Selasa, 04 Mei 2021

Cerita Hidup Rosidi

 






Karena mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh Yayasan Pantau, saya mendapat beberapa buku yang sebaiknya kami baca, sebagai peserta kegiatan. Saya baru saja menyelesaikan buku berjudul “Cerita Hidup Rosidi”, salah satu buku yang kami terima. Buku setebal 260 halam ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang tahanan politik, yang dianggap PKI pada tahun 1965. Ia masih hidup hingga buku ini ditulis tahun 2016, entah sekarang. Ia berusia 80 tahun Ketika buku ini ditulis.

Buku ini menarik, karena pasti masih banyak Rosidi-Rosidi yang lain, yang cerita hidupnya selama masa kelam itu belum terdokumentasikan.

Saya pribadi lebih menyukai buku Tedjabayu, Mutiara di Padang Ilalang, karena buku itu adalah buku yang ditulis sendiri oleh Tedjabayu. Berbeda dengan kisah hidup Rosidi, yang dituliskan oleh Tosca Santoso. Tedja, sama halnya seperti Rosidi, adalah korban 65, masyarakat biasa yang dituduh sebagai anggota PKI. Tedja ditangkap di Jogjakarta, ketika sedang mengikuti rapat di organisasi yang dianggap underbow PKI. Sedangkan Rosidi ditangkap karena memiliki kartu Sarbupri, organisasi buruh yang dianggap sebagai organisasi underbouw PKI. Sarbupri, Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia, didirikan tanggal 17 Februari 1947.

Sebenarnya, yang akan ditangkap tentara adalah paman Rosidi, Salna. Naas, Rosidi sedang mengunjungi pamannya dan karena Rosidi berkata pamannya tidak ada, tentara meminta kartu identitas Rosidi dan Rosidi memberikan kartu anggota Sarbupri, iapun diangkut tentara dan dibawa ke kantor polisi Sukanegara. Rosidi mengira ia hanya di periksa sebentar, namun ternyata ‘sebentar’ itu sampai mencapai 13 tahun. 13 tahun sebagai tahanan politik, tanpa pernah diadili. Pernah suatu masa ia memiliki KTP yang bertanda “ET” (eks-tapol). Selama masa Orde baru ia dan keluarganya dianggap sebagai ancaman dan tidak boleh ikut pemilu. Para eks-tapol ini menikahkan anak-anak mereka dengan keturunan sesama eks-tapol akibat stigma yang mereka terima. Mereka dijauhkan dari masyarakat.

Dari kantor polisi para tahanan ini dibawa ke kamp tahanan Panembong. Disini tenaga mereka dikuras, dijadikan sebagai pekerja tanpa bayaran, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar yang diperintahkan atasan. Mereka membuat jalan, membuat jembatan, menebang pohon, menggali pasir, memecah batu, berkebun untuk kebutuhan atasan dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya.  Pernah suatu waktu mereka diculik, dipekerjaan illegal untuk kepentingan pimpinan yang lain diluar kamp. Tiba-tiba, suatu malam, Rosidi dan Endang dipaksa masuk ke jok belakang sebuah mobil. Ternyata mereka dibawa ke kolam ikan dan disuruh untuk mengeringkan kolam dan mengambil ikan-ikan disana. Seharian mereka menguras kolam tersebut dan menangkapi ikannya. Setelah selesai mereka kembali dimasukkan ke jok belakang mobil dan dibawa kembali ke kamp, tanpa diberi makan. Kata Rosidi, “boro-boro dikasih ikan, makan siang saja tidak dapat”. (hal 68). Dilain waktu pernah ia diculik lagi dan dibawa ke wilayah Puncak. Sesampai di sana ia diberi kampak dan gergaji. “cepat potong pinus untuk pohon Natal” kata petugas yang membawanya. Rosidi memotong pohon cemara tadi dan merapikannya didalam mobil. Ia diperintahkan jongkok di jok belakang dan diturunkan di kamp Panembong, tanpa dibayar. Pohon itu dibawa kerumah pejabat tentara yang akan merayakan Natal.

Kisah lain adalah ketika ia ditugaskan bersama beberapa teman-temannya mencari baru di sungai. Mereka dipaksa bekerja tanpa diberi makan siang dan tanpa digaji. Setelah seharian mencari dan memecah batu, Rosidi ke pasar menjadi kuli panggul. Uang sebagai kuli panggul itu yang ia pergunakan untuk membeli makan siang. Biasanya ia simpan tenaganya di pagi hari untuk dia gunakan lagi di siang hari, sebagai kuli panggul.

Kerja paksa tanpa gaji ini, menurut International People’s Tribunal di Den Haag 2016 dikategorikan sebagai perbudakan. Hal ini bertentangan dengan konvensi Anti Perbudakan yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia (hal. 44).

Jika dalam memoarnya Tedja menuliskan bahwa mereka diberi makanan yang bercampur beling, Rosidi mengisahkan mereka diberi makan nasi beunyeur, nasi yang diolah dari remah-remah beras yang bahkan sering sekali bercampur dengan kerikil. Makan nasi beunyeur ini sama sekali tidak mengenyangkan (hal. 58).

Beberapa dari para tapol ini ada yang dipindah ke pulau Buru, tapi tidak untuk Rosidi. Ia tetap tinggal di kamp. Kehidupan di kamp membosankan bagi Rosidi karena ia yang sudah terbiasa hidup bebas. Oleh karena itu, jika ada tawaran bekerja di luar ia sering sekali langsung mengacungkan tangan bersedia, walaupun terkadang ia tidak punya keahlian untuk itu. Buatnya, yang penting ia bisa menghirup udara bebas diluar sana, walaupun kemudian di malam hari-setelah selesai bekerja- ia harus kembali lagi ke kamp. Rosidi pernah bekerja di restaurant atau bekerja sebagai penebang kayu untuk kepentingan penguasa kamp.

Bagi tapol yang tinggal di kamp Panembong, mereka diizinkan untuk membawa keluarga. Rosidi membawa istrinya, Oneh dan mereka memiliki 3 anak yang lahir di kamp tersebut. Keuntungan lain tinggal di kamp adalah para tapol ini diizinkan bekerja mencari uang sendiri sepanjang uang tersebut sebagiannya disetorkan ke pengurus kamp. Rosidi dan beberapa tapol lain memilih mencari kodok yang disebut dengan ngobor. Meski ia harus bekerja semalaman dan berjalan kaki belasan kilometer untuk kembali ke kamp Panembong, Rosidi memilih pekerjaan ini. Menurutnya inilah cara ia menghidupi 4 orang yang tinggal bersamanya di kamp Panembong. Meski demikian status tapol yang disandangnya sering membuatnya merasa grogi. Sering sekali ia tidak diizinkan naik angkutan umum oleh sopir-sopir angkot. Mereka tidak mau berhenti ketika melihat orang-orang yang membawa perlengkapan ngobor yang memberhentikan mobil mereka. Para sopir ini telah diberi tahu bahwa orang yang ngobor itu adalah para komunis yang ditahan di Kamp Panembong. Para penjahat yang membunuh para jendral di Jakarta. Termakan hasutan itu, para sopir itu tidak mau menghentikan mobil mereka. Ini memaksa Rosidi berjalan belasan kilometer lagi untuk sampai di Kamp Panembong setelah semalaman bekerja mencari kodok.

Yang berbeda dari buku Cerita Hidup Rosidi ini adalah perihal memaafkan dari para korban dan pelaku. Hal yang tidak ada di buku Tedjabayu. Rosidi, setelah 13 tahun menjadi tahanan politik, sempat menjenguk bekas komandan kamp Panembong, Dadang Mulyadi. Waktu itu Dadang sedang sakit dan Rosidi menjenguknya. Dadang meminta agar Rosidi tidak dendam padanya dan mau memaafkannya. Rosidi memaafkan sambil berkata “sudah saya maafkan. Bapak kan hanya menjalankan tugas”.

Buku ini menceritakan sisi lain dari para tahanan politik yang ditangkap Oktober 1965. Jika Tedjabayu menuliskan memoarnya setelah melewati beberapa kamp tahanan sampai kemudian di buang ke Pulau Buru, Rosidi menceritakan kisah pilunya sebagai orang yang ditahan di wilayah Jawa Barat. Namun kedua buku ini bercerita hal yang sama, betapa kejam perlakuan yang mereka dapatkan, padahal mereka sendiri tidak tau kesalahan apa yang telah mereka lakukan. Mereka ditahan tanpa ada proses pengadilan dan dipaksa bekerja tanpa dibayar. Saya betul-betul tidak menyangka bahwa ternyata pemimpin Indonesia pernah memperlakukan anak bangsa seperti ini, jauh dari rasa kemanusiaan.

Selasa, 13 April 2021

Nukilan Buku: Mutiara di Padang Ilalang


 

Pasti banyak dari kita yang sudah mengetahui tentang istilah PKI. Tapi apakah ada dari kita yang mencari tau apa itu PKI? Mengapa santer sekali namanya dan apakah ada kisah yang bercerita tentang korban terkait PKI? Atau mungkin mendengar/membaca cerita dari mereka yang dijadikan korban karena dianggap PKI.

