambar Yesus di dalam rumah, karena terlihat dari jendela yang terbuka (Jacky Manuputty, hal. 20). 

Kami juga sempat mengunjungi satu tempat peribadatan komunitas agama lokal yaitu pemeluk agama Sapta Dharma. Ketika mengunjungi tempat tersebut, saya kesulitan berkomunikasi dengan bapak yang menjaga disitu, karena ia berbicara dalam bahasa Jawa. Untung mahasiswa saya bisa menerjemahkan kata yang saya tidak mengerti. Sibapak bilang bahwa agama ini berkembang pertama sekali di Pare, Jawa Timur pada tahun 1952. Berkembang sampai ke desa Suko Reno sejak tahun 1970an. Awalnya pengikut agama lokal ini sebanyak 70an orang , namun sekarang menyusut hanya sebanyak 25 orang, bahkan pernah hanya sebanyak 10 orang saja. Mereke berkumpul dan berdo’a pada malam Jumat di ruangan kecil di belakang rumah milik si bapak. Sebenarnya mereka ingin sekali mendirikan tempat ibadah mereka, namun karena pengikutnya yang sangat sedikit, mereka tidak mendapatkan izin dari pemerintah karena ada aturan pendirian rumah ibadah dimana UU itu mengatakan harus ada pengumpulan KTP pengguna rumah ibadah tersebut sebanyak 90 orang dan KTP dari masyarakat sekitar yang bukan pengguna rumah ibadah tadi sebanyak 60 orang dan disahkan oleh pemerintah setempat.

Banyak yang mengatakan bahwa toleransi bukan dipelajari, melainkan dialami, maka desa ini adalah salah satu contoh betapa sebenarnya merawat keberagaman dan menjaga toleransi itu mudah saja. Sepanjang kita mau terbuka dan menerima apa yang berbeda dari kita. Perbedaan tersebut akan menghadirkan pengalaman bagi masyarakat disekitar tersebut yang beragam, lalu akan menjadi norma kehidupan mereka dan akan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang dianggap kecil seperti ini sebanarnya mutlak diperlukan di tengah Indonesia yang sangat beragam ini. Jika tidak bisa menerima perbedaan seperti desa Suko Reno ini, maka kita akan sangat mudah untuk dipecah belah.

Selasa, 19 Januari 2021

Nonton Drama Korea

 


Udah dari beberapa tahun lalu pengen nonton drakor, tapi karena ga punya jaringan internet yang yahud, akhirnya niat nonton diurungkan. Bahkan waktu itu udah pengen pinjem DVDnya aja dari Tety Nasution (salah seorang adik di gerakan perempuan Aceh) yang suka banget nonton drakor. Tapi serialnya panjang banget, jadinya malas nonton.

Terus, ketika orang2 heboh di FB membicarakan tentang The World of Merried Couple, aku juga ga tergoda. Mba Lady juga menginformasikan saking hebohnya itu drakor, sampai diputar oleh satu TV swasta nasional. Aku tetap bergeming, ga pengen nonton.

Sampai kemudian, aku nanya Cindy (asisten peneliti di kantor) eh...Arum kayaknya (Asisten Peneliti juga), bukan Cindy :-D :-D, drakor yang dia rekomendasikan untuk ditonton. Arum bilang “reply 1988”. Aku tanya Tety. Sama. Rekomendasi Tety adalah Reply 1988 dan Desendant of the Sun. Tapi awalnya aku nonton film It’s ok, it’s love. Itu rekomendasi Cindy. Asyik juga tuh film. Selain cerita romansanya, juga ada pembelajaran yang didapat tentang orang sakit jiwa yang terlihat sehat-sehat saja, tapi ternyata mengidap penyakit jiwa. Setelah itu mulailah aku nonton drakor.

Dari beberapa yang sudah aku tonton, ada beberapa yang aku sangat suka, karena punya pelajaran yang bisa dipetik dari film itu. Cerita yang menurutku biasa-biasa saja, dilapis ketiga, adalah; It’s ok not to be ok, The legend of blue sea, Mr. Sunshine, Descendant of The Sun, Welcome to Waikiki, Crash Landing On You, My love from the Star, Memories of Alhambra dan Goblin. Ini sih cerita romansa biasa yang menurutku ga ada pembelajaran yang bisa dipetik.

