Senin, 08 April 2019

Konflik di Tanah Terra Nullis




Mungkin banyak yang tidak tau bagaimana orang kulit putih bisa datang ke benua Australia. Kebetulan ada teman dari Australia yang datang ke Aceh, saya lalu memintanya untuk masuk kekelas dan menceritakan ke murid-murid apakah ada konflik yang terjadi di antara orang kulit putih dan suku asli, Aborigin.

Dikelas, ia menceritakan banyak hal. Menurutnya, selama ini orang di luar Australia hanya melihat satu suku aborigin saja, padahal terdapat 300 suku dan mereka tersebar di seluruh Australia. Namun ketika Inggris mendarat pertama sekali pada tanggal 26 Januari (yang kemudian dijadikan sebagai hari Australian Day, yaitu peringatan seperti peringatan 17 Agustusnya Indonesia) mereka menganggap daerah tersebut sebagai tanah kososng karena tidak ada gedung dan bangunan disitu, sehingga dianggap sebagai tanah kosong (Terra Nullis) atau daerah yang tidak punya peradaban. Benua ini ditemukan oleh James Cook pada tanggal 26 Januari 1788.

Pelaut Inggris yang pertama masuk kesini menggunakan cara pandang mereka sendiri untuk melihat tanah Australia tersebut. Dalam konsep mereka, tanah yang berperadaban adalah yang mempunyai gedung, taman dll, namun mereka tidak mengetahui bahwa Aborigin juga mempunyai konsep sendiri. Berbeda dengan kulit putih yang menandai tanah mereka dengan pagar, komunitas Aborigin ini berpindah-pindah. Mereka tidak mempunyai konsep seperti itu, sehingga kesannya tanah itu tidak bertuan. Selain itu Aborigin juga tinggal di dalam gua, bukan di rumah. Ini yang menyebabkan saat datang ke benua Australia, pelaut Inggris menyebutnya dengan “Terra Nullis” yaitu tanah kosong.

Selain dengan penguasaan terhadap tanah dan sumber daya yang ada, para pendatang ini, setelah menetap, membuat peraturan bahwa harus ada komunitas kulit putih dibenua itu. Artinya, orang-orang Aborigin ini harus dihilangkan. Karenanya keluarlah peraturan dimana anak-anak Aborigin diculik dan dididik dengan cara Kristen (baik Katolik maupun Protestan). Lama kelamaan, anak-anak yang dididik dengan cara ini kehilangan identitas mereka. Mereka tidak lagi bisa berbahasa ibu, melainkan sudah berbahasa Inggris. Untuk mengenyahkan para Aborigin ini, pemerintah juga melakukan pemaksaan dengan menikahkan perempuan-perempuan Aborigin dengan laki-laki kulit putih, sehingga anak-anak mereka akan terlahir berkulit lebih putih. Ejekan untuk anak-anak kelahiran campuran ini adalah ‘Creamy’, artinya anak-anak campuran Aborigin dan kulit putih.

Tidak hanya di Indonesia saja orang-orang menghargai mereka yang berdarah biru atau totok. Di Australia juga begitu. Sehingga anak-anak yang mempunyai darah campuran ini dipandang sebelah mata dan diejek dengan sebutan “creamy” tadi. Selain itu mereka menjadi kehilangan identitas, siapa mereka sebenarnya? Dibilang orang kulit putih, bukan. Dibilang kulit hitam(Aborogin) juga bukan. Mereka kehilangan semuanya, budaya, cara berpakaian dan bahasa. Padahal jika kita kehilangan bahasa maka otomatis kita akan kehilangan budaya, karena pelaksanaan budaya dilakukan dengan menuturkannya dengan bahasa ibu.

Tentang kehilangan identitas, ini mengingatkan saya pada apa yang dikatakan oleh Jamie Aditya, DJ MTV berdarah campuran Australia dan Indonesia. Ia pernah mengatakan disalah satu acara tivi bagaimana dia kehilangan identitas. Ia bingung tentang dirinya, apakah dia Australia atau Indonesia. Ketika orang-orang di Indonesia yang mempunyai orang tua salah satu dari Medan dan satu lagi dari Padang, mereka tidak merasa kehilangan identitas karena tampilan orang tua mereka hampir sama, berkulit coklat dan masih berasal dari Indonesia juga. Tapi kasusnya akan berbeda ketika orang tuanya yang satu berasal dari Australia, misalnya dan satu lagi dari Aceh, maka si anak akan mengalami krisis identitas, karena merasa berpostur dan berkulit berbeda dengan anak-anak dimana ia tinggal.