Saya sudah lama ingin mengetahui tentang kisah mereka yang dianggap sebagai simpatisan PKI oleh Orde Baru. Saya sudah membaca buku hasil disertasi dosen UI yang menulis tentang perempuan-perempuan yang dituduh PKI yang di penjara di kamp Plantungan Jogja. Saya juga sudah membaca nukilan kisah pendeta Meri di NTT yang ayahnya adalah algojo pembunuh anggota atau simpatisan PKI. Pendeta Meri sekarang mempunyai gerakan untuk mencoba merekonsiliasi keluarga mereka yang dituduh PKI dengan para algojo-algojo itu.

Perbuatan yang sangat mulia.

 

Kali ini saya membaca buku Memoir yang ditulis oleh Tedjabayu, seorang mahasiswa jurusan Geografi UGM pada saat itu yang ditangkap karena bergabung di organisasi mahasiswa yang dianggap sebagai underbow PKI yaitu organisasi Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Tedja menuliskan kisah hidupnya yang dipenjara dari satu penjara ke penjara yang lain dan siksaan apa yang mereka alami tanpa tahu kesalahan apa yang telah mereka buat. Ketika ditangkap dan ditahan Tedja menuliskan bahwa ia mengira paling akhir Desember ia akan dikeluarkan dari penjara, akibat aktivitas politiknya. Ternyata ia ditahan sampai 14 tahun. Ini mengingatkanku pada ‘masa sulit’ tahun 2015 di Jakarta Ketika bertemu seorang teman Aceh yang ditahan oleh aparat karena perbuatan yang dilakukan oleh staffnya (membakar foto Megwawati). Ia dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Saat itu ia berfikir paling dia ditanahan hanya satu malam, ternyata malah sampai 6 bulan.

 

Buku Tedja ini sangat mengagetkan bagi saya, betapa manusia bisa sesadis itu kepada manusia lain.

 

Tedja bercerita bagaimana ia dan teman-temannya di tangkap oleh polisi-polisi yang menggiring mereka ke atas truk. Saat itu mereka sedang melakukan aksi menjaga Gedung Chung Twa Tjung Hwi (CHTH) yang diduga terancam diserbu oleh peserta rapat akbar “ganyang PKI”. Mereka melakukan ini bersama dengan beberapa aktivis lainnya seperti dari Pemuda Rakyat, aktivis sanggar dan pelukis rakyat. Ada juga anggota Himpunan Sarjana Indonesia, dan para Tentara Pelajar. Gedung ini merupakan gedung yang dipakai oleh aktivis ini untuk pertunjukkan kesenian mereka. Gedung ini adalah milik universitas Ureca di Yogyakarta. Universitas Ureca ini sendiri adalah cikal bakal dari Universitas Trisakti yang kita kenal sekarang ini.

Tapi ternyata demonstrasi berjalan rusuh, para aktivis ini lalu ditangkapi polisi dan dibawa ke kantor polisi Ngupasan. Disana mereka diregistrasi oleh polisi, ditanyai nama, alamat dan asal organisasi. Tanpa merasa punya salah apapun para aktivis ini memberikan nama dan organisasi mereka CGMI, Pemuda Rakyat bahkan PKI. Mereka sama sekali tidak tau kalau nama organisasi mereka itu ternyata malah membawa malapetaka besar untuk mereka.

Penjara pertama yang mereka tinggali adalah penjara Wiragunan di Yogyakarta. Disini mereka makan lumayan mewah (nasi, ikan asin, telur asin). Namun lama kelamaan menu ini berubah menjadi hanya 75 butir jagung saja untuk sekali makan.

Para tahanan aktivis ini ternyata bukan orang biasa. Mereka berasal dari kalangan terpelajar (ada yang sudah menjadi dokter bahkan ada yang professor) selain itu ada juga yang merupakan dari kalangan bangsawan Yogyakarta. Diantara mereka ada yang mahasiswa doctoral di Fisipol UGM dan pengurus Badan Hukum Hubungan Kebudayaan Indonesia-Uni Sovyet. Bahkan para mahasiswa yang ditahan ini banyak juga yang berasal dari masyarakat Tionghoa yang juga menjadi anggota organisasi yang dilarang oleh Orde Baru tersebut. Mereka ini ada yang mahasiswa di Fakultas Ekonomi UGM, lalu ada yang menjadi mahasiswa tingkat doctoral di fakultas Kehutanan UGM, dari fakultas Biologi UGM dan Fakultas MIPA UGM.

Di buku ini Tedjabayu juga mengatakan bahwa ada seorang anak muda berasal dari Tanah Rencong bernama Abdullah yang kuliah di Fakultas Tekhnik UGM yang juga ditahan bersama dirinya. Ini menandakan bahwa ada juga anak Aceh yang dianggap ikut dalam kegiatan keaktivisan golongan kiri atau PKI. Aku mencoba menanyakan pada seorang teman Aceh apakah mereka mengenal siapa keturunan dari Abdullah yang ditulis oleh TedjaBayu ini, tapi teman tersebut tidak mengetahuinya.

 

Di buku ini Tedja juga menceritakan tentang interogasi yang dilakukan oleh dosen Sastra Inggris, Fakultas Sastra UGM, Loekman Soetrisno dan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Kedokteran pada teman-temannya. Ketika kembali dari interogasi itu, pasti wajah teman-temannya itu telah menjadi babak belur dan sembab karena tendangan dan perilaku kasar lainnya. Menurut Tedja, mereka ini adalah “‘intelektual’ yang entah dengan alasan apa punya rasa dendam terhadap apa saja yang berbau kiri”. Para intelektual UGM ini mempunyai pengetahuan bagaimana menginterogasi (sambil menyiksa) orang dengan cepat, efektive dan menyakitkan. Misalnya dengan menggunakan sengatan listrik yang sangat spesial. Cara merakit sengatan listrik spesial ini adalah hasil pengajaran yang diberikan oleh pihak militer (hal. 24). Dihalaman 42 Tedja menuliskan bahwa ternyata Loekman adalah Dr. Loekman Soetrisno, lulusan Institute of Social Studies Den Haag dan Cornell University of Ithaca. Terlihat bukan, bahwa pendidikan setinggi apapun ternyata tidak bisa menumbuhkan rasa kemanusiaan seseorang.

 

Tedja menulis lagi “cara favorit lain yang juga dipraktekkan para sarjana interrogator itu adalah menindih jari-jari dan telapak tangan atau kaki dengan  kaki-kaki kursi atau meja. Si interrogator dengan kalem menduduki kursi atau meja sambil merokok dan tersenyum-senyum, atau membentak-bentak dalam mengajukan pertanyaan, sementara rekanku berteriak-teriak kesakitan. Lebih beruntung kalau kita digebuk dengan kayu, potongan besi, gagang pistol, popor bedil atau dilempar kepalanya dengan mesin ketik karena mereka biasanya langsung pingsan. Aku kerap berfikir dan membenarkan pendapat teman-temanku bahwa mereka adalah sekawanan binatang berbentuk manusia yang tidak berbudaya sama sekali meskipun berpendidikan tinggi. Mereka adalah “Pancasilais” yang kurang lebih sama dengan pasukan Nazi Jerman” (hal. 24).

Siksaan-siksaan itu tidak hanya berhenti disitu. Tedja menuliskan  siksaan yang mereka, para tahanan ini, dapatkan pada malam Natal 1965. “beberapa serdadu memukul keras-keras lutut kawan-kawan kami. Tentu saja mereka terjerebab. Yang jatuh jadi sasaran empuk. Beramai-ramai mereka menginjak-injak perut kawan yang sedang apes itu! Kami semua tanpa kecuali dipukuli. Di kepala, diperut dan dipunggung. Mulutku terasa asin karena dipukul dengan bogem mentah keras sekali, ditambah lagi dengan gebukan pakai rotan segede kepalan tangan di punggung. Para serdadu yang konon paham hukum ini menggunakan apa saja yang mereka temukan. Sebatang kayu bakar yang mungkin diambil dari dapur langsung membuat badan kami terluka dan berdarah karena pinggir kayunya yang tidak rata. Besi yang diambil dari petukangan di Blok B dan kawat berduri yang dicabut entah dari mana juga dipakai. Ada yang mempraktekkan pukulan karate. Mungkin baru saja dipelajari di pusdikif (Pusat Pendidikan Infanteri) karena mereka adalah anak-anak muda yang paling-paling baru lulus SMP. (hal. 27)

Tahun 1966 para tahanan ini dipindahkan ke Nusakambangan yang Tedja sebut sebagai Alcatraznya Indonesia. Ada semacam kredo B3 yang berarti Bui, Buang, Bunuh yang sangat santer terdengar saat itu. Tedja mengetahui istilah di’sukabumikan’ atau di’game’kan sebagai kata pengganti oleh para tapol 65 ini untuk kata ‘dibunuh’.