Lalu lapis kedua adalah The World of Merried Couple, Hospital Playlist dan Reply 1988. Selain The World of Merried Couple, aku suka banget dua drakor ini. Untuk Hospital Playlist, aku suka lagu-lagu yang ada di film itu. Aku dengerin juga meski sudah ga nonton filmnya lagi. Cerita film ini tentang persahabatn para dokter yang dari kuliah sampai mereka menjadi dokter di rumah sakit yang sama. Ceritanya bagus, bahkan ada tentang kedokterannya. Hanya sayangnya, karena aku tidak begitu faham dunia kedokteran, jadi cerita ini aku hanya melihat di bagian persahabatannya yang luar biasa.

Begitu juga ‘Reply 1988’, drama yang bercerita tentang beberapa keluarga yang tinggal dalam satu gang, begitu menggambarkan bagaimana kehidupan bertetangga di tahun 1980an dulu. Filmnya bagus banget. Jadi pengen nonton lagi kapan-kapan.

Nah, film dilapis pertama menurutku adalah “ Because This is My First Life”, “18 Again” dan yang sedang aku tonton “ Wise Life in Prison/Playbook Prison”.

Aku cerita film yang pertama dulu kenapa film ini bagus. Film “Because This Is My First Life” benar-benar menunjukkan bagaimana hubungan laki-laki dan perempuan di kehidupan kota besar. Agar kedua mereka bahagia, mereka harus saling setuju apa-apa yang akan mereka lakukan bersama dan apa-apa yang mereka lakukan sendiri-sendiri, sehingga tidak ada keterpaksaan dari kedua mereka. Jadi kayak semacam kontrak, gitu. Film ini aku suka banget.

Film kedua adalah 18 Again. Film ini bercerita tentang hubungan suami istri dan anak-anak yang awalnya tidak harmonis, karena ayah yang tidak terbuka. Namun ketika si ayah diberi kesempatan menjadi berusia 18 tahun, dia berusaha untuk mengisi bolong-bolong yang dia lakukan ketika ia menjadi ayah. Intinya, ia menjadi teman yang baik bagi anak2nya. Film ini, sedih sekaligus lucu. Tapi banyak hal yang bisa didapat dari film ini. Khabarnya sih, ini film sama persis dengan film 17 again yang diperankan oleh Zac Efron.

Yang ketiga adalah “Wise Prison Life”, film tentang kehidupan di penjara ini benar-benar memukau. Saya membayangkan berapa lama si penulis skenario melakukan riset di penjara dan riset pada kasus-kasus yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam film ini. Misalnya saja kasus yang dialami oleh (aduuuuh, inilah ga enaknya nonton drakor, namanya itu susah diingat) seorang kapten yang dituduh membunuh bawahannya. Padahal pelakunya adalah kapten yang lain, tapi karena si kapten pelaku ini adalah anak pejabat, maka dia dilindungi dan kesalahan dijatuhkan pada si kapten yang masuk penjara ini. Sebenarnya, teman2nya di kesatuan tau kalau dia tidak bersalah, tapi mereka tidak berani buka suara, dan mereka di piindah terpisah-pisah ke instansi yang berbeda-beda, sehingga kakak si kapten yang ingin mencari tau tentang kebenaran bahwa adiknya seorang pembunuh menjadi sangat sulit untuk menemui saksi mata ini. Mirip kayak di Indonesia kan? Saya jadi teringat tentang kasus hubungan seksual yang dialami oleh seorang perawat di Jember ini. Laki-laki, si pelaku, karena anak seorang pejabat, ia dipindah ke tempat-tempat yang berbeda, bukan di pecat, sehingga ia selamat sebagai PNS.

Begitu juga dengan kasus tahanan yang lain, lupa namanya, yang bersedia dijadikan pesakitan dan dikorbankan untuk membela perusahaannya. Selama di penjara, keluarganya dijamin hidupnya dengan gaji si suami yang dibayar 3x lipat untuk menghidupi anak dan istrinya.

Di film ini, si pemeran utama, diceritakan sebagai pemain baseball yang bodoh. Tapi di dalam penjara diperlihatkan bagaimana ia mempunyai kharisma dan mampu membantu tahanan-tahanan yang lain. Jadi, film ini menunjukkan bahwa setiap orang itu punya keunikan tersendiri yang tidak diduga, Bisa saja dia tidak mahir di satu bidang, tapi sebenarnya ia bisa mahir dan membantu di bidang yang lain.