Tentang identitas ini juga mengingatkan saya pada salah satu scene di film Green Book. Doc Shirley (yang diperankan oleh Mahersala Ali) berkata bahwa ia bingung dengan identitasnya. Ia adalah laki-laki berkulit hitam yang dididik dengan cara orang kulit putih. Ia berpakaian jas, belajar bermain piano. Ternyata Doc di didik bermain piano oleh orang-orang kulit putih bukan dengan tujuan untuk memperkenalkan budaya kulit putih, tapi untuk dipertontonkan pada orang-orang kulit putih bahwa Doc yang berkulit hitam ini telah berhasil dididik dengan cara kulit putih. Dalam realitanya, Doc hanya dihargai untuk permainan pianonya yang luar biasa, tapi ketika permaian selesai, ia menjadi orang kulit hitam yang tidak dihargai. Dalam salah satu scene ditunjukkan bagaimana Doc diberi ruang penyimpanan sapu ketika ia akan bersalin pakaian untuk pentas. Doc juga tidak diizinkan menggunakan toilet yang dipakai orang-orang kulit putih sebelum acara pertunjukkan Doc dilakukan. Begitu juga ketika sebelum pertunjukan dilakukan, Doc tidak diizinkan makan di meja makan yang dikhususkan untuk kulit putih.

Bagi masyarakat kulit putih Australia, tanggal 26 Januari di peringati sebagai hari Australian Day, hari dimana pelaut Inggris pertama sekali berlabuh di Australia, sehingga dianggap sebagai hari kedatangan ke benua Australia. Tapi bagi orang-orang indigenous, tanggal itu adalah tanggal dimana tanah mereka dijajah, disebut sebagai Invasion Day (https://tirto.id/australia-day-adalah-sejarah-invasi-kulit-putih-atas-aborigin-dfpr). Peringatan 26 Januari ini dilihat dengan dua cara pandang yang berbeda. Satu sisi dilihat dari komunitas kulit putih dan satu lagi dari komunitas Aborigin. 

Dikutip dari tulisan Ravando Lie di Tirto.Id, Laporan the Guardian mengatakan bahwa anak-anak Aborigin lebih rentan 25 kali dipenjara dibandingkan anak-anak kulit putih. Tingkat kematian anak-anak abotogin lebih tinggi dibandingkan yang non-aborigin. Diskriminasi kesehatan terhadap indegenious people menyebabkan mereka berumur 10 tahun lebih pendek dibandingkan non aborigin. 

Berkurangnya jumlah populasi orang Aborigin juga disebabkan karena penyakit yang dibawa oleh orang-orang kulit putih. Sebagai sebuah benua, Australia sangat terpencil dan terpisah dari kehidupan yang lain. Pada masa pendudukan kulit putih itu, bibit penyakit yang dibawa oleh orang kulit putih ke benua tersebut sangat mudah menyebar pada orang-orang Aborigin. Kalau ada bibit penyakit, maka hanya akan ada disitu saja, tidak terbawa keluar dan itu menyerang imun system dari orang-orang Aborigin. Karena penyakit ini bukan penyakit yang familiar dialami orang-orang Aborigin menyebabkan mereka tidak tau mereka kena apa, sehingga tidak tau mencari obatnya. Akibatnya merekapun meninggal. Menurut CNN Indonesia, jumlah Indigenous Australia hanya tersisa 470 ribu dari 23 juta penduduk Australia (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20150707145437-113-64944/australia-akan-mengakui-aborigin-dalam-konstitusi-pada-2017).  



Rabu, 28 Februari 2018

Mengurus Visa di Konsulat Jerman Medan



Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan di Jerman, tepatnya di Wuppertal pada bulan Oktober 2017. Satu lembaga yang berkenaan dengan kegiatan interfaith mengundang saya untuk ikut dikegiatan tersebut. Namun, tentunya saya harus mempunyai visa sebelum bisa mengunjungi negara itu. Daerah terdekat dengan tempat tinggal saya untuk mengurus visa adalah Medan. 