Selain bercerita tentang makanan yang semakin lama semakin sedikit diberikan, Tedja juga bercerita tentang betapa aneh makanan yang mereka terima. Sayur untuk tapol ini diambil dari sampah di Pasar Bringharjo. Bahkan ada dari mereka yang menemukan potongan sandal jepit atau pecahan kaca di dalam sup mereka. Tedja menuliskan bahwa para napi yang bekerja di dapur dan melayani para tapol ini bukan tidak tahu apa yang mereka lakukan. Menurut Tedja “sampai sekarang aku masih yakin bahwa para napi itu diperintahkan untuk melakukan hal-hal tersebut dengan sengaja. Belum lagi kalau sedang sial. Sayur hari itu tercampur pecahan gelas yang membuat kami harus ekstra hati-hati kalau tidak ingin lidah terluka. Repot juga. Kalau tidak dimakan, kami kelaparan. Memang kami harus bersabar karena kami adalah sekawanan pesakitan yang harus bersedia menerima nasib sebagai orang yang kalah di negeri yang dasar negaranya adalah Pancasila”. (hal. 36).

 

Dari Wirogunan, Tedja dan teman-temannya di pindah ke Nusakambangan. Di Nusakambangan ini penderitaan mereka ternyata bukan bertambah ringan melainkan bertambah parah. Awal-awal tinggal di salah satu rumah tahanan  di Nusakambangan, Permisan, mereka masih mendapatkan nasi untuk makan sehari-hari sebanyak 300 gr. Jumlah ini masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jatah narapidana biasa yang mendapat 650 gr. Namun lama kelamaan nasi itu bertambah sedikit jumlahnya. Menurut pegawai LP, atas perintah Jakarta, jatah makan tapol ini harus dikurangi menjadi hanya 250gr perhari. Lalu nasi ini berganti dengan nasi yang dicampur dengan jagung. Terakhir di akhir bulan Mei 1966, nasi jagung ini berganti dengan bulir jagung. Awalnya mereka mendapat 160 butir jagung untuk sarapan, namun akhirnya mereka hanya mendapat 140 butir jagung per hari perorang (hal 53-54). Tidak salah jika Tedja sebenarnya ingin menuliskan memoir ini dengan judul pembersihan Ideologis, melihat apa yang Orde Baru lakukan pada mereka. Usaha melunturkan ideologi mereka dengan membuat mereka kelaparan dan melihat teman-teman mereka meninggal akibat siksaan dan kelaparan.

 

Tedja menulis lagi “Waduh, fantastis benar Soeharto dan kawan-kawannya dalam melakukan pembersihan ideologis ini. Cara membunuh yang praktis tanpa mengeluarkan sebutir peluru pun meski akhirnya kami juga mendengar bahwa cara yang lebih praktis tanpa biaya adalah apa yang terjadi di Medan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali yakni dengan menggunakan sentiment massa untuk melakukan pembantaian. Saya juga dengar cara lain yang sama murah dan praktisnya: dengan mengangkut sejumlah tapol dengan truk untuk dibawa ke pinggir jurang yang sebenarnya sebuah lubang alam dalam yang disebut luweng. Jurang semacam ini berakhir di dasar sungai bawah tanah pegunungan karst yang dalamnya puluhan bahkan ratusan meter. Truk dimundurkan sampai di bibir luweng, lalu para tapol bisa ditembaki semua sehingga berjatuhan ke luweng atau bisa juga mereka diminta atau di dorong terjun begitu saja ke jurang (hal.54).

Di Permisan Nusakambangan, akibat jatah makan yang dikurangi, banyak dari para tapol ini yang jatuh sakit. Fisik mereka menjadi lemah dan sering sekali mengalami pusing dan mengantuk. Banyak dari mereka yang mengalami anemia dan busung lapar. Untuk mendapatkan protein, banyak hal-hal yang menjijikkan yang harus mereka lalui. Misalnya cerita tentang seseorang yang bermarga Siregar yang menelan langsung kecoa yang mengerubungi tinja para tapol ini. Kecoa itu langsung ditelan hidup-hidup tanpa dibersihkan dulu. Kecoa yang kaki-kakinya masih dilumuri tinja!! (hal. 55).

Cerita lain lagi adalah ketika para tapol ini, untuk memenuhi kebutuhan protein mereka adalah dengan memakan ari-ari dari bayi yang baru dilahirkan. Salah seorang tapol ini disuruh untuk mengubur ari-ari dari bayi yang baru dilahirkan. Timbul fikirannya untuk memasak ari-ari tersebut namun batinnya berkecamuk karena itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agamanya. Ia merasa menjadi kanibal. Namun kebutuhan untuk bertahan hidup mengalahkan ajaran agamanya, akhirnya ia merebus ari-ari tadi dan memakannya. Hari itu, teman-temannya merasa heran, mengapa hari itu mereka mendapat asupan daging:=D

Karena kekurangan makan dan banyak yang mengalami busung lapar, satu demi satu teman-teman Tedja meninggal dunia di penjara Permisan ini. Pada awalnya, ketika ada yang meninggal, para tapol ini akan memberikan penghormatan terakhir mereka. Namun dengan semakin banyaknya yang meninggal, sedangkan para tapol ini menjadi semakin lemah, mereka tidak mempunyai tenaga lagi untuk berdiri memberi penghormatan pada teman-teman mereka yang meninggal ini.

Dari Nusakambangan, Tedja dan teman-temannya dipindah ke penjara di Ambarawa. Disini mereka ditahan bersama dengan tahanan politik militer (tamil). Disini, sama seperti di Nusakambangan, mereka juga kekurangan makanan. Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan perut ini, banyak dari mereka yang memakan hidup-hidup anak tikus sawah (hal. 81).

 

Hal mengherankan adalah ketika Orde Baru juga menahan mereka yang sebenarnya pejuang kemerdekaan Indonesia. Tedja menuliskannya begini “Sudah menjadi pengetahuanku bahwa kawan-kawan senior baik yang tapol sipil maupun militer kebanyakan adalah para pendiri Republik kita yang dengan semena-mena dianggap pengkhianat bangsa dan makhluk paling hina di dunia! Apalagi kalau kuingat pengalaman selanjutnya beberapa tahun kemudian menjadi tapol rezim ini. Coba bayangkan, mereka yang menyambung nyawa dan rela mati untuk Republik, bahkan mereka ikut membentuk negeri ini, setiap saat bisa di dorong-dorong, diludahi serta disuruh merayap sambil dipukul pakai popor bedil oleh seorang prada yang baru saja masuk TNI atau oleh seorang perwira remaja yang seharusnya tahu etika sebagai manusia berpendidikan dan lulusan Akademi Militer Nasional, nota bene yang umurnya saja seumur anak kawan-kawan itu. Karena itu sebenarnya setiap hari aku merasa sakit hati kepada serdadu TNI yang sekarang digunakan oleh penguasa untuk menindas kami. Aku yakin para serdadu ini tidak tahu apa yang telah mereka lakukan, dan tidak tahu siapa yang mereka tindas dan hadapi”. (hal. 83)

Tedja memberi keterangan di catatan kakinya bahwa ia sengaja menggunakan kata ‘serdadu; karena tingkah laku mereka memang seperti serdadu kilonial Belanda, bukan “prajurit TNI” yang ia banggakan dan ia kenal Ketika ia masih berumur 4 tahun dan bergaul dengan mereka. (hal.82-83). Di penjara Ambarawa ini Tedja bertemu dengan para tahanan militer yang sangat handal, namun ditahan entah dengan alas an apa. Dibuku ini Tedja menyebut mereka sebagai tahanan politik militer (tamil).

 

15 Juli 1970 Tedja dan teman-temannya dipindahkan ke Pulau Buru, Maluku. Di pulau ini, ia dan teman-teman membuka lahan baru dan ditanami padi. Masyarakat Maluku yang biasanya memakan sagu jadi mengenal padi karena dikenalkan oleh para tahanan politik ini. Perbedaan budaya juga menyebabkan permasalahan bagi para tapol ini. Misalnya saja, Ketika para tapol ini telah menyemai padi dan akan di tanam di petak-petak sawah, padi semaian ini dicabut oleh salah seorang dari tapol ini. Tiba-tiba saja ia langsung dihajar menggunakan popor senjata dan menyebabkan ia luka-luka. Ternyata, tentara yang bertugas yang berasal dari Maluku itu tidak mengetahui tentang cara menanam padi. ia mengira tapol ini hendak mensabotase tanaman yang sedang ditanam itu. Menggelikan tetapi juga menyedihkan. Para tapol ini sebenarnya telah membawa budaya baru bagi para penduduk yang ada di pulau Buru tersebut.