Selama ini pandangan bahwa penjara tidak manusiawi, ternyata terpatahkan di dalam film ini. Para tahanan yang ada di dalam satu sell itu saling membantu satu sama lain. Sangat menyentuh.

Juga ada sipir penjara yang terlihat sangat sangar, tapi ternyata meski dia berbicara dengan sangat keras, ia menjadi idola dari tahanan yang lain, karena kemudahan yang ia berikan ketika para tahanan itu mendapatkan kesulitan.  Film ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Beberapa keunikan dari cerita film ini yang tidak terduga yang membuat aku suka banget dengan film ini.  Film ini bagus banget.

Senin, 08 April 2019

Konflik di Tanah Terra Nullis




Mungkin banyak yang tidak tau bagaimana orang kulit putih bisa datang ke benua Australia. Kebetulan ada teman dari Australia yang datang ke Aceh, saya lalu memintanya untuk masuk kekelas dan menceritakan ke murid-murid apakah ada konflik yang terjadi di antara orang kulit putih dan suku asli, Aborigin.

Dikelas, ia menceritakan banyak hal. Menurutnya, selama ini orang di luar Australia hanya melihat satu suku aborigin saja, padahal terdapat 300 suku dan mereka tersebar di seluruh Australia. Namun ketika Inggris mendarat pertama sekali pada tanggal 26 Januari (yang kemudian dijadikan sebagai hari Australian Day, yaitu peringatan seperti peringatan 17 Agustusnya Indonesia) mereka menganggap daerah tersebut sebagai tanah kososng karena tidak ada gedung dan bangunan disitu, sehingga dianggap sebagai tanah kosong (Terra Nullis) atau daerah yang tidak punya peradaban. Benua ini ditemukan oleh James Cook pada tanggal 26 Januari 1788.

Pelaut Inggris yang pertama masuk kesini menggunakan cara pandang mereka sendiri untuk melihat tanah Australia tersebut. Dalam konsep mereka, tanah yang berperadaban adalah yang mempunyai gedung, taman dll, namun mereka tidak mengetahui bahwa Aborigin juga mempunyai konsep sendiri. Berbeda dengan kulit putih yang menandai tanah mereka dengan pagar, komunitas Aborigin ini berpindah-pindah. Mereka tidak mempunyai konsep seperti itu, sehingga kesannya tanah itu tidak bertuan. Selain itu Aborigin juga tinggal di dalam gua, bukan di rumah. Ini yang menyebabkan saat datang ke benua Australia, pelaut Inggris menyebutnya dengan “Terra Nullis” yaitu tanah kosong.

Selain dengan penguasaan terhadap tanah dan sumber daya yang ada, para pendatang ini, setelah menetap, membuat peraturan bahwa harus ada komunitas kulit putih dibenua itu. Artinya, orang-orang Aborigin ini harus dihilangkan. Karenanya keluarlah peraturan dimana anak-anak Aborigin diculik dan dididik dengan cara Kristen (baik Katolik maupun Protestan). Lama kelamaan, anak-anak yang dididik dengan cara ini kehilangan identitas mereka. Mereka tidak lagi bisa berbahasa ibu, melainkan sudah berbahasa Inggris. Untuk mengenyahkan para Aborigin ini, pemerintah juga melakukan pemaksaan dengan menikahkan perempuan-perempuan Aborigin dengan laki-laki kulit putih, sehingga anak-anak mereka akan terlahir berkulit lebih putih. Ejekan untuk anak-anak kelahiran campuran ini adalah ‘Creamy’, artinya anak-anak campuran Aborigin dan kulit putih.

Tidak hanya di Indonesia saja orang-orang menghargai mereka yang berdarah biru atau totok. Di Australia juga begitu. Sehingga anak-anak yang mempunyai darah campuran ini dipandang sebelah mata dan diejek dengan sebutan “creamy” tadi. Selain itu mereka menjadi kehilangan identitas, siapa mereka sebenarnya? Dibilang orang kulit putih, bukan. Dibilang kulit hitam(Aborogin) juga bukan. Mereka kehilangan semuanya, budaya, cara berpakaian dan bahasa. Padahal jika kita kehilangan bahasa maka otomatis kita akan kehilangan budaya, karena pelaksanaan budaya dilakukan dengan menuturkannya dengan bahasa ibu.