Ada beberapa persyaratan yang harus saya penuhi sebelum mendatangi konjen:
1.       Surat undangan dari si pengundang
2.       Asuransi
3.      Detail jadwal pesawat
4.      Akte lahir atau surat nikah
5.      Kartu keluarga
6.      KTP
7.      Pasport
8.      Pas foto
9.      Buku bank
10.   Visa online yang diisi lewat web kedutaan Jerman. Setelah diisi di simpan di flash disk.

Sepertinya pihak pengundang sudah tau hal-hal apa yang saya perlukan untuk mengurus visa. Mereka telah mengirimkan beberapa hal yang saya butuhkan untuk mengurus visa, seperti surat undangan, asuransi dan jadwal pesawat. 

Saya mencoba mengisi visa online yang ada di web. Susah sekali. berkali-kali saya coba, dibantu oleh seorang teman yang sudah berkali-kali ke luar negeri, namun tetap saja tidak bisa. Akhirnya, dengan pasrah saya berangkat ke Medan, dengan membawa berkas-berkas yang diminta (minus visa online) dengan harapan petugas disana mau membantu saya mengisikannya.

Dengan naik bus malam, saya berangkat ke Medan. Ternyata pelayanan bus Aceh semakin turun. 2 tahun lalu, saya naik bus (2-1 seat) dari perusahaan yang sama. Saya mendapatkan minuman dan kue kotak, tapi kali ini tidak ada sama sekali. dulu, busnya non stop dan tidak menerima penumpang ditengah jalan. Tapi, kali ini dengan bayaran yang sama dengan dua tahun lalu, bus ini malah berhenti di tengah jalan untuk mengambil penumpang. Dulu, saya dan dua teman lain sampai diPool bus jam 5.30 pagi, tapi kali ini saya sampai di pool sudah jam 8.30. saya betul-betul kecewa karena saya berharap bisa sampai di kedutaan lebih pagi sehingga bisa dilayani lebih dulu.

Sesampai di pool bus, saya membersihkan diri terlebih dahulu, sarapan pagi dan bertanya dimana bank Mandiri terdekat karena saya harus mencetak buku bank saya, karena salah satu syarat adalah buku bank yg masih active tiga bulan kebelakang. Kasir di tempat sarapan mengatakan satu tempat dimana saya bisa mencetak buku bank. Sayangnya saya lupa nama tempat itu sekarang. Katanya tukang becak tau dimana ada bank mandiri terdekat. Maka, saya panggil becak dan becak membawa saya ke tempat tadi. Namun ternyata yang ada disitu hanya bank Mandiri Syariah, bukan Bank Mandiri. Sehingga saya harus mencari lagi dimana lokasi Bank Mandiri. Untunglah abang becak tau dimana dan akhirnya saya bisa mencetak buku bank saya, sehingga saldo saya terkini bisa terlihat di buku bank itu. 

Ketika keluar dari Bank, saya menuju ke konjen Jerman. Beberapa orang menyaankan saya untuk memesan gojek saja, tapi saya tidak punya aplikasinya. Untunglah ada taksi blue bird yang lewat dan akhirnya saya naik taksi menuju kesana. Konjen itu berada di pinggir jalan besar, tapi kalau tidak diperhatikan dengan baik, kita bisa tertipu, karena hampi tidak ada tanda apapun yang menunjukkan itu konjen. Kami sudah melewati kantor – yang sebenarnya rumah – itu, karena tidak ketemu sopir taksi lalu menanyakan pada satu satpam yang ada di dekat situ. Satpam menunjukkan dimana konjen dan kami berbalik arah lagi. Untunglah kami tidak susah menemukan konjen itu. 

Ternyata untuk masuk ke area kantor sangat tidak mudah. Pintu di gembok oleh satpam. Setiap orang yang akan masuk ke kantor itu harus dibukakan pintunya oleh satpam, lalu digembok lagi. Begitu juga ketika akan keluar, pintu dibuka oleh satpam, setelah si tamu keluar, pintu itu akan digembok lagi. 

Saya datang dan langsung menyerahkan berkas. Staff kantor itu bertanya, ‘ibu sudah ambil nomor antri?”, saya katakan belum. Dia menyuruh saya untuk ke tempat satpam dan meminta nomor antri. Ternyata saya mendapat nomor antrian 3. 

Ketika duduk menunggu, ada seorang perempuan muda cantik yang duduk di dekat saya. Belakangan saya tau beliau adalah agen perusahaan travel yang membantu satu keluarga Tionghoa untuk mengurus visa ke Jerman. Satu pengurusan visa oleh mereka biayanya Rp. 1.700.000. dan ternyata bukan hanya dia saja, ketika duduk menunggu panggilan, saya melihat ada tidak lebih dari tiga agent perjalanan yang mengurus visa disitu. Sepertinya hanya saya yang mengurus visa sendiri.