Hal yang tidak bisa dipahami Tedja adalah kehidupan free sex dari perempuan-perempuan yang ada di Pulau Buru tersebut. Kata Tedja” repotnya mereka penganut free sex pada saat masih single. Tetapi apabila sudah terikat perkawinan, mereka berubah jadi teman hidup yang setia. Gadis-gadis berumur 13-14 tahun sudah tidak perawan lagi, dan primitifnya, hubungan seks bisa mereka lakukan disembarang tempat, misalnya di kebun pisang, di alang-alang atau dipinggir sungai. Bahkan aku pernah melihay dengan mata kepala sendiri seorag anggota tonwal berbuat begitu dengan seorang gadis Marloso yang waktu itu baru berumur 12-13 tahun hanya dengan bersandar di pohon cengkih saja. Sedih sekali aku waktu itu, begitu berbedanya tingkat kebudayaan mereka dengan kita” (hal 195).

 

Tedja menuliskan renungannya yang berkenaan dengan Agama dan Rohaniwan. Ia katakan “ Aku sendiri percaya akan adanya Tuhan, atau apalah Namanya, tetapi bukan Tuhan yang menakutkan, seperti yang digambarkan guru-guru agama. Misalnya, kalau kita mencuri akan masuk api neraka, kalau tidak taat beribadah pasti akan dijauhi Tuhan. Aku percaya kepada sebuah kekuatan di luar jangkauan nalar manusia yang mengatur segala sesuatu yang sangat luar biasa. Dan kepercayaan itu tidak perlu dipikirkan akal sehat sekarang. Yang paling penting adalah berbuat baik dan mencintai sesame makhluk di bumi, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan, diluar bumi yang kecil sekali ini kalau kita bandingkan dengan alam semesta” (hal. 239).

Tulisnya lagi” aku menganggap semua agama itu dasarnya sama, kasih. Karena itu aku sangat setuju dengan kata-kata bijak Dalai Lama, “Buddja was not a Buddhist, Jesus was not a Christian, Muhammad was not a Muslim. They were teachers who taugh love. Love is their religion”. (hal. 239)

Kami menjadi pragmatis, dipaksa oleh pihak penguasa untuk memilih salah satu dari lima agama yang diakui secara hukum. Dan penguasa tidak memberi ihin pada tapol intuk tidak beragama. Pertimbangan kawan-kawan akhirnya memilih agama mana yang paling mungkin dilakukan atau yang paling tidak membebani kerja kami sehari-hari yang sudah membuat kami kelelahan. Bagi mereka yang kejawen, banyak yang mengelompokkan diri ke Hindu atau Buddha. Yang paling kasihan adalah teman-teman yang beragama Islam karena mereka harus menjalankan shalat lima waktu. Subuh betul-betul berat bagi mereka karena belum selesai capeknya bekerja seharian, merkea harus bangun pagi untuk berwudhu di sungai yang dingin, belum lagi mereka harus waspada terhadap ular dan babi hutan yang lewat (hal 240).

Pulau Buru, selain dijadikan sebagai tempat tahanan tapol ternyata juga dijadikan sebagai daerah pemukiman baru, meski sudah ada penduduk local yang tinggal disana. Pemerintah kala itu mendatangkan keluarga para tapol ini untuk tinggal menetap disana. Selain itu pemerintah juga mendatangkan para transmigrant dari Jawa (Madiun, Bondowoso, Kediri dan Malang Selatan) ke pulau Buru. Umumnya mereka berbahasa Madura. Tedja menceritakan betapa sengsaranya para transmigrant yang datang ke pulau Buru saat itu. Mereka datang dengan membawa bungkusan dan kopor butut. Anak-anak dan orang tua yang kurus-kurus dan wajah mereka menunjukkan kondisi yang lebih memprihatinkan dari para para tapol itu. Mereka malnutrisi. Ketika sampai di Gedung kesenian, yang dijadikan tempat menerima para transmigrant ini, mereka makan dengan tergesa-gesa apa yang disediakan oleh tapol. Minum air dengan berebut dan Sebagian menyiramkannya ke tubuh karena udara yang panas. Hanya Sebagian dari mereka yang muat yang diangkut oleh truk dari Pelabuhan ke Gedung kesenian, sebagiannya lagi harus berjalan kaki. Mereka kelelahan. Matanya mencari apa yang bisa dimakan. Peluh mengucur disekujur badan. Dalam hati Tedja membatin “kurang ajar Orde Baru ini!”. (hal. 281).

Tedjabayu dan teman-teman tapol lainnya dibebaskan pada tahun 1979. Mereka diangkut oleh kapal dari pulau Buru menuju ke daerah-daerah asal dimana para tapol itu ingin diturunkan. Tedja memilih untuk Kembali ke Jakarta daripada ke Yogyakarta, karena ia dilahirkan disana dan ia ingin tinggal Bersama adik laki-lakinya.

Dalam salah satu percakapan Tedja dengan salah seorang perwira, Mayor Kanan, berkata “ terus terang ya Mas, saya tidak tahu politik sekarang ini. Tenaga pandai-pandai bahkan brilian malah dibuang. Sementara di tanah air masih banyak persoalan pembangunan yang bisa bapak-bapak tangani”.

 

Apa yang disampaikan oleh Mayor Dukanan ini mengingatkan saya pada diskusi yang kami adakah di PPISB Unsyiah beberapa tahun lalu, bahwa negeri ini telah kehilangan satu generasi para intelektual akibat kekejaman Orde Baru kurun waktu 1965 hingga 1970. Dan ini sepertinya tercermin dari apa yang dikatakan oleh Mayor Dulkanan tersebut.

 

Memoir yang ditulis Tedjabayu ini menunjukkan bagaimana pada saat itu, para intelektual ini begitu fasih berbahasa Inggris. Buku yang mereka baca, yang diselundupkan oleh susteran dari gereja Katolik di Pulau Buru mereka baca sebagai bahan bacaan penambah  informasi, begitu juga majalah-majalah berbahasa Inggris.

Selain karena lawan politik, alas an menjadi tahanan juga karena factor sakit hati. Misalnya kisah tentang seorang pelatih silat bernama Saleh yang mengorbankan murid-muridnya untuk ditangkapi polisi dan dibawa ke pulau Buru.  

Buku ini membuka mata bagi para generasi muda yang sedikit sekali mengetahui tentang sejarah dibalik kejadian G=30S/PKI. Ketika pihak yang menang yang menciptakan sejarah maka pihak yang kalah selalu tidak pernah mendapatkan panggung untuk menceritakan sejarah dalam versi mereka. Tedja yang merupakan korban dari sejarah getir itu telah meninggalkan warisan luar biasa untuk pelusuran sejarah negara ini. 


Sabtu, 27 Maret 2021

Seoul Searching: Pencarian Identitas Diri Anak Imigran

 







    Film yang ingin saya ulas kali ini adalah film Seoul Searching. Film ini kebetulan saya dapat di internet ketika mencari film-film yang direkomendasikan bagus. Saya suka sekali film yang dilatarbelakangi kisah nyata. Dan film ini adalah salah satunya.

    Dari film ini saya menjadi semakin yakin mengapa orang-orang Korea Selatan itu begitu Westernised terutama sangat Amerika. Film itu dibuka dengan narasi tentang perang yang terjadi di Korea, Perang dengan Jepang hingga perang yang memecah Korea menjadi dua: Korea Utara dan Korea Selatan. Orang-orang tua yang tidak ingin mengalami perang yang berkepanjangan memilih untuk meninggalkan negara mereka, Korea Utara. Diantara mereka ada yang pindah ke Amerika, Meksiko dan Jerman. Namun, orang tua ini kemudian menghasilkan anak-anak yang telah kehilangan identitas mereka sebagai orang Korea. Oleh karena itu pemerintah Korea membuat program yang menghadirkan anak-anak diaspora ini dalam satu kegiatan bernama Summer Camp sehingga mereka bisa belajar tentang apa arti menjadi Korea bagi mereka.

    Saya sangat menikmati film ini. Film ini mengingatkan lagi pengalaman ketika berkunjung ke Amerika Serikat, bertemu dengan dosen yang berasal dari Pakistan yang mengatakan bahwa anak-anak Pakistan yang besar di Amerika sudah kehilangan identitas dan susah untuk berkomunikasi dengan orang tua mereka. Ini aku lihat sendiri di film Seoul Searching ini. Anak-anak muda yang datang ke Summer Camp ini datang dengan gaya mereka yang sudah ‘westernised’, misalnya ada perempuan yang bergaya seperti Madonna (Grace dari US), ada laki-laki yang bergaya punk (Sid dari US), ada yang sangat mudah sekali merayu perempuan-perempuan (Sergio dari Meksiko) dan ada yang sangat kalem (Klaus dari Jerman). Anak-anak muda ini digabung dalam satu camp. Peraturannya adalah laki-laki ada di lantai 1 sedangkan para perempuan tinggal di lantai 3. Tapi dasar anak-anak ‘berandal’ (kecuali Klaus), mereka punya cara untuk bagaimana bisa menemui para perempuan yang ada di lantai 3. Daaaaaan...pesta miraspun terjadi. Saking mabuknya dua dari anak muda itu, mereka hampir saja melakukan hubungan badan di kamar si perempuan.