Tentang kehilangan identitas, ini mengingatkan saya pada apa yang dikatakan oleh Jamie Aditya, DJ MTV berdarah campuran Australia dan Indonesia. Ia pernah mengatakan disalah satu acara tivi bagaimana dia kehilangan identitas. Ia bingung tentang dirinya, apakah dia Australia atau Indonesia. Ketika orang-orang di Indonesia yang mempunyai orang tua salah satu dari Medan dan satu lagi dari Padang, mereka tidak merasa kehilangan identitas karena tampilan orang tua mereka hampir sama, berkulit coklat dan masih berasal dari Indonesia juga. Tapi kasusnya akan berbeda ketika orang tuanya yang satu berasal dari Australia, misalnya dan satu lagi dari Aceh, maka si anak akan mengalami krisis identitas, karena merasa berpostur dan berkulit berbeda dengan anak-anak dimana ia tinggal.

Tentang identitas ini juga mengingatkan saya pada salah satu scene di film Green Book. Doc Shirley (yang diperankan oleh Mahersala Ali) berkata bahwa ia bingung dengan identitasnya. Ia adalah laki-laki berkulit hitam yang dididik dengan cara orang kulit putih. Ia berpakaian jas, belajar bermain piano. Ternyata Doc di didik bermain piano oleh orang-orang kulit putih bukan dengan tujuan untuk memperkenalkan budaya kulit putih, tapi untuk dipertontonkan pada orang-orang kulit putih bahwa Doc yang berkulit hitam ini telah berhasil dididik dengan cara kulit putih. Dalam realitanya, Doc hanya dihargai untuk permainan pianonya yang luar biasa, tapi ketika permaian selesai, ia menjadi orang kulit hitam yang tidak dihargai. Dalam salah satu scene ditunjukkan bagaimana Doc diberi ruang penyimpanan sapu ketika ia akan bersalin pakaian untuk pentas. Doc juga tidak diizinkan menggunakan toilet yang dipakai orang-orang kulit putih sebelum acara pertunjukkan Doc dilakukan. Begitu juga ketika sebelum pertunjukan dilakukan, Doc tidak diizinkan makan di meja makan yang dikhususkan untuk kulit putih.

Bagi masyarakat kulit putih Australia, tanggal 26 Januari di peringati sebagai hari Australian Day, hari dimana pelaut Inggris pertama sekali berlabuh di Australia, sehingga dianggap sebagai hari kedatangan ke benua Australia. Tapi bagi orang-orang indigenous, tanggal itu adalah tanggal dimana tanah mereka dijajah, disebut sebagai Invasion Day (https://tirto.id/australia-day-adalah-sejarah-invasi-kulit-putih-atas-aborigin-dfpr). Peringatan 26 Januari ini dilihat dengan dua cara pandang yang berbeda. Satu sisi dilihat dari komunitas kulit putih dan satu lagi dari komunitas Aborigin. 

Dikutip dari tulisan Ravando Lie di Tirto.Id, Laporan the Guardian mengatakan bahwa anak-anak Aborigin lebih rentan 25 kali dipenjara dibandingkan anak-anak kulit putih. Tingkat kematian anak-anak abotogin lebih tinggi dibandingkan yang non-aborigin. Diskriminasi kesehatan terhadap indegenious people menyebabkan mereka berumur 10 tahun lebih pendek dibandingkan non aborigin. 

Berkurangnya jumlah populasi orang Aborigin juga disebabkan karena penyakit yang dibawa oleh orang-orang kulit putih. Sebagai sebuah benua, Australia sangat terpencil dan terpisah dari kehidupan yang lain. Pada masa pendudukan kulit putih itu, bibit penyakit yang dibawa oleh orang kulit putih ke benua tersebut sangat mudah menyebar pada orang-orang Aborigin. Kalau ada bibit penyakit, maka hanya akan ada disitu saja, tidak terbawa keluar dan itu menyerang imun system dari orang-orang Aborigin. Karena penyakit ini bukan penyakit yang familiar dialami orang-orang Aborigin menyebabkan mereka tidak tau mereka kena apa, sehingga tidak tau mencari obatnya. Akibatnya merekapun meninggal. Menurut CNN Indonesia, jumlah Indigenous Australia hanya tersisa 470 ribu dari 23 juta penduduk Australia (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20150707145437-113-64944/australia-akan-mengakui-aborigin-dalam-konstitusi-pada-2017).  