Saya tanyakan pada si agen ini apakah harus menfotokopi buku bank? Katanya iya…terpaksalah saya harus keluar dulu dan mencari dimana ada toko foto kopi. Di dekat kantor itu, saya melihat ada kantor partai democrat dan meminta pada penjaganya untuk memfoto kopi disitu selembar saja. Tapi petugasnya malah menyuruh saya untuk mencari toko foto kopi yang menurutnya tidak jauh dari situ. Saya berjalan lagi dan bertanya pada beberapa orang, akhirnya ketemu juga dengan toko foto kopi.

Setelah selesai memfoto kopi, saya balik lagi ke konjen. Namun nomorku sudah di dahului orang, akhirnya saya terpaksa menunggu. Ketika bagianku diperiksa, di petugas menanyakan tentang visa online saya. Saya katakan saya mencoba untuk mengisi, namun tidak bisa. Di web dikatakan bahwa konjen bisa membantu, jadi saya berharap konjen bisa membantu. Namun ternyata, konjen tidak mau membantu. Staff yang menangani saya menyuruh saya mengisi ulang di warnet. Dia juga tidak mengatakan dimana ada warnet. Akhirnya, saya keular lagi dan sibuk mencari warnet. Setelah bertanya kesana-kemari akhirnya dapat juga warnet itu. Saya isi ulang visa online dan dibantu oleh petugas warnet. Saya juga simpan di flashdisk yang saya beli di warnet tersebut.

Ketika kembali ke konjen, ternyata hanya tinggal saya yang tersisa disitu. Untung belum tutup. Setelah mereka melihat, ternyata masih salah juga visa yang saya isi. Harusnya negara pertama yang saya datangi untuk transit adalah Swiss, tapi saya malah mengisinya dengan german. Dan karena di warnet tidak ada aplikasi yang diminta oleh kedutaan, mereka menyimpan dalam bentuk PDF, sehingga berkas yang sudah saya simpan dalam flash disk tidak bisa dirubah. Akhirnya, setelah melihat kesusahan yang saya hadapi, mereka akhirnya bersedia mengisi visa tersebut untukku, tapi dengan bayaran Rp. 100.000, sesuai dengan apa yang tertera di kertas yang disodorkan ke saya. 

Sepertinya mereka memang harus memplonco siapapun yang datang kesana. Mereka tidak akan membiarkan siapapun untuk meminta pertolongan mereka jika seseorang itu belum mencobanya.

Andai aku seperti para turis2 Tionghoa yang aku temui disitu, mungkin aku tidak akan harus bolak balik dan disengsarakan. Namun, jika aku mengikuti cara mereka, maka aku harus mengeluarkan uang Rp. 1.700.000 untuk membayar travel agent dan tidak mempunyai pengalaman bagaimana ribetnya mengurus visa di konjen itu. 

Akhirnya urusan pengurusan visa selesai, namun aku belum bisa mengambilnya hari itu juga. Mereka perlu untuk mengirim pasportku ke kedutaan di Jakarta untuk mendapatkan label visa. Staff disana bilang kalau mereka akan menghubungi saya kalau visanya sudah selesai dan saya harus mengambilnya sendiri ke situ. Tapi, saya bilang saya tidak bisa, karena saya dari Aceh. Apakah mereka bisa mengirimkannya ke Aceh? Namun mereka keberatan, mereka bilang saya bisa minta tolong teman atau saudara yang ada di Medan untuk mengambilkannya. Saya tidak berani membantah mereka. Sudah terlalu banyak kerepotan yg saya sebabkan pada mereka. 

Sepertinya konjen itu bekerjasama dengan beberapa travel agent. Ketika saya masih duduk disitu untuk di wawancarai, staff perempuan yang tengah memeriksa berkas saya mendapat telpon. Ia berbicara dengan seseorang di ujung sana dan berkata kalau sebaiknya si pemilik suara itu dating saja ke konjen untuk mengurus visa, jangan lewat dia. Atau, bisa juga dating ke dua travel agent yang dia sebutkan, karena travel tersebut sudah tau apa-apa yang diperlukan untuk mengurus visa. Saya tidak bermaksud berburuk sangka, namun karena ketidaktahuan pelanggan bagaimana mengisi visa online,  (atau juga karena malas ribet), membuka peluang bagi travel agent untuk membuatkan visa dengan bayaran yang luar biasa mahal menurut saya.