    Cerita lain lagi adalah ketika Sid membantu Grace yang hampir diperkosa oleh Mike Song (kelahiran US yang sangat bergaya militer).  Sid lalu membuang semua miras yang ada di kamar Grace, sayangnya, ketahuan oleh guru Korea yang mengajar mereka. Akibatnya ia akan dikeluarkan dari summer camp tersebut. Sebenarnya ini bukan kali pertama Sid dianggap sebagai biang kerok perkelahian. Sebelumnya di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan, di daerah Demilitarized Zone (DMZ), seseorang membuang sisa permen karet yang mengenai sepatu tentara korea Utara. Hampir saja terjadi tembak-tembakan antara tentara Korea Utara dan Korea Selatan di perbatasan itu, hanya karena sisa permen karet tadi. Ditambah dengan ketahuan membawa minuman keras, semakin memperkuat keputusan bahwa Sid harus dikeluarkan dari camp. Namun sebelum dikeluarkan dari summer camp, si bapak guru menanyakan tentang keluarga Sid. Ia mengatakan bahwa ia membenci ayahnya. Ayahnya tidak pernah memperlakukannya dengan baik, bahkan suka memukul ibunya. Si pak guru lalu menceritakan kisahnya bagaimana ia dulunya adalah seorang pengajar di sekolah prestisius. Ia sangat menekan anaknya untuk bisa menjadi juara dan masuk ke universitas di Korea. Namun karena anaknya tidak bisa mengikuti kemauan ayahnya dan ayah yang sangat gila hormat ini lalu menendang anaknya hingga pingsan. Terakhir, menurut si pak guru, ia mendengar di radio kalau anaknya tewas bunuh diri di jalur kereta. Pak guru bilang bahwa ayah Sid bukan tidak sayang padanya, tapi laki-laki Korea memang susah untuk mengungkapkan perasaannya, terutama untuk perasaan sayang. Ini mengingatkanku pada drama Korea Full House yang saya tonton. Saya gemes pada aktor laki-laki di drakor itu yang sangat tidak bisa menyatakan perasaannya. Ternyata ini persis sama dengan apa yang terjadi di Korea Selatan. Bahkan di salah satu buku yang pernah saya baca, banyak orang Jepang yang  harus mengambil kursus tersenyum akibat masa lalu Perang Dunia II dimana mereka kalah dan menyebabkan hidup yang pahit sehingga mereka hampir tidak pernah tersenyum.

    Cerita menarik lainnya adalah ketika settingnya di kelas kaligrafi yaitu menulis huruf-huruf Korea. Salah seorang perempuan (Sara) bertanya pada Klaus tentang keluarga dan pacarnya. Klaus mengatakan bahwa ayah ibunya membawanya ke Jerman ketika ia masih kecil dan ia telah mempunyai pacar orang Jerman. Ketika Sarabertanya apakah ia ingin melanjutkan usaha ayahnya yaitu membuat sosis, karena orang tua Klaus adalah pengusaha Sosis, Klaus mengatakan tidak mau. Sara bertanya lagi mengapa tidak, toh usaha itu memberi uang yang banyak. Klaus mengatakan dengan tegas, meski orang tuanya adalah imigran dia tidak ingin menjadi seperti ayahnya yang hanya buruh. Ia ingin mencapai yang lebih tinggi lagi yaitu bekerja di bank sehingga orang tidak akan melihat bahwa orang Korea di Hamburg bukan hanya sebagai buruh. Wuaaaaaah….. bagus banget jawabannya.

    Klaus juga berkomunikasi sangat fasih dalam bahasa Korea karena di rumahnya di Jerman sana ia selalu menggunakan bahasa Korea. Seorang perempuan lain yang berasal dari Amerika (Kris) ada dikelas kaligrafi itu mendengarkan dengan seksama perbincangan dari kedua anak muda ini. Di lain waktu ia yang kemudian berbincang-bincang dengan Klaus. Dari hasil obrolan itu diketahui Kris adalah anak pungut dari laki-laki dan perempuan berkulit putih sehingga ia sama sekali tidak tau tentang Korea, bahkan ia tidak mempunyai nama Korea. Klaus menawarkan diri untuk mencari info tentang keluarga si perempuan ini. Sepertinya Korea memang sangat aktif dan responsive untuk pencarian keluarga hilang ini sehingga mereka mempunyai suatu pusat informasi mencari keluarga yang hilang. Nah, mereka ini lalu mendapatkan nomor kontak dari ibu biologis Kris. Klaus yang fasih berbahasa Korea ini menelpon dan berkata bahwa anaknya ingin bertemu. Ketika bertemu si ibu yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris Klaus membantu menerjemahkan apa yang ingin disampaikan si ibu kepada Kris. Akhirnya karena tidak ingin membebani Klaus terus-terusan, Kris kemudian menemui sendiri ibu kandungnya itu dan berbicara dalam bahasa Inggris meski ia tau bahwa ibunya tidak akan mengerti. Tapi apa yang disampaikan dalam pembicaraan itu sangat menyentuh. Kris tidak menyalahkan ibunya yang telah membiarkan dia tinggal di panti asuhan sehingga kemudian diadopsi oleh keluarga Amerika yang kemudian ia kehilangan identitasnya; tidak bisa berbicara bahasa Korea dan tidak bisa menulis dalam huruf Korea. Ia mengerti mengapa ibunya meninggalkannya di panti asuhan, karena ayahnya yang suka melakukan KDRT, dan itu berbekas di kaki Kris dan kepala si ibu. Kris mengetahui cerita KDRT itu dari Klaus yang menggali lebih dalam dari si ibu. katanya, ketika kecil, karena mabuk ayah Kris menyiramkan air panas ke Kris karena menangis terus. Si ayah lalu memarahi si ibu dengan memukul kepala si ibu menggunakan botol. Sampai dewasa bekas luka bakar di kaki Kris masih ada begitu juga dengan bekas luka yang ada di kepala si ibu. 

    Film ini mengajarkan banyak hal yang susah banget buat saya untuk menuliskannya, saking banyaknya. Diantara yang saya ingat diantaranya, bagaimana si Sergio, ketika diakhir summer camp mereka diminta untuk berpakaian yang berbeda. Nah, Sergio menggunakan pakaian perempuan yang sangat seksi. Ketika sedang berdansa ia mengatakan pada partnernya bahwa sekarang ia mengerti mengapa banyak perempuan yang merasa tidak nyaman karena di suitin (cat whistling) karena berpakaian seperti yang ia kenakan. Ada juga hal yang perlu diingat ketika Sid bertanya pada temannya yang sangat bergaya militer (Mike Song) mengapa ia harus bersikap sangat militeristik. menurut temannya ini, dengan cara itulah ia bisa bertahan hidup di komunitas militer, dimana ia bekerja. Karena tampilannya yang sangat Asia, ia gampang sekali didiskriminasi oleh mereka yang berkulit putih. 

    Saya suka sekali dengan Klaus, yang dari Jerman itu. Dia sangat ringan tangan, membantu teman-temannya dan sangat kalem. Berbeda dengan anak-anak yang lain yang sudah sangat tercerabut dari kultur ketimurannya itu. Klaus membuat film ini begitu menyentuh dengan usahanya membantu si perempuan untuk mencari identitasnya. 

    Belum lagi saya belajar bahwa ternyata laki-laki Korea tidak beda jauh dengan laki-laki di Asia pada umumnya, yang sangat memandang rendah perempuan. Seorang pemeran perempuan di film ini juga berkisah bagaimana ibunya selalu dipukuli oleh ayahnya sehingga ia sangat membenci laki-laki. Namun kemudian ia malah menyukai laki-laki ketika kenal dengan si Sergio ini. Kedua mereka sama-sama suka bela diri. Sergio menguasai Karate sedangkan si perempuan ini menguasai TaeKwonDo, olah raga yang berasal dari Korea.

    Film ini membuat saya berfikir tentang anak-anak Indonesia yang dilahirkan atau dibesarkan di luar Indonesia. Saya teringat pada apa yang dikatakan oleh salah seorang DJ MTV yang blasteran Indonesia Australia. ia mengatakan ia bingung identitas dia itu sebenarnya apa. Karena ketika ia di Australia, ia di bully dikatakan ia bukan orang Australia. Ketika ia di Indonesia (Jawa Barat tepatnya, karena kakeknya penulis pesohor di Jawa Barat) ia tidak disebut sebagai orang Indonesia, melainkan disebut sebagai bule. Krisis identitas ini juga membuat beberapa teman-teman yang saya temui juga terkadang bersikap menyebalkan. Misalnya saja, ketika saya kuliah di Thammasat University, saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang berkulit sawo matang tetapi berasal dari Amerika. Belakangan saya tahu ternyata ia diadopsi dan dibawa ke Amerika. Tingkahnya sangat menyebalkan. Saya sempat berfikir, mungkin karena krisis identitas itu yang menyebabkan mengapa ia bertingkah sangat menyebalkan. Mungkin ia mengalami kejadian seperti VJ MTV yang saya tuliskan diatas; ketika di Thailand tidak dianggap sebagai orang Thai tetapi ketika di Amerika ia juga tidak dianggap sebagai orang Amerika karena kulitnya yang sangat gelap. Begitu juga ketika bertemu dengan pemuda Pakistan yang sudah lama tinggal di US (ikut orang tuanya), tingkahnya menyebalkan sekali. berbeda dengan teman-temannya yang memang benar-benar bule. Sepertinya krisis identitas juga terjadi pada dirinya. 