Rabu, 28 Februari 2018

Mengurus Visa di Konsulat Jerman Medan



Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan di Jerman, tepatnya di Wuppertal pada bulan Oktober 2017. Satu lembaga yang berkenaan dengan kegiatan interfaith mengundang saya untuk ikut dikegiatan tersebut. Namun, tentunya saya harus mempunyai visa sebelum bisa mengunjungi negara itu. Daerah terdekat dengan tempat tinggal saya untuk mengurus visa adalah Medan. 

Ada beberapa persyaratan yang harus saya penuhi sebelum mendatangi konjen:
1.       Surat undangan dari si pengundang
2.       Asuransi
3.      Detail jadwal pesawat
4.      Akte lahir atau surat nikah
5.      Kartu keluarga
6.      KTP
7.      Pasport
8.      Pas foto
9.      Buku bank
10.   Visa online yang diisi lewat web kedutaan Jerman. Setelah diisi di simpan di flash disk.

Sepertinya pihak pengundang sudah tau hal-hal apa yang saya perlukan untuk mengurus visa. Mereka telah mengirimkan beberapa hal yang saya butuhkan untuk mengurus visa, seperti surat undangan, asuransi dan jadwal pesawat. 

Saya mencoba mengisi visa online yang ada di web. Susah sekali. berkali-kali saya coba, dibantu oleh seorang teman yang sudah berkali-kali ke luar negeri, namun tetap saja tidak bisa. Akhirnya, dengan pasrah saya berangkat ke Medan, dengan membawa berkas-berkas yang diminta (minus visa online) dengan harapan petugas disana mau membantu saya mengisikannya.

Dengan naik bus malam, saya berangkat ke Medan. Ternyata pelayanan bus Aceh semakin turun. 2 tahun lalu, saya naik bus (2-1 seat) dari perusahaan yang sama. Saya mendapatkan minuman dan kue kotak, tapi kali ini tidak ada sama sekali. dulu, busnya non stop dan tidak menerima penumpang ditengah jalan. Tapi, kali ini dengan bayaran yang sama dengan dua tahun lalu, bus ini malah berhenti di tengah jalan untuk mengambil penumpang. Dulu, saya dan dua teman lain sampai diPool bus jam 5.30 pagi, tapi kali ini saya sampai di pool sudah jam 8.30. saya betul-betul kecewa karena saya berharap bisa sampai di kedutaan lebih pagi sehingga bisa dilayani lebih dulu.

Sesampai di pool bus, saya membersihkan diri terlebih dahulu, sarapan pagi dan bertanya dimana bank Mandiri terdekat karena saya harus mencetak buku bank saya, karena salah satu syarat adalah buku bank yg masih active tiga bulan kebelakang. Kasir di tempat sarapan mengatakan satu tempat dimana saya bisa mencetak buku bank. Sayangnya saya lupa nama tempat itu sekarang. Katanya tukang becak tau dimana ada bank mandiri terdekat. Maka, saya panggil becak dan becak membawa saya ke tempat tadi. Namun ternyata yang ada disitu hanya bank Mandiri Syariah, bukan Bank Mandiri. Sehingga saya harus mencari lagi dimana lokasi Bank Mandiri. Untunglah abang becak tau dimana dan akhirnya saya bisa mencetak buku bank saya, sehingga saldo saya terkini bisa terlihat di buku bank itu. 

Ketika keluar dari Bank, saya menuju ke konjen Jerman. Beberapa orang menyaankan saya untuk memesan gojek saja, tapi saya tidak punya aplikasinya. Untunglah ada taksi blue bird yang lewat dan akhirnya saya naik taksi menuju kesana. Konjen itu berada di pinggir jalan besar, tapi kalau tidak diperhatikan dengan baik, kita bisa tertipu, karena hampi tidak ada tanda apapun yang menunjukkan itu konjen. Kami sudah melewati kantor – yang sebenarnya rumah – itu, karena tidak ketemu sopir taksi lalu menanyakan pada satu satpam yang ada di dekat situ. Satpam menunjukkan dimana konjen dan kami berbalik arah lagi. Untunglah kami tidak susah menemukan konjen itu. 