Untunglah saya tidak perlu membayar sewa travel agent yang semahal itu. Untung saya hanya perlu membayar untuk urus visa di konjen. Dan biaya pengurusan pengisian formulir karena saya yang sudah bolak balik ke rental mengisi, membuatnya sesuai permintaan mereka, tapi tetap saja salah. Akhirnya mereka bersedia membuatkan untuk saya. Jadi ada dua yang harus saya bayar, biaya visa dan biaya pengisian formulir yang akan diisikan oleh staff konjen.

Setelah urusan selesai, saya katakan bukan saya yang akan mengambil kalau sudah selesai. Saya minta mereka yang mengirimkan, tapi mereka mengatakan minta keluarga saja yang ada di Medan yang ambil. Beri surat kuasa. Hm…ini beda dengan apa yang saya dapat di blog seseorang yang nulis kalau konjen bersedia mengirimkan ke alamat kita asalkan ditinggalkan biaya pengirimannya. 

Sekitar seminggu kemudian, konjen menelfon mengatakan bahwa visa saya sudah selesai dan saya diharapkan untuk mengambilnya. Saya minta tolong saudara untuk mengambilnya, namun sebelumnya saya kirimkan surat kuasa agar dia yang mengambilnya. 

Surat kuasa yang saya kirim ternyata lama sampai kealamat saudara saya. Meski sudah saya kirim pakai pos kilat, tetap juga sampainya tiga hari. Padahal kirimnya ke Medan lho..! sudah sempat kesal, tapi akhirnya instead of sampai hari Sabtu (karena saya kirimnya hari Jumat) itu surat sampainya hari Selasa. Langsung saudara saya kirim ke saya, dan heran, itu surat dalam waktu satu hari langsung sampai. Hmm….saya sampai su’zon, apa karena dari Aceh ya apa2 jadinya lambat nyampenya?

Meski lumayan ribet, saya menikmati pengurusan visa saya sendiri, tidak pakai agen. Lumayan, jadi dapat pengalaman bagaimana mengurus visa di konjen Jerman Medan.  
 

Selasa, 30 Januari 2018

Ziarah Kubur



Hari ini Henny menelpon, mengajak ziarah kesalah seorang anggota MAF yang tewas tenggelam tahun 2010 lalu. Ceritanya, pada saat itu si bule sedang berenang di Lhoknga, tiba-tiba ada anak umur 12 tahun yang akan tenggelam. Dia langsung menolong anak tadi. Sayangnya dia dan anak tadi malah ikut tenggelam. Temannya yang lain, yang ikut menolong, selamat. Tapi dia tidak terselamatkan. Sianak menghilang, satu hari kemudian ditemukan, masih di pantai Lhoknga, sudah menjadi mayat.
Aku sering mendengar cerita ini dari Henny. Dia sering bercerita bagaimana tegarnya istri si penolong ini tadi. Ternyata hari ini beliau datang ke Aceh dan ingin mengunjungi makam suaminya, bersama sang anak yang kini sudah berumur 10 tahun. Henny bercerita bagaimana si anak, ketika ayahnya meninggal malah sangat senang karena banyak sekali orang dirumah. Si anak ketika itu berumur 2 tahun, sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dirumah mereka.


Kini, si istri dan si anak datang lagi ke Aceh. Mereka mengunjungi makam suami dan ayah mereka. Biaya kedatangan di tanggung oleh perusahaan dimana si suami dulu bekerja. Karena perusahaan ini akan tutup di Aceh, perusahaan memberi kesempatan untuk si istri dan anaknya melihat makam suaminya untuk terakhir kalinya.

Dari apa yang aku dengar dari teman yang mengajakku mengunjungi makam ini, Ben (demikian nama si korban) sudah mengetahui bahwa dia akan mati muda. Ben lahir tahun 1980 dan meninggal tahun 2010. Ketika ia masih pacaran dengan si istri, ia telah memberitahu bahwa ia akan mati muda dan menanyakan pada si istri apakah dia masih akan mau menikah dengannya. Mungkin karena sudah diberitahu terlebih dahulu, menurut cerita temanku,si istri terlihat begitu tegar ketika mengetahui kematian suaminya. 