    Secara keseluruhan, film Seoul Searching ini sangat bagus. Saya malah merasa para aktor dan aktirs yang ada di film ini seperti sedang mencari jiwa mereka (soul searching) karena krisis identitas tadi. 

 


Selasa, 09 Maret 2021

Karena Indonesia Bukan Hanya Jawa

 



Beberapa hari lalu saya mengikuti acara meeting virtual alumni program Muslem Exchange Program dimana saya pernah ikut kegiatan tersebut. Salah seorang yang memberikan acara pembuka adalah duta besar Indonesia untuk Australia. Saya sayangkan sekali pak Dubes menggunakan backsound gending Jawa ketika beliau berbicara. Sebagai orang yang bukan orang Jawa, saya merasa "terpanggil" untuk 'mengingatkan pak Dubes lewat tulisan ini. Saya minta teman yang ada di Melbourne untuk mengirimkan tulisan ini ke duta besar Indonesia di Canberra.


***********************************************

Tulisan ini merupakan refleksi saya untuk 65 tahun usia tanah airku, Indonesia.

Tahun 2010 lalu saya mengunjungi KJRI Indonesia di Melbourne. Saat masuki ruangan, yang pertama menyambut saya adalah patung Bali.

Saat berada di Bangkok tahun 2003, teman saya yang berasal dari UGM bercerita. Hampir setiap bertemu seseorang ia akan ditanyai berasal dari mana, ia menjawab dari Indonesia. Dan orang yang bertanya berkata “oh..I’ve been to Bali’. Sejak saat itu temanku selalu membawa peta Indonesia dan jika ada orang yang bertanya dia dari mana, dan jawabannya sama dengan yang diatas (I am from Indonesia) dan disambut dengan kata-kata “I’ve been to Bali”, teman ini langsung menggelar petanya, menunjukkan “ini Indonesia dan ini Bali dan saya berasal dari sini (sambil menunjukkan pulau Jawa)”.

Saat berada di kedutaan Indonesia di Washington DC tahun 2008, saya bertanya pada atase politik yang menerima kami. Saat itu meeting kami sudah selesai dan pak Atase membawa kami jalan-jalan menuju ruang tamu di kedutaan. Lalu saya lihat ada lukisan Pangeran Diponegoro dan Jendral Sudirman yang sangat besar. Saya katakan”… maaf ya pak, mungkin ini agak sensitive. Koq yang saya lihat disini hanya lukisan Diponegoro dan Sudirman? Ini kan hanya representative Jawa. Si Bapak terdiam sejenak dan lalu menjawab bahwa ada foto Cut Nyak Dhien di rumah Pak Duta Besar dan foto Pangeran Hasanuddin di ruangan yang lain lagi.

Saya sendiri tidak tau mengapa saya berani bertanya seperti itu. Mungkin karena belakangan, setelah meeting selesai, saya tahu bahwa beliau juga tamatan Hubungan Internasional Fisipol UGM (sama seperti saya, meski angkatan berbeda), ada kedekatan psikologis yg menyebabkan saya berani bertanya seperti itu.

Saat saya ceritakan hal ini pada salah seorang teman yang berasal dari Papua, ternyata ia mempunyai cerita yang sama. Katanya, pengalaman saya persis sama seperti yang dialami oleh seorang perempuan Papua saat diundang ke istana merdeka. Menurut Lusi (teman saya tadi), kasus Freeport (demo yang dilakukan oleh orang Papua di Freeport) mengundang keinginatahuan presiden SBY untuk mendengar lebih jauh dari masyarakat Papua sendiri. Lalu diundanglah beberapa orang dari kawasan Freeport untuk datang ke Istana merdeka. Saat diistana, setelah Presiden menyampaikan kata sambutannya,seorang ibu berdiri dan bertanya “ Pak, mengapa saya tidak melihat orang-orang kami di foto-foto yang ada diruangan ini? Apa yang salah dengan kami?”.
 Pak SBY langsung tercenung, tidak bisa berkata apa-apa dan matanya berkaca-kaca.
Ternyata sebelum memasuki ruangan pertemuan, banyak foto pahlawan Indonesia yang dipasang dilorong menuju tempat pertemuan. Dan itulah yang dilihat oleh si ibu tadi sehingga dia berani menanyakan, mengapa tidak ada orang yang mempunyai performa seperti dirinya
(berambut keriting dan berkulit hitam) dipajang di lorong tersebut.

Saya kira kita semua mengetahui bahwa memang daerah Indonesia yang sudah sangat terkenal secara internasional adalah Jawa dan Bali. Dan karena itu, Indonesia akan sangat mudah  diperkenalkan dengan menggunakan kedua daerah tadi. Namun sayang sekali, banyak sekali daerah-daerah lain yang ada di Indonesia menjadi tidak terwakilkan dalam kegiatan-kegiatan atas nama Indonesia. Salah seorang teman yang kuliah di Flinders juga sempat menemui salah seorang dosen dan menyampaikan keheranannya mengapa hanya ada batik yang merepresentasikan Indonesia di setiap kegiatan atas nama Indonesia. Karenanya, teman ini tadi meninggalkan kain tapis Lampung miliknya sebagai cendera mata saat dia akan pulang ke Lampung, setelah kuliahnya selesai.

Mungkin, butuh kerja  ekstra keras untuk memperkenalkan pada masyarakat dunia bahwa Indonesia bukan hanya Jawa dan Bali.

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku…semoga kedepan akan lebih banyak lagi perwakilan-perwakilan dari tanahmu yang muncul di luar Indonesia, sehingga dunia tau bahwa Indonesia itu bukan hanya beretnis Jawa dan Bali.

(tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan teman-teman yang beretnis Jawa atau Bali)

Rosnida Sari

Wakil Aceh untuk MEP 2006, Presiden PPIA Flinders University (2009-2010)

 

Kamis, 25 Februari 2021

Michelle Du Montaigne

 




Quebec, Kanada 2008; seorang perempuan berjilbab sedang berjalan dengan memegang kotak Mc. Donald yang baru dibelinya di sudut Parliament Hill (gedung parlemen Kanada). Tiba-tiba seorang laki-laki berkulit putih yang memakai jas hitam dan memegang payung menghampiri dan berkata ‘ you cannot eat that, it is haram!!”. Usai berkata iapun berlalu. Tinggal si perempuan sendirian, melongo. 

Adelaide, Australia 2009; di toilet perempuan di kampus, seorang perempuan berjilbab mendengar teman Indonesianya sedang diajar berwudhu yang benar oleh seorang perempuan Arab Saudi.


Apa hubungan dua kisah itu  dengan judul diatas? Saya akan mencoba membahasnya.


Montaigne adalah seorang Filusuf Perancis yang dianggap nyeleneh. Ia lahir tahun 1533. Diusia 38 tahun ia memtuskan untuk pension dari jabatannya sebagai walikotas Bordeaux. Ia dua kali menjabat sebagai Walikota di wilayah tersebut. Selain itu ia juga seorang pengacara dan sahabat dekat raja Perancis.

Montaigne memilih untuk pensiun dan menghabiskan waktunya untuk berfikir, merenung dan menulis buku. Awalnya ia kesulitan untuk menulis tentang apa, tapi kemudian memutuskan untuk menulis tentang dirinya. Dibukunya dia menulis ingin menjadi seperti apa. Dia ingin menjadi dirinya sendiri sebagai Michelle du Montaigne. Hal yang tidak disebut oleh banyak filusif lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Montaigne. Dia mencoba merefleksikan bagaimana menkadi seorang manusia. Dalam bukunya, dia banyak menulis tentang –maaf- penisnya. Bagian tubuhn yang tidak pernah dibicarakan oleh filusuf lain, bahkan sering diedit oleh editor jika ada tulisan seperti itu karena dianggap tidak pantas untuk ditulis apalagi dibaca.

 

Montaigne berpendapat bahwa kita terperangkap dalam role model yang salah. Role itu tidak memberi tempat bagaimana sebanarnya kita ingin berperilaku, dan ini menyebabkan kita tidak bisa menerima tubuh kita sendiri. Oleh karenanya Montaigne memilih menulis hal-hal yang dianggap ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu kita menerima keadaan tubuh kita sendiri. Karenanya dia sangat menganjurkan agar kita membandingkan kita dengan hewan yang ada dipekarangan rumah kita. Betapa, menurut Montaigne, hewan bisa menerima dirinya sendiri, mengapa kita tidak.