Ternyata untuk masuk ke area kantor sangat tidak mudah. Pintu di gembok oleh satpam. Setiap orang yang akan masuk ke kantor itu harus dibukakan pintunya oleh satpam, lalu digembok lagi. Begitu juga ketika akan keluar, pintu dibuka oleh satpam, setelah si tamu keluar, pintu itu akan digembok lagi. 

Saya datang dan langsung menyerahkan berkas. Staff kantor itu bertanya, ‘ibu sudah ambil nomor antri?”, saya katakan belum. Dia menyuruh saya untuk ke tempat satpam dan meminta nomor antri. Ternyata saya mendapat nomor antrian 3. 

Ketika duduk menunggu, ada seorang perempuan muda cantik yang duduk di dekat saya. Belakangan saya tau beliau adalah agen perusahaan travel yang membantu satu keluarga Tionghoa untuk mengurus visa ke Jerman. Satu pengurusan visa oleh mereka biayanya Rp. 1.700.000. dan ternyata bukan hanya dia saja, ketika duduk menunggu panggilan, saya melihat ada tidak lebih dari tiga agent perjalanan yang mengurus visa disitu. Sepertinya hanya saya yang mengurus visa sendiri.

Saya tanyakan pada si agen ini apakah harus menfotokopi buku bank? Katanya iya…terpaksalah saya harus keluar dulu dan mencari dimana ada toko foto kopi. Di dekat kantor itu, saya melihat ada kantor partai democrat dan meminta pada penjaganya untuk memfoto kopi disitu selembar saja. Tapi petugasnya malah menyuruh saya untuk mencari toko foto kopi yang menurutnya tidak jauh dari situ. Saya berjalan lagi dan bertanya pada beberapa orang, akhirnya ketemu juga dengan toko foto kopi.

Setelah selesai memfoto kopi, saya balik lagi ke konjen. Namun nomorku sudah di dahului orang, akhirnya saya terpaksa menunggu. Ketika bagianku diperiksa, di petugas menanyakan tentang visa online saya. Saya katakan saya mencoba untuk mengisi, namun tidak bisa. Di web dikatakan bahwa konjen bisa membantu, jadi saya berharap konjen bisa membantu. Namun ternyata, konjen tidak mau membantu. Staff yang menangani saya menyuruh saya mengisi ulang di warnet. Dia juga tidak mengatakan dimana ada warnet. Akhirnya, saya keular lagi dan sibuk mencari warnet. Setelah bertanya kesana-kemari akhirnya dapat juga warnet itu. Saya isi ulang visa online dan dibantu oleh petugas warnet. Saya juga simpan di flashdisk yang saya beli di warnet tersebut.

Ketika kembali ke konjen, ternyata hanya tinggal saya yang tersisa disitu. Untung belum tutup. Setelah mereka melihat, ternyata masih salah juga visa yang saya isi. Harusnya negara pertama yang saya datangi untuk transit adalah Swiss, tapi saya malah mengisinya dengan german. Dan karena di warnet tidak ada aplikasi yang diminta oleh kedutaan, mereka menyimpan dalam bentuk PDF, sehingga berkas yang sudah saya simpan dalam flash disk tidak bisa dirubah. Akhirnya, setelah melihat kesusahan yang saya hadapi, mereka akhirnya bersedia mengisi visa tersebut untukku, tapi dengan bayaran Rp. 100.000, sesuai dengan apa yang tertera di kertas yang disodorkan ke saya. 

Sepertinya mereka memang harus memplonco siapapun yang datang kesana. Mereka tidak akan membiarkan siapapun untuk meminta pertolongan mereka jika seseorang itu belum mencobanya.

Andai aku seperti para turis2 Tionghoa yang aku temui disitu, mungkin aku tidak akan harus bolak balik dan disengsarakan. Namun, jika aku mengikuti cara mereka, maka aku harus mengeluarkan uang Rp. 1.700.000 untuk membayar travel agent dan tidak mempunyai pengalaman bagaimana ribetnya mengurus visa di konjen itu. 