Kini, setelah 8 tahun, si istri dan anaknya datang ke Aceh untuk menjenguk makam si suami. Tadi, kami bertujuh datang mengunjungi makam itu. Makam itu mempunyai pusara yang berbeda dengan makam lainnya. Makam Ben dibuat dari batu kecil-kecil (batu yang lebih besar sedikit dari pasir) dan ada nisan disertai dengan foto Ben di nisan itu. Juga ada testimony yang tertulis di nisan itu.

Yang menarik adalah ternyata tiga tahun lalu si istri menikah lagi. Kini dia punya dua anak dari suaminya yang sekarang, Jordan (2th) dan Juli (6 bln). Suami yang sekarang adalah teman baik suaminya yang dulu. Aku sempat terpana ketika melihat bagaimana si istri menggunakan handphonenya menelpon si suami di Amerika sana dan menshoot makam tadi. Bagi pemikiran mereka yang konservatif (aku termasuk kali ya, hehehe) sangat heran melihat si suami yang tenang-tenang saja menerima shootingan istrinya, dan si suami tidak cemburu dengan apa yang dilakukan oleh si istri. Bagi sebagian orang, mungkin kehidupan yang lalu sudah selesai dan tidak perlu diungkit-ungkit kepada suami yang baru. Tapi untuk kasus ini lain. Saya sangat kagum melihat bagaimana si istri begitu tenangnya menunjukkan gambar makam almarhum suaminya pada suaminya sekarang. Sianak yang sudah berumur 10 tahun juga terlihat biasa saja ketika mengatakan pada ayah tirinya, bahwa ia sedang berada di makam ayahnya. 

Aku termangu melihat moment itu.

Temanku bercerita bahwa anaknya itu sangat mirip bapaknya yang telah meninggal. Selain mirip wajah, si anak juga punya kemiripan yang lain dengan si ayah almarhum, yaitu hobi pada hal mekanik. Ayah tiri yang sekarang adalah seorang seniman, sehingga si ayah sekarang suka kelabakan untuk menjawab pertanyaan si anak yang melulu berkaitan dengan mekanik. Menurut Henny, mungkin inilah yang menjadi permasalahan bagi mereka yang mempunyai anak tiri. Terkadang karena perbedaan selera dan minat membuat orang tua tiri tidak bisa dekat dengan anaknya.

Pengalaman hari ini begitu berharga. Saya jadi mengetahui bahwa terkadang kita tidak bisa hanya bersandar pada cinta. Toh cinta itu bisa hilang seketika. Dalam cinta, ada hal realistis yang juga perlu difikirkan. Life must go on….





Berita tentang Ben:
 
(http://beritasore.com/2010/11/11/pantai-lhoknga-berbahaya-warga-as-tewas-tenggelam/) 

Perempuan Aceh Award, akankah berlanjut?



Tulisan ini mencoba melihat tentang gerakan perempuan di Aceh yang mencoba mengangkat harkat dan martabat perempuan-perempuan akar rumput yang telah berbuat banyak untuk masyarakat, tetapi miskin penghargaan. Kerja-kerja perempuan selama ini sering hanya dilihat di lingkungan domestic, sehingga kerja-kerja mereka yang lain, yang berkaitan dengan isu-isu public, terkadang sering diremehkan. Akibatnya, kerja-kerja mulia yang telah dilakukan oleh mereka ini sering tidak dianggap.

Gerakan Perempuan Aceh telah melakukan kerja-kerja yang tidak sedikit. Diantara kegiatan tersebut adalah pemberdayaan perempuan dibidang ekonomi dan politik. Namun ditulisan ini, tema yang akan diangkat adalah usaha membangkitkan kesadaran masyarakat lewat pemberian penghargaan bagi perempuan-perempuan dipedesaan atas pengabdian mereka pada kemanusiaan.

Aceh telah lama dikenal sebagai daerah yang mempunyai banyak pejuang perempuan. Selain Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan Malahayati yang sudah begitu mendunia namanya, Aceh masih mempunyai banyak pahlawan perempuan. Tercatat ada 18 perempuan berpengaruh dalam sejarah Aceh yang tercatat dari tahun 1353-1920. Dengan begitu banyaknya perempuan berkapasitas yang tercatat dalam sejarah Aceh, tidak heran jika hingga saat ini juga semangat para pejuang itu mengalir dalam darah perempuan Aceh. Hal ini ditambah lagi dengan konflik berkepanjangan yang terjadi di Aceh sehingga membentuk karakter perempuan Aceh menjadi begitu kuat.