 

Jika Filusuf yang lain menganggap bahwa otak membuat kita bahagia, tidak demikian dengan Montaigne. Menurutnya, otak malah membuat kita menjadi tidak bahagia. Dan salah satu hal tersebut adalah karena kita membandingkan tubuh kita dengan tubuh orang lain. Tidak seperti binatang, kita sering sekali merasa jijik dengan tubuh kita sendiri. Kita merasa terlalu gemuk sehingga menyebabkan eating disorder. Montaigne melihat sendiri bagaimana seorang bangsawan bunuh diri hanya karena –maaf- kentut saat acara makan malam. Montaigne tau masalahnya. Ini karena bagian tubuh tersebut jarang sekali muncul ditempat umum, dan tidak pernah disebut-sebut dalam buku filosophi manapun. Oleh karenanya kita merasa bahwa bagian tersebut adalah bagian tubuh yang memalukan. Karenanya dia berpendapat bahwa karena didalam tubuh kita juga terdapat sebagian tubuh binatang, maka terimalah dia apa adanya.

 

Hal lain adalah Montaigne berbicara tentang perasaan tidak nyaman karena sekeliling kita menghakimi kita, apakah itu budaya ataupun kebiasaan orang-orang disekeliling kita. Saat mengikuti program Kapal pemuda ASEAN-Jepang tahun 1996, saya terkaget-kaget mengetahui bahwa perempuan-perempuan (dan laki-laki) Jepang mandi di bath tub tanpa menggunakan benang sehelaipun alias telanjang. Begitu juga saat saya berkuliah di Thailand tahun 2003 saya terkejut melihat perempuan memasuki wat (candi) hanya dengan baju ‘u can see’. Dalam kehidupan saya yang dibesarkan dengan tradisi muslim, mengunjungi tempat ibadah haruslah dengan pakaian yang sopan yaitu meski tidak menggunakan jilbab tapi pakailah pakaian yang menutup lengan dan kaki. Tapi yang saya lihat di Thailand itu sangat berbeda dengan apa yang saya alami sepanjang hidup saya. Ini yang kemudian membuat saya berfikir saat itu bahwa perempuan Thailand sangat tidak sopan memasuki rumah ibadah mereka sendiri. Padahal dalam hal ini, saya dibesarkan dengan konteks yang berbeda dan perempuan Thailand juga dibesarkan dengan konteks yang berbeda, sehingga saya tidak punya hak untuk menghakimi perempuan Thailand dengan konteks yang saya alami.

Menurut Montaigne, memiliki ‘big brain’ ternyata juga membuat kita arogan dan merasa bahwa kita tahu apa yang benar dan memaksakan kebenaran yang kita yakini pada orang lain. Setiap masyarakat mempunyai kebenarannya sendiri tentang apa yang baik untuk mereka makan, mereka pakai dan mereka katakan. Misalnya saja, pernah pemerintah Indonesia memaksakan penduduk di daerah pedalaman untuk memakai baju. Menurut pemerintah kala itu, tidak memakai baju itu tidak pantas. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Columbus pada penduduk Indian, saat Columbus, si penjelajah Spanyol itu menduduki benua Amerika. 40 tahun sebelum Montaigne dilahirkan, Columbus menemukan benua Amerika dan membunuh orang-orang Indian yang awalnya berjumlah 80 juta jiwa menjadi hanya 10 juta jiwa saja. Banyak orang berpendapat bahwa pembunuhan itu dilakukan karena keinginan untuk menguasai tanah-tanah suku Indian. Tapi dalam pandangan Montaigne apa yang dilakukan itu adalah karena tidak adanya pemahaman toleransi dan memaksakan apa yang sesuai menurut Columbus pada orang-orang Indian. Jangan lupa, Columbus saat itu datang sebagai seorang explorer (penjelajah) untuk menemukan daerah baru. Saat itu, bagi setiap penjelajah (dan Penjajah) dikenal slogan tiga G yaitu Gold, Glory and Gospel; emas, kemenangan dan penyebaran aqidah. Dimanapun para penjajah tersebut selain membawa tentara mereka juga membawa pastor. Fungsi pastor yang dibawa, selain sebagai penyegar rohani para tentara dan pejabat negara yang ikut dalam ekspedisi tersebut, juga menyebarkan agama yang dianut para penjajah pada penduduk lokal. Kebanyakan para penjajah tersebut adalah beragama katolik dan banyak dari mereka yang menjadi penganut katolik yang taat. Katolik yang taat disini maksudnya adalah mereka yang meyakini bahwa budaya merekalah yang benar, sehingga orang-orang diluar budaya mereka dianggap salah. Oleh karenanya menurut mereka, tidak salah untuk membunuh orang-orang yang tidak sama dengan ‘kita’ seperti orang-orang Indian tadi. Inilah mengapa Montaigne menduga bahwa pembunuhan yang dilakukan itu bukan hanya karena ingin menguasai tanah-tanah orang Indian, tapi karena keinginan memaksakan apa yang sesuai menurut Columbus kepada orang Indian.

Kembali kepada statement saya saat berkunjung ke Thailand dan melihat perempuan yang tidak memakai baju yang ‘pantas’ untuk memasuki wat. Saat itu saya telah berprasangka dan menghakimi si perempuan dengan mengatakan (dalam hati) perempuan itu salah memasuki wat dengan menggunakan pakaian ‘you can see’. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan prasangka? Jawabannya adalah pergilah berjalan-jalan. Lihat dan kenali budaya dan kebiasaan orang lain. Harus diakui bahwa setiap kultur mempunyai prasangka buruk terhadap budaya yang lain. Tapi dengan berjalan-jalan, melihat budaya orang lain, maka akan menghilangkan prasangka buruk tersebut. Montaigne tidak menganjurkan untuk mencampuri budaya-budaya yang ada, tapi dia menekankan bahwa setiap budaya sama baiknya.

Dengan semangat inilah, saya mencoba untuk menjelajah, melihat dan membandingkan budaya orang lain. Membandingkan disini tidak berarti mencari perbedaan untuk menghakimi, tapi untuk mencoba mencari kesamaannya sehingga saya bisa memahami budaya mereka.

Untuk itu, saya perlu melakukan apa yang disebut dengan ‘get your hand dirty’, terlibat dalam kehidupan mereka dan belajar dari mereka. Dengan cara demikian saya juga menjelaskan tentang budaya dan agama saya pada mereka.

Untuk menutup kuliah umum ini, saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Julia Suryakusuma, seorang columnist di the Jakarta Post. Katanya “the shock that result from pain is meant to trigger a new awareness. Unfortunately, many people choose to become angry and offended, and then close up in a defensive posture. This is much easier than reflecting, because a new awareness often entails us to change our attitude in life. And change is painful, even when it leads to something better” (kejutan yang disebabkan oleh rasa sakit dimaksudkan untuk memicu kesadaran baru. Sayangnya, banyak orang memilih menjadi marah dan tersinggung, dan kemudian menutup diri dengan postur bertahan. Ini jauh lebih mudah daripada merefleksikan diri/merenung, karena kesadaran baru sering kali menuntut kita untuk mengubah sikap kita dalam hidup. Dan perubahan itu menyakitkan, bahkan saat itu mengarah pada sesuatu yang lebih baik ").

Dari uraian yang sedemikian panjang ini, apakah anda menemukan kesamaan dengan dua kejadian di Quebec dan di Adelaide?



Sabtu, 06 Februari 2021

DESA PANCASILA

 


Keren kan nama desanya? Nama desa ini adalah pemberian dari Bupati Jember tahun 2018 lalu. Ini dikarenakan di desa tersebut terdapat 4 jenis agama yang hidup rukun. Saya mengetahui desa ini dari proposal penelitian mahasiswa untuk skripsinya. Saya tertarik untuk tau lebih banyak lagi dan meminta mahasiswa tersebut untuk menemani saya ke desa tadi.

Kami merencanakan untuk datang di hari libur supaya tidak mengganggu aktivitas kami. Saya memutuskan untuk datang di hari Sabtu saja agar lebih santai. Karena lokasinya yang jauh (sekitar 1,5 jam naik mobil) saya memutuskan untuk menyewa mobil dan driver sekalian, karena saya tidak berani naik motor. Nomor kontak untuk menyewa mobil saya dapat dari Amri, dosen UNMUH yang orang Gayo itu. Awal tahun lalu kami pergi arisan ke daerah Wuluhan dan menyewa mobil dari orang yang sama.

Saya dan mahasiswa tadi sepakat untuk berangkat jam 10 pagi dari kampus, jadi saya arahkan mobil untuk menuju ke kampus juga.

Perjalanan kami menuju desa itu ternyata melewati jalan besar menuju Surabaya. Jalan ini adalah satu-satunya jalan besar menuju ke Surabaya sehingga lalu lintasnya padat sekali. Belum lagi jalannya yang sempit. Saya tidak membayangkan kalau saya harus naik motor dijalan ini. Ga kebayang saya harus rebutan sepetak jalan dengan bus, truk, mobil dan motor lainnya. Hiiiii.....