Akhirnya urusan pengurusan visa selesai, namun aku belum bisa mengambilnya hari itu juga. Mereka perlu untuk mengirim pasportku ke kedutaan di Jakarta untuk mendapatkan label visa. Staff disana bilang kalau mereka akan menghubungi saya kalau visanya sudah selesai dan saya harus mengambilnya sendiri ke situ. Tapi, saya bilang saya tidak bisa, karena saya dari Aceh. Apakah mereka bisa mengirimkannya ke Aceh? Namun mereka keberatan, mereka bilang saya bisa minta tolong teman atau saudara yang ada di Medan untuk mengambilkannya. Saya tidak berani membantah mereka. Sudah terlalu banyak kerepotan yg saya sebabkan pada mereka. 

Sepertinya konjen itu bekerjasama dengan beberapa travel agent. Ketika saya masih duduk disitu untuk di wawancarai, staff perempuan yang tengah memeriksa berkas saya mendapat telpon. Ia berbicara dengan seseorang di ujung sana dan berkata kalau sebaiknya si pemilik suara itu dating saja ke konjen untuk mengurus visa, jangan lewat dia. Atau, bisa juga dating ke dua travel agent yang dia sebutkan, karena travel tersebut sudah tau apa-apa yang diperlukan untuk mengurus visa. Saya tidak bermaksud berburuk sangka, namun karena ketidaktahuan pelanggan bagaimana mengisi visa online,  (atau juga karena malas ribet), membuka peluang bagi travel agent untuk membuatkan visa dengan bayaran yang luar biasa mahal menurut saya.

Untunglah saya tidak perlu membayar sewa travel agent yang semahal itu. Untung saya hanya perlu membayar untuk urus visa di konjen. Dan biaya pengurusan pengisian formulir karena saya yang sudah bolak balik ke rental mengisi, membuatnya sesuai permintaan mereka, tapi tetap saja salah. Akhirnya mereka bersedia membuatkan untuk saya. Jadi ada dua yang harus saya bayar, biaya visa dan biaya pengisian formulir yang akan diisikan oleh staff konjen.

Setelah urusan selesai, saya katakan bukan saya yang akan mengambil kalau sudah selesai. Saya minta mereka yang mengirimkan, tapi mereka mengatakan minta keluarga saja yang ada di Medan yang ambil. Beri surat kuasa. Hm…ini beda dengan apa yang saya dapat di blog seseorang yang nulis kalau konjen bersedia mengirimkan ke alamat kita asalkan ditinggalkan biaya pengirimannya. 

Sekitar seminggu kemudian, konjen menelfon mengatakan bahwa visa saya sudah selesai dan saya diharapkan untuk mengambilnya. Saya minta tolong saudara untuk mengambilnya, namun sebelumnya saya kirimkan surat kuasa agar dia yang mengambilnya. 

Surat kuasa yang saya kirim ternyata lama sampai kealamat saudara saya. Meski sudah saya kirim pakai pos kilat, tetap juga sampainya tiga hari. Padahal kirimnya ke Medan lho..! sudah sempat kesal, tapi akhirnya instead of sampai hari Sabtu (karena saya kirimnya hari Jumat) itu surat sampainya hari Selasa. Langsung saudara saya kirim ke saya, dan heran, itu surat dalam waktu satu hari langsung sampai. Hmm….saya sampai su’zon, apa karena dari Aceh ya apa2 jadinya lambat nyampenya?

Meski lumayan ribet, saya menikmati pengurusan visa saya sendiri, tidak pakai agen. Lumayan, jadi dapat pengalaman bagaimana mengurus visa di konjen Jerman Medan.  
 

Selasa, 30 Januari 2018

Ziarah Kubur



Hari ini Henny menelpon, mengajak ziarah kesalah seorang anggota MAF yang tewas tenggelam tahun 2010 lalu. Ceritanya, pada saat itu si bule sedang berenang di Lhoknga, tiba-tiba ada anak umur 12 tahun yang akan tenggelam. Dia langsung menolong anak tadi. Sayangnya dia dan anak tadi malah ikut tenggelam. Temannya yang lain, yang ikut menolong, selamat. Tapi dia tidak terselamatkan. Sianak menghilang, satu hari kemudian ditemukan, masih di pantai Lhoknga, sudah menjadi mayat.
Aku sering mendengar cerita ini dari Henny. Dia sering bercerita bagaimana tegarnya istri si penolong ini tadi. Ternyata hari ini beliau datang ke Aceh dan ingin mengunjungi makam suaminya, bersama sang anak yang kini sudah berumur 10 tahun. Henny bercerita bagaimana si anak, ketika ayahnya meninggal malah sangat senang karena banyak sekali orang dirumah. Si anak ketika itu berumur 2 tahun, sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dirumah mereka.