Banyak sekali tulisan yang menuliskan tentang proses perdamaian di Aceh. Namun sedikit sekali yang menuliskan tentang peran perempuan sebagai agen perdamaian. Padahal, dalam salah satu perbincangan dengan seorang perempuan aktivis dikatakannya bahwa ketika konflik terjadi, perempuan menjadi salah satu actor yang menghentikan peperangan untuk sementara. Ketika terjadi baku tembak antara GAM dan TNI pada tahun 1990an, para ibu-ibu sedang menanam padi di sawah. Ibu-ibu tersebut berbagi peran untuk mendatangi mereka yang sedang bertikai. Mereka berkata “hentikan dulu perang kalian. Kami sedang menanam padi. Kalau kami tidak nanam, nanti anak-anak kami tidak bisa makan”. Maka perangpun berhenti untuk saat itu. Cerita yang lain datang dari seorang perempuan muda. Ketika konflik dia masih SMU. Disebelah sekolahnya terdapat pos TNI. Ketika sedang belajar didalam kelas, ia kerap mendengar erangan dan rintihan pemuda yang ditangkap karena dianggap GAM ataupun simpatisan GAM. Akibatnya, dia dan teman-temannya tidak konsentrasi belajar. Ia kemudian mendatangi pos TNI tersebut dan berkata kepada petugas yang dia kenal disana untuk tidak menyiksa tahanan ketika jam belajar mengajar, karena mengganggu konsetrasi mereka. Keesokan harinya, ia tidak lagi mendengar suara-suara erangan dan jeritan laki-laki dari pos TNI itu. Dua cerita diatas menunjukkan bagaimana pada masa konflik perempuan juga mempunyai daya negosiasi sehingga keinginan mereka tercapai. 

Kerja-kerja perempuan yang seperti cerita diatas jarang ditulis dan dihargai. Oleh karenanya gerakan perempuan Aceh mencoba menginisiasi kegiatan untuk memberikan penghargaan bagi perempuan-perempuan hebat yang ada di Aceh, sehingga kerja-kerja mereka bisa menginspirasi perempuan-perempuan lain. 

Yang akan saya fokuskan dalam tulisan ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh gerakan perempuan Aceh yang diberi nama Perempuan Aceh Award.  Ide membuat kegiatan Perempuan Aceh Award ini diinisiasi oleh beberapa perempuan Aceh. Ide ini datang ketika pemerintah Aceh memberikan penghargaan pada perempuan-perempuan yang terlibat dalam usaha membangun perdamaian di Aceh. Namun, kriteria siapa yang menerima penghargaan tersebut tidak jelas. Satu yang ditangkap oleh para aktivis perempuan Aceh bahwa penerima penghargaan tersebut bukan dari komunitas akar rumput. Para penerima penghargaan tersebut adalah mereka yang mempunyai akses pada ekonomi dan kekuasaan sehingga penghargaan tersebut bukan hal yang istimewa. Para aktivis perempuan Aceh lalu mencoba membuat kegiatan satire, memberikan penghargaan bukan untuk para aktivis perempuan, melainkan pada perempuan-perempuan yang berasal dari kalangan bawah yang tidak mempunyai finansial berlebih dan kekuasaan, tapi masih tetap konsisten untuk bekerja membantu sesama. 

Kegiatan pertama diadakan di salah satu cafee di Banda Aceh pada tanggal 8 Maret 2009 bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Saat itu kegiatan ini belum bernama Perempuan Aceh Award, lebih dikenal sebagai kegiatan Hari Perempuan Internasional. Kegiatan pemberian penghargaan yang berbentuk sertifikat ini dibagi dalam beberapa kategori seperti kategori pendidikan dan kesehatan.   Dana untuk pelaksanaan kegiatan tersebut didapat dari hasil patungan para aktivis perempuan. Dana tersebut kemudian diberikan sebagai hadiah bagi para pemenang masing-masing Rp. 500.000 dan sertifikat. 