Desa itu bernama desa Suko Reno. Dalam bahasa Jawa berarti Suka Keragaman. Pas sekali dengan situasi desa yang memang beragam dalam hal agama. Di desa tersebut terdapat 4 jenis agama yaitu Islam,Katolik, Hindu dan Sapto Dharmo yaitu agama kepercayaan lokal. Di salah satu gang di desa tersebut, yaitu di gang 2, terdapat 2 rumah ibadah yang berdiri tidak begitu berjauhan.

Pertama sampai di gang itu, kami berhenti di depan sebuah kuil Hindu Bali. Kuil ini beda sekali dengan kuil yang ada di Banda Aceh. Kuil Hindu Bali ini disebut dengan pure, sedangkan di Banda Aceh kuil itu tetap disebut dengan kuil. Di Banda Aceh sebenarnya terdapat dua kuil Hindu, namun sekarang hanya tersisa satu. Menurut pengurus kuil tadi, pak Rada, karena jumlah pemeluk agama Hindu di Banda Aceh yang berkurang menyebabkan mereka tidak bisa mengurusi kedua kuil tad. Akhirnya kuil itu dijual dan sekarang telah berubah wujud menjadi rumah hunian. Pemeluk agama Hindu di Banda Aceh berkurang, akibat konflik yang terjadi di tahun 1976 sampai berhenti ditahun 2005 karena adanya MoU antara pemerintah Indonesia dan pihak GAM. Hindu Bali dan Hindu Tamil (yang ada di Aceh) juga berbeda dalam pelaksanaan hari raya keagamaannya. Jika di Bali dikenal dengan hari raya Nyepi, hari Saraswati, Galungan dan Kuningan maka Hindu Tamil mengenal hari raya Taipusam dan Devapali.

Kembali ke desa Suko Reno, setelah melihat-lihat di kuil, kami mengunjungi gereja Katolik yang bersebelahan dengan SD Katolik yang masih satu jalan dengan kuil tadi. Gereja ini bernama Gereja Santa Maria Tak Bernoda. Sebelum memasuki wilayah gereja, kami meminta izin dulu pada pengurus gereja yang rumahnya tidak jauh dari gereja tadi. Setelah beliau mengizinkan, kami lalu masuk ke pekarangan gereja. Bangunan gereja tertutup rapat. Ada flyer, yang di pasang di pintu depan yang menginfokan akan pemilihan ketua gereja. Menariknya, salah seorang yang menjadi kandidat bernama I Wayan. Ini mengingatkan saya pada penbimas Hindu yang ada di Banda Aceh. Namanya sangat Batak tapi dia beragama Hindu. Menarik sekali.

Dibagian belakang terdapat satu gedung yang baru dibuat, tapi saya tidak tau fungsinya apa. Sepertinya ingin dijadikan semacam gua Maria.

Dari gedung gereja tadi kami berpindah ke rumah pak Ris, si pengurus gereja. Ia ternyata guru di SD Katolik, bersama istrinya, ibu Rina. Ibu Rina adalah penduduk asli desa Suke reno, sedangkan pak Ris adalah orang Jawa yang sudah besar di Palembang. Mereka bertemu ketika sama-sama menempuh pendidikan seminari di Malang. Ketika menikah ditahun 1990an mereka memutuskan untuk tinggal di desa kelahiran ibu Rina. Pak Ris juga dipercayai sebagai anggota FKUB  di desanya.

Kami banyak mengobrol tentang kehidupan antar umat beragama di desa tersebut. Menurut bu Rina, belum pernah mereka mengalami diskriminasi karena mereka minoritas. Menariknya adalah apa yang beliau katakan tentang kehidupan beragama di desa ini. Kata Bu Rina, sangat biasa bagi muslim untuk datang pas misa Natal malam 24 Desember ke gereja. Orang-orang muslim ini tidak ikut beribadah, tetapi mereka menyaksikan acara persembahyangan itu. Selain itu ada banser NU yang menjaga gereja mereka dengan cara berjaga di luar gereja pada saat Misa Natal.

Bu Rina juga bercerita bagaimana sekolah mereka menyediakan guru-guru yang mengajar agama bagi murid-murid yang bersekolah disitu. Mereka mempunyai guru agama Islam dan agama Hindu; agama minoritas yang dipeluk oleh murid-murid di SD Katolik itu. Murid-murid mereka yang muslim ada yang sampai hafal Hadist sampai 100 dan melanjutkan sekolah mereka di Alqodiri, pesantren besar yang ada di Jember ini. Pihak pesantren salut pada murid SDK yang masuk ke pesantren mereka karena bisa menghafal hadist yang dipesantren sendiri belum tentu ada yang sampai hafal sampai 100. Karena kepintaran ini, keluarga-keluarga muslim yang lain juga menyekolahkan anak-anak mereka di SDK ini. Tapi mayoritas muslim yang bersekolah disitu adalah mereka yang masih bertalian darah seperti adik atau sepupu.




Di Gang 2 tersebut kami melihat dua kuil Hindu Bali dan satu gereja Katolik. Sayangnya kami tidak sempat melihat ke mesjid (saya sendiri tidak tau mesjidnya ada di gang berapa). Bagi para pemeluk agama Hindu di desa tersebut, mereka memiliki semacam tempat untuk sembahyang yang dibuat dari batu yang diletakkan di depan rumah mereka. Ini mengingatkan saya pada rumah-rumahan kecil di depan rumah para pemeluk agama Buddha di Thailand. Hampir di setiap rumah di Thailand, bagi mereka yang memeluk agama Buddha, kita bisa temukan semacam rumah kecil di depan setiap rumah yang fungsinya untuk bersembahyang. Tempat sembahyang di depan rumah para pemeluk agama Hindu di desa ini juga mengingatkan saya pada Palang Salib raksasa (biasanya 3 palang salib) yang dipasang di depan rumah penduduk di daerah NTT, ketika saya berkunjung di tahun 2018 lalu. Bagi saya, ini mengkhawatirkan sekali. Jika saja terjadi konflik antar agama, maka rumah-rumah mereka yang mempunyai simbol ini adalah sasaran empuk yang akan diserang, karena simbol agama yang mereka miliki itu. Tentang penyerangan rumah yang mempunyai simbol-simbol agama, dituliskan dalam artikel Jacky Manuputy 'Dari Tarian Perang ke Tarian Damai' dimana dalam tulisan tersebut Jacky menceritakan kasus perang antara Islam dan Kristen di Maluku Utara. Dalam tulisan itu Jacky mengisahkan bahwa rumah-rumah tentara, meski dalam kompleks, dilempari orag-orang, karena terlihat adanya gambar Yesus di dalam rumah, karena terlihat dari jendela yang terbuka (Jacky Manuputty, hal. 20). 

Kami juga sempat mengunjungi satu tempat peribadatan komunitas agama lokal yaitu pemeluk agama Sapta Dharma. Ketika mengunjungi tempat tersebut, saya kesulitan berkomunikasi dengan bapak yang menjaga disitu, karena ia berbicara dalam bahasa Jawa. Untung mahasiswa saya bisa menerjemahkan kata yang saya tidak mengerti. Sibapak bilang bahwa agama ini berkembang pertama sekali di Pare, Jawa Timur pada tahun 1952. Berkembang sampai ke desa Suko Reno sejak tahun 1970an. Awalnya pengikut agama lokal ini sebanyak 70an orang , namun sekarang menyusut hanya sebanyak 25 orang, bahkan pernah hanya sebanyak 10 orang saja. Mereke berkumpul dan berdo’a pada malam Jumat di ruangan kecil di belakang rumah milik si bapak. Sebenarnya mereka ingin sekali mendirikan tempat ibadah mereka, namun karena pengikutnya yang sangat sedikit, mereka tidak mendapatkan izin dari pemerintah karena ada aturan pendirian rumah ibadah dimana UU itu mengatakan harus ada pengumpulan KTP pengguna rumah ibadah tersebut sebanyak 90 orang dan KTP dari masyarakat sekitar yang bukan pengguna rumah ibadah tadi sebanyak 60 orang dan disahkan oleh pemerintah setempat.

Banyak yang mengatakan bahwa toleransi bukan dipelajari, melainkan dialami, maka desa ini adalah salah satu contoh betapa sebenarnya merawat keberagaman dan menjaga toleransi itu mudah saja. Sepanjang kita mau terbuka dan menerima apa yang berbeda dari kita. Perbedaan tersebut akan menghadirkan pengalaman bagi masyarakat disekitar tersebut yang beragam, lalu akan menjadi norma kehidupan mereka dan akan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang dianggap kecil seperti ini sebanarnya mutlak diperlukan di tengah Indonesia yang sangat beragam ini. Jika tidak bisa menerima perbedaan seperti desa Suko Reno ini, maka kita akan sangat mudah untuk dipecah belah.