Kini, si istri dan si anak datang lagi ke Aceh. Mereka mengunjungi makam suami dan ayah mereka. Biaya kedatangan di tanggung oleh perusahaan dimana si suami dulu bekerja. Karena perusahaan ini akan tutup di Aceh, perusahaan memberi kesempatan untuk si istri dan anaknya melihat makam suaminya untuk terakhir kalinya.

Dari apa yang aku dengar dari teman yang mengajakku mengunjungi makam ini, Ben (demikian nama si korban) sudah mengetahui bahwa dia akan mati muda. Ben lahir tahun 1980 dan meninggal tahun 2010. Ketika ia masih pacaran dengan si istri, ia telah memberitahu bahwa ia akan mati muda dan menanyakan pada si istri apakah dia masih akan mau menikah dengannya. Mungkin karena sudah diberitahu terlebih dahulu, menurut cerita temanku,si istri terlihat begitu tegar ketika mengetahui kematian suaminya. 

Kini, setelah 8 tahun, si istri dan anaknya datang ke Aceh untuk menjenguk makam si suami. Tadi, kami bertujuh datang mengunjungi makam itu. Makam itu mempunyai pusara yang berbeda dengan makam lainnya. Makam Ben dibuat dari batu kecil-kecil (batu yang lebih besar sedikit dari pasir) dan ada nisan disertai dengan foto Ben di nisan itu. Juga ada testimony yang tertulis di nisan itu.

Yang menarik adalah ternyata tiga tahun lalu si istri menikah lagi. Kini dia punya dua anak dari suaminya yang sekarang, Jordan (2th) dan Juli (6 bln). Suami yang sekarang adalah teman baik suaminya yang dulu. Aku sempat terpana ketika melihat bagaimana si istri menggunakan handphonenya menelpon si suami di Amerika sana dan menshoot makam tadi. Bagi pemikiran mereka yang konservatif (aku termasuk kali ya, hehehe) sangat heran melihat si suami yang tenang-tenang saja menerima shootingan istrinya, dan si suami tidak cemburu dengan apa yang dilakukan oleh si istri. Bagi sebagian orang, mungkin kehidupan yang lalu sudah selesai dan tidak perlu diungkit-ungkit kepada suami yang baru. Tapi untuk kasus ini lain. Saya sangat kagum melihat bagaimana si istri begitu tenangnya menunjukkan gambar makam almarhum suaminya pada suaminya sekarang. Sianak yang sudah berumur 10 tahun juga terlihat biasa saja ketika mengatakan pada ayah tirinya, bahwa ia sedang berada di makam ayahnya. 

Aku termangu melihat moment itu.

Temanku bercerita bahwa anaknya itu sangat mirip bapaknya yang telah meninggal. Selain mirip wajah, si anak juga punya kemiripan yang lain dengan si ayah almarhum, yaitu hobi pada hal mekanik. Ayah tiri yang sekarang adalah seorang seniman, sehingga si ayah sekarang suka kelabakan untuk menjawab pertanyaan si anak yang melulu berkaitan dengan mekanik. Menurut Henny, mungkin inilah yang menjadi permasalahan bagi mereka yang mempunyai anak tiri. Terkadang karena perbedaan selera dan minat membuat orang tua tiri tidak bisa dekat dengan anaknya.

Pengalaman hari ini begitu berharga. Saya jadi mengetahui bahwa terkadang kita tidak bisa hanya bersandar pada cinta. Toh cinta itu bisa hilang seketika. Dalam cinta, ada hal realistis yang juga perlu difikirkan. Life must go on….





Berita tentang Ben:
 
(http://beritasore.com/2010/11/11/pantai-lhoknga-berbahaya-warga-as-tewas-tenggelam/)