Ketika acara pertama ini sukses, mulai muncul ide untuk menseriusi kegiatan ini dikalangan gerakan perempuan Aceh. Terlebih lagi, kegiatan ini adalah hasil mandat refleksi gerakan perempuan Aceh yang diadakan di Hotel Mekah. Beberapa aktivis perempuan dan aktivis laki-laki yang concern pada gerakan perempuan mulai membuat konsep acara Perempuan Aceh Award. Hasilnya adalah Pelaksanaan Perempuan Aceh Award tahun 2010.  Dana kegiatan ini berasal dari Oxfam yang terdapat di beberapa lembaga seperti  RPuK, ADF, KPI dan MaTa  dalam bentuk program bernama Raising Her Voice. Salah satu aktivitas yang dirancang dalam program itu adalah pemberian award itu. Oleh karena itu, PAA mulai resmi digunakan pada tahun 2010 dan dikenal sebagai PAA pertama. Kesan sartire yang tujuannya untuk menyindir pemerintah bahwa seharusnya reward ini diberikan oleh pemerintah, terasa di PAA ini. Pihak penyelenggara juga mengundang para pembuat kebijakan untuk datang di acara ini, karena menurut mereka kegiatan ini harusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam kewajibannya dalam pemenuhan hak masyarakat yaitu ‘to fulfill, to promote and to protect’. Gubernur masa itu, Irwandi Yusuf, beserta ketua DPRA, Hasbi Abdullah, ikut hadir di Sultan Selim, tempat pelaksanaan acara. 

PAA kedua dilaksanakan pada tahun 2012 yang didanai oleh pemerintah dan bantuan lembaga internasional, Logica. Acara ini juga dilaksanakan di Sultan Selim. Namun tidak ada pihak pemerintah dari eksekutif yang datang di acara ini, kecuali ketua DPRA Hasbi Abdullah. Saat itu, atas ‘desakan’ UNwomen dan Logica, eksekutif yang diwakili oleh ketua BP3A bersama dengan ketua DPRA saat itu menandatangani MoU bahwa kedepan pemerintah akan membantu pelaksanaan PAA selanjutnya.

PAA ketiga dilaksanakan pada tahun 2015. Namun pendanaan kali itu bukan dari dana pemerintah secare langsung, melainkan dari dana aspirasi salah seorang anggota dewan. Ketika itu gerakan perempuan Aceh sudah berusaha untuk mencari dana lain dari anggota dewan yang lain, namun saat itu dana aspirasi si anggota dewan ini telah diberikan untuk kegiatan yang lain, sehingga tidak ada dana tersisa untuk kegiatan PAA. 

Gerakan perempuan Aceh mempunyai andil yang sangat besar untuk membangkitkan semangat dan kegiatan perempuan-perempuan di Aceh. Namun sayangnya, seiring dengan semakin sedikitnya dana dan pekerja yang bersedia menyediakan waktunya untuk mengurus kegiatan ini, menyebabkan kegiatan ini, sepertinya, mati perlahan-lahan. Jika dilihat dari agenda dua tahunan, PAA harusnya sudah dilaksanakan pada tahun lalu. Meski masih banyak suara yang menginginkan acara ini dilaksanakan lagi, namun masih dibutuhkan, bukan saja semangat tapi juga bantuan dalam hal-hal lainnya agar kegiatan ini bisa terlaksana kembali.

Perempuan Aceh Award telah memberi semangat dan rasa dihargai bagi perempuan-perempuan yang telah mendapatkan penghargaan tersebut. Aceh memang membutuhkan perempuan-perempuan seperti ini, dan lewat penghargaan yang mereka dapatkan semakin membangkitkan rasa percaya diri mereka. Dan kepercayaan diri itu telah membuat mereka mengepakkan sayap mereka hingga dikenal, tidak saja oleh lingkungan di sekitar mereka, namun oleh nasional bahkan internasional. Misalnya, pemenang PAA pertama, Ummi Hanisah, mendapatkan bantuan dari satu lembaga Jepang untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan sosialnya. Pemenang PAA kedua,Asnaini, mendapat penghargaan Saparinah Sadli Award di Jakarta. Pemenang PAA ketiga, Badriah, mengikuti kegiatan kementrian Pemberdayaan Perempuan di Jakarta dan menjadi pembicara. Dari keberhasilan-keberhasilan ini terlihat bahwa PAA telah menghadirkan banyak perempuan potensial yang bisa membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan dan kebodohan dilingkungan mereka.  

Semoga saja, PAA tidak mati perlahan-lahan, namun malah semakin bertumbuh dan bisa menambah jumlah perempuan potensial di Aceh.